Digitalisasi UMKM Kulit Lestarie: Dari Pesanan ke Pasaran

Merupakan seorang mahasiswi program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Aliya Putri Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era ketika teknologi digital sudah merambah hampir semua aspek kehidupan, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara lama dalam berjualan. Digitalisasi UMKM yakni pemanfaatan platform daring seperti marketplace, media sosial, dan sistem pembayaran digital menjadi salah satu kunci untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing. Tanpa langkah ini, banyak produk lokal berpotensi hanya dikenal lingkup kecil, padahal kualitasnya mampu bersaing di luar daerah.
Berangkat dari kesadaran inilah, Kelompok KKN 092 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta periode 2025 menjalankan program Digitalisasi UMKM di Dukuh Trayu, Ngargosari, Samigaluh, Kulon Progo. Tujuannya sederhana: membantu pelaku usaha lokal mengenal dan mencoba cara baru dalam memasarkan produk. Salah satu UMKM yang menjadi fokus pendampingan adalah UMKM Kulit Lestarie milik ibu Lestari, yang memproduksi kerajinan kulit sapi serta olahan kolang-kaling.
Dari Facebook ke Marketplace
Sebelum adanya program KKN, ibu Lestari sudah mencoba menjual produknya dengan dua cara: promosi dari mulut ke mulut dan unggahan sederhana di Facebook. Namun, jangkauannya terbatas, umumnya hanya di sekitar lingkaran pertemanan. Produksi pun dilakukan dengan sistem dibuat berdasarkan pesanan (made to order), sehingga stok barang jarang tersedia.
Padahal, produk yang dihasilkan UMKM Kulit Lestarie cukup beragam dan punya keunikan. Dari sisi kerajinan kulit, ibu Lestari menghasilkan sabuk, dompet, hingga tas dengan bahan kulit sapi berkualitas. Sementara itu, dari lini olahan pangan, ia menawarkan kolang-kaling original serta kolang-kaling rasa mangga yang jarang ditemukan di pasaran.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Reguler 092 mengajak ibu Lestari mencoba langkah baru yakni dengan memanfaatkan marketplace populer yang bisa diakses lebih luas daripada Facebook.
Menggagas Perubahan Digital
Tahap digitalisasi dimulai dengan pembuatan akun Shopee sebagai kanal e-commerce utama. Mahasiswa membantu menyiapkan profil toko, mengunggah produk, sekaligus mengatur kategori agar mudah ditemukan calon pembeli.
Selain itu, tim juga mendampingi ibu Lestari dalam membuat QRIS. Kehadiran QRIS tidak hanya mempermudah transaksi digital, tetapi juga memberi kesan lebih profesional bagi usaha kecil seperti UMKM Kulit Lestarie.
Langkah berikutnya adalah memperkuat identitas visual. Mahasiswa merancang logo baru yang sederhana namun modern, sehingga brand UMKM Kulit Lestarie terlihat lebih menarik dan mudah dikenali. Logo ini kemudian diaplikasikan ke materi promosi dan kemasan.
Tidak berhenti di situ, dilakukan juga sesi pemotretan ulang produk. Dengan pencahayaan yang lebih baik dan sudut foto yang tepat, tampilan sabuk, dompet, tas, hingga kolang-kaling menjadi jauh lebih menarik ketika dipajang secara daring. Beberapa kemasan juga ditingkatkan agar tampak lebih rapi dan siap bersaing di pasaran.
Semua langkah ini bukan hanya soal estetika, melainkan strategi agar UMKM Kulit Lestarie dapat lebih percaya diri masuk ke pasar digital.
Penutup
Digitalisasi yang dijalankan bersama Kelompok KKN 092 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta periode 2025 hanyalah langkah awal dari perjalanan panjang UMKM Kulit Lestarie. Upaya sederhana seperti pembuatan akun e-commerce, penggunaan QRIS, perbaikan logo, hingga foto produk baru telah membuka pintu menuju pasar yang lebih luas.
Meski begitu, keberlanjutan menjadi tantangan utama. Konsistensi dalam mengelola akun marketplace, menjaga kualitas produk, serta memperbarui strategi promosi digital perlu terus diperkuat.
Harapannya, UMKM Kulit Lestarie tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai contoh nyata bahwa usaha kecil di desa mampu menembus pasar digital. Dengan dukungan komunitas dan teknologi, produk lokal seperti kerajinan kulit dan kolang-kaling bisa memiliki daya saing sekaligus menjaga identitas budaya setempat.
