Program Climate Innovation Acceleration by Ecoxyztem sebagai Katalisator
Tulisan dari Alhik Maturridho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengembangkan Youth Ecopreneur untuk Mendukung SDGs 8 dan 13
Perubahan iklim dan tantangan ekonomi menjadi dua persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda. Di tengah perkembangan ekonomi hijau (green economy), anak muda memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan melalui bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan.
Salah satu bentuknya adalah youth ecopreneur, yaitu generasi muda yang terlibat dalam dunia kewirausahaan dengan menghadirkan solusi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mereka tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari bisnis yang dikembangkan.
Konsep ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim.
Potensi Besar Youth Ecopreneur
Generasi muda memiliki kreativitas dan kemampuan untuk melahirkan berbagai gagasan baru dalam menjawab persoalan lingkungan. Mulai dari pengelolaan sampah, energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, hingga teknologi yang dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
Namun, memiliki ide saja belum cukup. Banyak calon youth ecopreneur masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendanaan, pendampingan, jaringan, maupun pasar. Kondisi tersebut dapat membuat ide yang sebenarnya memiliki potensi berhenti pada tahap konsep dan tidak berkembang menjadi sebuah bisnis nyata.
Karena itu, ekosistem yang mampu mempertemukan anak muda dengan mentor, investor, industri, dan berbagai sumber daya menjadi penting. Dukungan tersebut dapat membantu mereka mengembangkan ide sekaligus memahami bagaimana sebuah solusi lingkungan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Ecoxyztem dan Pengembangan Climate-Tech
Salah satu inisiatif yang berfokus pada pengembangan bisnis berbasis lingkungan dan teknologi iklim adalah Ecoxyztem. Sebagai venture builder, Ecoxyztem membantu early-stage startup dan youth ecopreneur di bidang lingkungan dan climate tech untuk mengembangkan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan.
Dalam menjalankan misinya, Ecoxyztem memiliki sejumlah program, seperti X-Seed, XYZ Campus, XYZ Factor, Langkah Membumi Festival, dan Climate Innovation Acceleration (CIA).
Di antara berbagai program tersebut, CIA menjadi salah satu upaya untuk mendorong perkembangan inovasi dan kewirausahaan di bidang teknologi iklim.
Climate Innovation Acceleration
Climate Innovation Acceleration merupakan program akselerasi bagi early-stage startup teknologi iklim sekaligus pengembangan inovasi di tingkat universitas. Para peserta ditantang untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan dan menghasilkan solusi berbasis teknologi yang dapat dikembangkan menjadi model bisnis.
Program ini berlangsung selama enam bulan dengan rangkaian kegiatan seperti pembelajaran digital melalui platform X-Seed, mentoring, persiapan pitching, demo day, impact showcase, hingga networking.
Selain mendapatkan pendampingan, peserta juga memperoleh kesempatan untuk mengakses berbagai dukungan dalam mengembangkan bisnis. Di antaranya adalah jaringan ahli, peluang kolaborasi dengan industri, sertifikat kelulusan, serta kesempatan mendapatkan hibah atau pendanaan awal dengan total nilai Rp550 juta dan peluang investasi hingga Rp2,25 miliar, sesuai dengan skema program.
Melalui rangkaian tersebut, peserta tidak hanya didorong untuk menghasilkan ide, tetapi juga menguji dan mengembangkan ide tersebut agar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Menjaring Anak Muda di Berbagai Kota
Program CIA diawali dengan kegiatan roadshow di sejumlah universitas yang tersebar di tujuh kota besar Indonesia, yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar.
Berdasarkan data yang dicantumkan dalam program tersebut, kegiatan roadshow berhasil menjaring lebih dari 3.000 partisipan, dengan 105 early-stage startup dan 77 student-level startup.
Selanjutnya, pendampingan dan akses pasar diberikan kepada 15 early-stage startup dan 5 student-level startup terpilih untuk membantu mereka mengembangkan model bisnis.
Keterlibatan mahasiswa dan startup dalam program seperti ini menunjukkan bahwa aksi terhadap perubahan iklim tidak hanya dapat dilakukan melalui kampanye atau gerakan sosial, tetapi juga melalui inovasi dan kewirausahaan.
Menghubungkan Kewirausahaan dengan SDGs
Pengembangan youth ecopreneur memiliki kaitan erat dengan pencapaian SDGs, terutama SDG 8 dan SDG 13.
Pada SDG 8, pengembangan bisnis berbasis lingkungan dapat membuka peluang ekonomi sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan yang berkaitan dengan ekonomi hijau. Ketika sebuah startup berhasil berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja, kolaborator, dan berbagai layanan pendukung juga dapat meningkat.
Sementara itu, SDG 13 menekankan pentingnya tindakan terhadap perubahan iklim. Bisnis yang mengembangkan teknologi dan solusi untuk mengurangi dampak lingkungan dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim.
Dalam konteks tersebut, program seperti CIA dapat berperan sebagai penghubung antara ide, inovasi, dan implementasi. Anak muda tidak hanya diajak memahami persoalan lingkungan, tetapi juga diberikan ruang untuk mengembangkan solusi tersebut menjadi sebuah model bisnis.
Dari Ide Menjadi Dampak
Tantangan lingkungan membutuhkan solusi yang tidak berhenti pada wacana. Diperlukan inovasi yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberikan dampak dalam jangka panjang.
Di sinilah peran youth ecopreneur menjadi penting. Dengan kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan dukungan ekosistem yang tepat, ide-ide anak muda dapat berkembang menjadi bisnis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjawab persoalan lingkungan.
Program Climate Innovation Acceleration menjadi salah satu contoh bagaimana edukasi, mentoring, pendanaan, jejaring, dan akses pasar dapat dipadukan untuk membantu generasi muda mengembangkan solusi berbasis climate-tech.
Pada akhirnya, pencapaian SDGs bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu. Generasi muda juga memiliki ruang untuk mengambil peran melalui inovasi dan kewirausahaan.
Ketika ide tentang lingkungan dikembangkan menjadi bisnis yang berkelanjutan, anak muda tidak hanya menciptakan peluang ekonomi, tetapi juga dapat ikut membangun masa depan yang lebih ramah lingkungan.

