Dari Perlawanan ke Obsesi: Kegagalan Send Help (2026) Membaca Luka Perempuan

An ordinary girl who willing to learn more. Sedang belajar di Program Studi Kajian Gender Universitas Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Alifia Putri Yudanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai penikmat horor kelas karbit yang sangat pemilih, tak banyak film yang dapat saya tonton. Namun, jika ingin benar-benar ditonton, saya akan berusaha mati-matian mengesampingkan rasa takut tersebut. Begitu pula terhadap Send Help (2026) yang banyak orang bilang apik. Terlebih, ia adalah film terbaru Sam Raimi setelah hampir empat tahun hiatus menjadi sutradara.
Dikenal lewat karya-karya seperti Spider-Man, Evil Dead, dan Drag Me to Hell, Raimi kini membawa premis horor yang terasa lebih membumi. Secara garis besar, Send Help menceritakan peliknya permasalahan yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Sebagai pekerja yang gigih, Linda (Rachel McAdams) dicurangi sekaligus didiskriminasi oleh perusahaan dan atasannya, Bradley (Dylan O’Brien).
Situasi berubah drastis ketika kecelakaan jet pribadi—yang mengantarkan mereka pada trip bisnis—membuat keduanya terdampar di pulau terpencil. Terpaksa bekerja sama demi bertahan hidup, relasi kuasa yang sebelumnya timpang mulai bergeser—meski mungkin, bagi Bradley, itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.
Diskriminasi yang Dihadapi Linda
Ketika mendengar premis film ini, saya langsung tertarik. Terjebak di pulau terpencil bersama atasan yang menyebalkan adalah sesuatu yang sulit dibayangkan—jangankan di pulau terpencil, berada satu ruangan dengannya saja sudah menyesakkan. Namun, berbeda dengan Linda, yang digambarkan memiliki kesabaran seluas samudra.
Sejak awal, Linda hadir sebagai representasi pekerja yang “ideal”. Sosoknya, tidak selalu tampil rapi karena tuntutan kerja, namun tetap sigap dan penuh dedikasi. Bahkan di momen paling sederhana—seperti saat makan—ia rela menghentikan aktivitasnya demi menyelamatkan Bradley, CEO baru sekaligus orang yang akan menentukan masa depannya di perusahaan. Sebab, ia dijanjikan posisi wakil CEO berkat kontribusinya selama 7 tahun.
Namun, keputusan Bradley justru berkata lain. Alih-alih memilih Linda yang berpengalaman, ia mengangkat teman dekatnya semasa kuliah—meski ia baru bekerja beberapa bulan. Praktik yang nyaris menyerupai nepotisme ini menunjukkan bahwa kompetensi bukanlah faktor utama dalam menentukan posisi strategis. Linda, tentu saja, kecewa. Tapi seperti banyak pekerja lainnya, kemarahan itu hanya ia lampiaskan melalui teriakan dalam mobil yang sunyi.
Ironisnya, bahkan ketika Linda tetap berusaha bekerja sebaik mungkin, ia masih menjadi sasaran diskriminasi dan olok-olok. Kecintaannya pada dunia petualangan—yang ia tuangkan melalui video-video survival—justru dijadikan bahan ejekan oleh Bradley dan rekan kerja laki-laki lainnya. Apa yang seharusnya menjadi nilai tambah, berubah menjadi alat untuk merendahkannya.
Apa yang dialami Linda bukanlah sesuatu yang asing. Dalam banyak kasus, perempuan memang telah diberi akses yang sama ke dunia kerja, namun tidak dengan posisi kuasa di dalamnya. Jabatan strategis masih kerap didominasi laki-laki, sementara perempuan dibiarkan menggantung pada janji-janji yang tak pernah benar-benar ditepati.
Parahnya lagi, sosok seperti Linda kerap tidak sepenuhnya menyadari bahwa dirinya sedang dieksploitasi. Ia terus bekerja, terus melayani, seolah semua ketidakadilan itu adalah bagian yang harus ditelan demi peluang yang dijanjikan. Harapan bahwa kerja kerasnya suatu hari akan terbayar membuatnya bertahan, meski berkali-kali dikecewakan.
Namun kenyataannya, patriarki dan kapitalisme berjalan beriringan—dan Bradley adalah wujud nyata dalam film ini dari keduanya. Berlaku diskriminatif terhadap sosok perempuan, sekaligus lihai memanfaatkan kerentanan mereka demi keuntungan perusahaan.
Sebenarnya, Kemarahan Linda adalah Segalanya!
“I’m your bos. You work for me.”
“But we’re not in the office anymore, Bradley.”
Titik balik relasi Linda dan Bradley terjadi ketika keduanya terdampar di pulau terpencil. Di ruang yang sepenuhnya lepas dari struktur kantor, relasi kuasa yang sebelumnya timpang mulai runtuh. Tanpa pengetahuan dan kemampuan bertahan hidup, Bradley pada dasarnya bukan siapa-siapa. Ia bergantung penuh pada Linda—sosok yang sebelumnya ia remehkan bahkan enggan mengenalnya.
Dalam situasi ini, Linda dengan cepat mengambil alih kendali. Ia tak lagi tunduk, bahkan berani meninggalkan Bradley ketika lelaki itu bersikap angkuh dan mencoba terlihat mampu. Untuk pertama kalinya, kemarahan Linda termanifestasi dalam tindakan nyata sesaat. Hingga pada satu titik, Bradley dipaksa untuk memohon. Dan Linda, meski sempat mengabaikannya, tetap memilih untuk kembali menolong.
Namun di sinilah film mulai melemah. Kemarahan Linda yang telah dibangun perlahan justru direduksi. Seiring waktu, interaksi yang semakin intens—percakapan panjang, pengakuan personal, hingga momen-momen yang terasa intim—membuat Linda tampak melunak. Dalam proses itu, kemarahan Linda ikut terkikis, digantikan oleh empati yang perlahan tumbuh. Ia mulai melihat Bradley sebagai manusia yang rapuh, bukan lagi sekadar sosok yang menindasnya.
Padahal, ironi tetap menghantui. Bahwa, Bradley sempat berusaha meracuni Linda dan meninggalkannya. Namun, bahkan fakta itu tak cukup untuk mempertahankan kemarahan Linda tetap utuh. Justru, kewarasan Linda yang digambarkan perlahan menghilang dan digantikan dengan obsesi untuk hidup berdua dan memiliki kuasa.
Simplifikasi yang Mengkhianati Kompleksitas
Elemen yang tak saya suka berada di akhir film, Linda ditampilkan seolah terobsesi hidup bersama Bradley. Saya memahami, pulau terpencil itu bagaikan dunia utopis yang selama ini Linda idamkan. Didengar, diakui, dan dianggap penting.
Dan mungkin, itulah yang membuatnya goyah. Maka, ketika bantuan benar-benar datang—melalui Zuri, tunangan Bradley—reaksi Linda terasa ganjil sekaligus masuk akal. Alih-alih lega, ia justru ragu untuk diselamatkan. Ia memilih bertahan di pulau itu, bersama satu-satunya orang—yang dalam kondisi paling rapuhnya—akhirnya mengakui bahwa tanpa Linda, ia bukanlah siapa-siapa.
“And then you and me, we were alone again. It was… perfect.
Just me and my new Sweetie.”
Di titik ini, Linda justru digambarkan sebagai perempuan “gila” yang meledak saat pujaan hatinya berkhianat. Pertanyaannya, untuk apa sejak awal film repot-repot membangun Linda sebagai sosok yang baik hati, sabar, dan penuh daya tahan, jika pada akhirnya ia direduksi menjadi karakter yang tak stabil?
Akibatnya, konflik yang semula berpotensi berkembang menjadi bentuk perlawanan pun kehilangan daya gigitnya. Kehadiran rasa “suka” terasa tidak organik—seolah lahir dari stereotip lama bahwa perempuan pada akhirnya akan luluh juga dengan afeksi yang diberikan lawan jenis. Meski sang penulis naskah, Damian Shannon dan Mark Swift, tidak sepenuhnya mewujudkan keinginan Linda untuk tetap bersama Bradley, keputusan naratif yang diambil tetap terasa tanggung.
Penutup film pun tidak memberi kelegaan. Linda memang menghabisi Bradley dan kemudian hidup dalam limpahan harta, tetapi akhir seperti ini justru mereduksi perjalanan yang telah ia lalui. Sebab, pemberdayaan yang dibutuhkan Linda tidak berhenti pada materi atau atensi. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar; untuk diakui dan dihargai sebagai individu yang utuh.
Bukan dielukan ketika ia berada di atas awan, seolah hanya menggantikan posisi Bradley semata.
