Konten dari Pengguna

Dari Sapu ke Hati: Belajar Iman dari Kebersihan Masjid

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alhik Maturridho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kadang, pelajaran iman tidak datang dari khutbah yang panjang atau buku-buku tafsir yang tebal. Kadang, ia datang dari hal yang sangat sederhana, seperti saat kita menggenggam pel, membasuh lantai masjid, dan mengelap rak masjid yang sudah berdebu.

Beberapa waktu lalu, saya dan kelompok saya mengikuti proyek MKWU Agama di kampus dengan tajuk “Bersih Masjid, Bersih Hati.” Sebuah kegiatan yang, jujur saja, awalnya saya pikir hanya akan menjadi tugas formalitas biasa: datang, bersih-bersih, ambil dokumentasi, lalu pulang.

Tapi ternyata, saya salah.

Rumah Allah, Cermin Diri

Kami memilih salah satu masjid kecil di sekitar kampus, yang selama ini mungkin sering dilewati mahasiswa, tapi jarang benar-benar diperhatikan atau bahkan disinggahi. Saat saya dan teman-teman melangkah masuk, saya cukup terheran. Karpetnya mulai berdebu, jendela agak kusam, dan ada sudut-sudut yang sepertinya sudah lama tak terjamah.

“Masjid adalah rumah Allah,” kata-kata yang sering saya dengar. Tapi saat melihat kondisi masjid ini, saya justru merasa sedang berkaca pada kondisi hati saya sendiri, berdebu, kusam, dan mungkin jarang ‘dibersihkan’.

Saat kami mulai membersihkan, saya tidak hanya merasa sedang mengelap kaca jendela atau menyapu lantai. Rasanya seperti sedang membersihkan diri sendiri. Pada awalnya terasa berat tetapi lambat-laun menjadi sebuah pekerjaan yang menenangkan hati.

Pelajaran dari Aktivitas Sederhana

Saya mendapat tugas menyapu bagian luar masjid, membersihkan plafon, dan membersihkan tempat berwudhu. Aktivitas itu begitu sederhana, berhubungan dengan air, sabun, pel. Tapi dalam kesederhanaannya, justru saya menemukan ketenangan.

Ada rasa damai yang sulit dijelaskan saat kita melakukan sesuatu yang berguna untuk sesama, terlebih lagi untuk rumah ibadah. Mungkin beginilah rasa ikhlas itu: melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, tanpa berharap pujian.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika saya melihat beberapa anak seumuran adik saya, sekitar 7–12 tahun itu ikut membantu kami. Mereka tidak banyak bicara, tapi aksi yang membuktikan. Datang seolah mereka menggangap masjid merupakan rumah mereka sendiri, tanpa aba-aba, tidak ada rasa segan ikut berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih ini.

Kebersihan adalah Bagian dari Iman

Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Tapi baru kali ini saya benar-benar merasakannya secara harfiah.

Menjaga kebersihan rumah ibadah bukan hanya soal estetika, tapi juga tentang spiritualitas. Ketika tempat ibadah bersih dan nyaman, maka orang-orang yang datang untuk beribadah pun lebih tenang. Dan ketika kita yang membersihkannya, rasanya seperti sedang menyiapkan tempat pertemuan antara manusia dan Tuhannya.

Refleksi Diri

Kegiatan ini membuat saya sadar bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada salat, puasa, atau mengaji. Membersihkan masjid, walau tidak terlihat begitu “wah,” ternyata bisa menjadi bentuk ibadah yang sangat mulia.

Saya juga belajar tentang pentingnya kolaborasi. Setiap dari kami punya tugas masing-masing: ada yang menyapu halaman, ada yang membersihkan tempat wudhu, ada yang melipat mukena, dan sebagainya. Dalam kebersamaan itu, saya merasa bahwa Islam memang agama yang mendorong kerja sama, bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam kebaikan sosial.

Yang paling menyentuh, mungkin, adalah ketika kami selesai dan melihat hasilnya: masjid itu kini bersih, rapi, dan terasa lebih hidup. Saya berdiri sejenak di dalamnya dan berkata dalam hati, “Kalau semua orang begini, tanpa memandang status sosial, apakah Rumah Allah ini akan ramai dan nyaman seperti ini?” Ada sesuatu yang timbul dalam dalam dada, entah karena bangga, bahagia, atau mungkin keduanya.

Saya juga teringat pada sebuah petatah petitih Minang: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Sebuah prinsip luhur yang mengajarkan bahwa adat dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan, tapi justru saling menguatkan. Membersihkan masjid adalah bentuk nyata bagaimana nilai adat dan syariat berjalan beriringan, menjaga kebersihan bukan hanya karena norma sosial, tapi juga karena iman.

Penutup

Sepulang dari kegiatan itu, memang tubuh terasa lelah dan pakaian yang sedikit kotor. Tetapi ada hal berharga yang saya bawa pulang, yaitu kesadaran.

Kesadaran bahwa iman bisa tumbuh lewat hal kecil. Bahwa kepedulian terhadap rumah ibadah mencerminkan kepedulian terhadap nilai-nilai agama itu sendiri. Dan bahwa kita semua punya tanggung jawab, sekecil apa pun, untuk menjaga tempat yang menjadi titik temu manusia dengan Tuhannya.

Mungkin saya bukan orang paling religius. Tapi saya tahu, selama saya masih mau menyapu debu dari lantai masjid, setidaknya saya sedang mencoba membersihkan hati saya sendiri.