Seutas Kisah Anak Perantauan yang Menjadi Wartawan

halo, terima kasih sudah mampir. semoga tulisan saya bermanfaat!
Konten dari Pengguna
27 Juni 2022 17:15
·
waktu baca 9 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Aliyya Bunga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto bersama saat kelulusan Uji Kompetensi Wartawan kumparan, Minggu (26/6). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama saat kelulusan Uji Kompetensi Wartawan kumparan, Minggu (26/6). Foto: Istimewa
ADVERTISEMENT
Sengaja aku cantumkan kalimat itu dalam hyperlink, sebab jika kamu klik link itu, kamu bisa langsung baca kisah awal mulaku bergabung di kumparan, salah satu media online terbesar di Indonesia – tempatku bekerja saat ini.
ADVERTISEMENT
Aku enggak akan mengulang cerita yang sama, tapi aku akan menceritakan bagaimana si anak perantauan tanpa pengalaman ini akhirnya bisa jadi wartawan sesungguhnya. Kenapa aku bilang wartawan ‘sesungguhnya’? Karena berkat departemen baruku, aku benar-benar memahami dan mempelajari makna ‘sesungguhnya’ dari profesi seorang wartawan.

Sempat Berkecimpung di Dunia Editorial Berita

Selama kurang lebih sembilan bulan aku berada di departemen editorial berita daerah sekaligus opini dan cerita pembaca. Nama departemen itu adalah Kolaborasi. Di Kolaborasi, aku dididik cukup keras oleh atasanku – mulai dari ketelitian (aku harus teliti mana tulisan yang ada dobel spasi dan sesuai enggaknya sama KBBI) hingga dididik agar mentalnya kuat seperti para wartawan kebanyakan.
Sejujurnya, aku kurang menyukai pekerjaanku kala itu. Menurutku, pekerjaan editing itu membosankan dan ritme kerjanya cenderung stagnan – sesuatu yang aku enggak betah lakukan. Aku harus standby setiap jamnya dan moderasi tulisan-tulisan pembaca kumparan yang beberapa dari mereka hanya mengirimkan tulisan demi nilai saja – tanpa mempedulikan kualitas dari tulisan tersebut.
ADVERTISEMENT
Selama 9 bulan, ibaratnya aku berada dalam kandungan. Stagnan, tertekan, nggak bisa berbuat apa-apa. Kenapa aku bilang nggak bisa berbuat apa-apa? Karena aku merasa potensi yang aku miliki enggak bermanfaat di bidang itu. Kemampuan bahasa, pola pikir, serta hobiku enggak tersalurkan dengan baik. Aku sering merasa jenuh dan seperti enggak berguna, lantaran gelar sarjana Hubungan Internasional dari salah satu universitas di Rusia ini enggak nyambung dengan pekerjaanku kala itu.
Singkat cerita, sepertinya Tuhan juga kasihan melihatku seperti itu terus. Suatu hari di bulan Maret, sebuah jalan baru muncul di depan mataku. Hidupku pun berubah. Dari momen ketika enggak terjadi apa-apa, semua pun langsung terjadi di saat bersamaan.

Halo, Dubes!

Bulan Maret adalah bulan kedua sejak Rusia memulai serangan militernya ke Ukraina. Mungkin kurang beruntung bagi warga Ukraina, tapi buatku ini rasanya seperti ketiban durian emas. Di saat Rusia dan Ukraina berperang, di situlah aku mulai gemilang.
ADVERTISEMENT
Di sini adalah momen titik balik dalam hidupku. Kemampuan bahasa Rusiaku akhirnya dilirik oleh pimpinan kumparan dan aku dipercayakan untuk mewawancarai Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, dalam bahasa Rusia!
Itu adalah momen perdanaku bisa berinteraksi langsung dengan dubes dari luar negeri dan enggak tanggung-tanggung, momen pertama kalinya mewawancarai tokoh penting. Tapi hidup memang lucu, video wawancara amatirku itu ditonton ratusan ribu orang di Youtube dan Bu Dubes memuji kemampuan bahasaku.
“Вы хорошо говорите по-русски! (Kamu bagus ngomong bahasa Rusianya!)” ucap Bu Dubes di akhir wawancara.
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
Di situ aku hanya bisa cengengesan, karakter wartawanku sempat lepas saking bahagianya (dan itu tersorot kamera). Hari itu tanggal 13 Maret 2022, hari yang enggak akan pernah aku lupakan. Di hari itu juga, aku untuk pertama kalinya berbicara layaknya seorang host profesional (padahal tentunya masih amatir) di depan orang banyak, di depan kamera. Meskipun harus mengulang take opening & closing berkali-kali, tapi hasilnya memuaskan. Di akhir syuting, orang-orang di depanku yang bikin gugup itu tepuk tangan.
ADVERTISEMENT
Sejak hari itu, hidupku berubah. Nama Aliyya Bunga muncul di sesi interview eksklusif dubes kumparan lainnya. Deretan tokoh penting aku temui; mulai dari Dubes Ukraina, Dubes Uni Eropa, Dubes Palestina, Juru Bicara Sekjen PBB, Asisten Sekjen NATO… dan sekarang ini aku berharap bisa mewawancarai Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, di Foreign Ministers Meeting mendatang. Mungkin selanjutnya Vladimir Putin? Siapa yang tahu soal rencana Tuhan?
Berkat pengalaman menjadi seorang host, aku belajar bagaimana harus siap sedia apabila ditugaskan untuk wawancara mendadak. Sekadar informasi, aku diberitahu soal wawancara Rusia itu H-3! Bayangkan bagaimana paniknya. Kemudian yang Ukraina, H-1. Begitu terus selanjutnya. Dan aku harus selalu siap.
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
Selain itu, aku belajar bagaimana rasanya mewakili suatu instansi di depan umum. Aku selalu ingin jadi diplomat sejak kecil, dan berkat menjadi jurnalis dan bertemu dubes-dubes penting inilah, aku belajar sedikit-sedikit bagaimana rasanya menjadi ‘diplomat amatir’ sekaligus.
ADVERTISEMENT
Profesi utamaku sebenarnya bukan host, melainkan seorang reporter alias wartawan. Dan ketika sudah tidak ada panggilan wawancara, tugasku kembali sebagai reporter sebenarnya – menulis berita dan terjun ke lapangan.
Di departemen Kolaborasi, aku enggak pernah menulis dan meliput berita secara langsung ataupun menghubungi narasumber. Dan di departemenku sekarang – kumparanNEWS di bidang berita internasional – aku merasakan bagaimana menjadi seorang wartawan sesungguhnya. Seperti penjelasan di atas, aku melansir berita-berita dari media outlet asing. Ada rasa bangga sedikit setiap kali aku melihat namaku muncul sebagai ‘reporter’ atau ‘writer’ di suatu karya berita yang aku buat.
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tangkapan layar dokumentasi wawancara. Foto: Istimewa
Selain itu, aku juga liputan ke berbagai tempat dan menerima undangan pers dari Kemlu juga berbagai Kedutaan di Indonesia. Aku bertemu dengan Dubes Iran (liputan pertamaku), Dubes Inggris, Amerika, Liberia, dll. Lewat liputan, aku juga memperluas jaringan – keluar dari zona nyaman. Mulai dari plonga-plongo enggak kenal siapa-siapa saat liputan, takut menghubungi narasumber – jadi bikin teman dari media lain dan akrab sama perwakilan bahkan dengan dubesnya langsung.
ADVERTISEMENT
Aku akui, kemampuan menulisku masih jauh dibandingkan orang-orang yang sudah terbiasa menulis. Kemampuan wawancara atau insting jurnalistik yang aku punya juga masih belum ada apa-apanya. Namun setiap harinya aku belajar hal baru. Dan hal baiknya adalah, aku bisa melihat berita-berita lama yang kutulis dan kujadikan sebagai perbandingan. Aku bisa bandingkan bagaimana saat aku wawancara tokoh penting pertama kali dengan aku yang sudah mulai terbiasa di depan kamera.
Aku merasa di lingkup baru ini, kemampuan dan potensiku lebih terasah. Kemampuan bahasa Inggris dan Rusia yang aku miliki akhirnya bisa aku gunakan. Meskipun pekerjaannya lebih menantang dibandingkan saat di Kolaborasi, tapi aku suka. Lingkungan yang dinamis dan positif ini bikin aku tumbuh.
Foto bersama saat liputan bersama Dubes Usra Harahap dan Dubes Liberia. Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama saat liputan bersama Dubes Usra Harahap dan Dubes Liberia. Foto: Istimewa.
Kalau kamu sudah baca ceritaku sebelumnya, aku tipe orang yang dipaksa harus terus beradaptasi di dunia ini – dan sifat cepat beradaptasi itu akhirnya aku miliki. Mulai dari tinggal di Medan, Bandung, Rusia, Jakarta – semuanya aku arungi. Meskipun sulit, tapi aku paham bahwa ini memang harus dijalani, supaya aku bisa terus tumbuh dan enggak hanya diam di tempat.
ADVERTISEMENT
Termasuk saat ini, aku si anak perantauan tanpa pengalaman dan jadi wartawan ini harus menghadapi Uji Kompetensi Wartawan besok. Sejujurnya aku agak khawatir – apakah aku cukup untuk benar-benar menyabet gelar ‘wartawan’? Tapi, siapa yang tahu soal rencana Tuhan, bukan?

Resmi Menjadi Wartawan Bersertifikat

Hari pertama Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh London School of Public Relations (LSPR) tiba pada Sabtu, 25 Juni 2022. Ujian ini dilangsungkan selama dua hari berturut-turut di kantor kumparan. Agak sedih memang, ketika waktu libur semuanya terpakai dan baru bisa libur lagi enam hari kemudian. Tapi harus dijalani.
Pembukaan UKW dimulai dengan sambutan dari Pemimpin Redaksi MNC News, Jamalul Insan. Dalam sambutannya, ada beberapa hal terkait etika jurnalis profesional yang bikin aku merasa memang profesi ini memiliki tanggung jawab yang bukan main-main dampaknya pada masyarakat.
ADVERTISEMENT
“Kerja jurnalistik = kerja kebenaran, kerja intelektual,” kata Jamalul Insan.
Ketika hasil karya jurnalistik kita muncul di publik, di saat yang sama kita juga memberikan edukasi dan informasi kepada setiap pembacanya. Pembaca-pembaca karya kita pun beraneka ragam karakter dan usianya. Penting untuk kita sebagai penulis berita dan reporter untuk menyampaikan informasi yang memang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Karena itulah tugas kita sebagai jurnalis, wajib memberikan informasi yang dibutuhkan publik. Kita, mengabdi untuk publik.
Foto bersama saat kelulusan Uji Kompetensi Wartawan kumparan, Minggu (26/6). Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama saat kelulusan Uji Kompetensi Wartawan kumparan, Minggu (26/6). Foto: Istimewa
Selain itu, ada juga penyampaian materi dari Dr. Artini. Ia merupakan seorang dosen senior di LSPR dan Pokja Pendidikan Dewan Pers. Dalam materinya, Artini menyampaikan suatu topik yang membuat saya berpikir untuk lebih kritis terhadap apa yang saya tulis dalam berita – Jurnalisme Anak. Belum pernah dengar, kan?
ADVERTISEMENT
Ternyata, penting untuk memastikan karya-karya berita kita itu aman untuk anak. Aman untuk dibaca, sekaligus aman untuk keselamatan anak. Kenapa keselamata anak? Berkat Artini, saya memahami bahwa ada hal-hal kecil namun krusial yang dapat membahayakan seorang anak, apalagi anak korban kekerasan seksual.
Ketika identitas anak korban kekerasan seksual dicantumkan di dalam berita, besar kemungkinan para calon pelaku selanjutnya dapat memanfaatkan informasi tersebut. Sehingga kejadian serupa bisa terjadi, bahkan kepada anak yang sama. Dengan pelaku yang sama.
Begitu pula dengan berita yang dibaca oleh anak. Bayangkan seorang anak di bawah 18 tahun membaca berita terkait pemerkosaan atau pembunuhan, lalu di dalam berita itu tercantum kronologi bagaimana pemerkosaan itu terjadi. Bukankah itu bisa membuat sang anak khawatir? Atau lebih parah lagi, bisa menginspirasi dia untuk melakukan hal yang sama di masa depan?
ADVERTISEMENT
Setelah dibuat mind-blowed, sesi ujian pun berlangsung. Ada 10 aspek yang dinilai dalam UKW, mulai dari mengusulkan ide liputan, menulis berita, membangun jaringan, wawancara tatap muka, menyunting berita, simulasi konferensi pers, simulasi rapat redaksi, dll. 3 aspek diselesaikan di hari pertama, 7 lainnya dikebut dalam satu hari esoknya.
Aku enggak akan menceritakan satu per satu bagaimana ujian tersebut berlangsung. Namun ada dua aspek yang paling berkesan untukku. Yang pertama adalah soal membangun jaringan.
Di sesi ini, aku perlu memilih dua orang dari 20 narasumber untuk dihubungi. Sekadar untuk menanyakan kabar dan menanyakan isu terkini saja. Aku memilih untuk menghubungi Atase Pers Kedutaan Besar Rusia dan Duta Besar Ukraina untuk Indonesia. Dan aku sangat kaget, belum ada dering kedua, panggilanku langsung diangkat oleh keduanya!
ADVERTISEMENT
Di sesi ini, aku merasa bahwa aku sudah berhasil membangun jaringan dan koneksi yang baik dengan keduanya. Tugasku ke depannya adalah memastikan bahwa hubungan itu tetap baik, entah itu nantinya aku sebagai jurnalis atau diplomat.
Aspek selanjutnya adalah saat wawancara tatap muka. Ada satu bagian di mana aku merasa terpukul. Seperti yang sudah diceritakan di atas, aku adalah seorang host panggilan. Dan tugasku tentunya adalah mewawancarai narasumber. Namun, siapa yang tahu akan kehendak Tuhan bahwa dari semua aspek penilaian, nilai wawancara tatap muka jadi nilai terendahku?
Foto bersama dengan penguji dari LSPR, Aprida M. Sihombing, Minggu (26/6). Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama dengan penguji dari LSPR, Aprida M. Sihombing, Minggu (26/6). Foto: Istimewa.
Aku ingat kata pengujiku saat itu, Aprida M. Sihombing, mengatakan kadang sesuatu yang kita sering lakukan itu bukan berarti adalah benar. Benar mungkin menurutku, tapi tidak untuk pedoman Dewan Pers yang menaungi aktivitasku sebagai jurnalis.
ADVERTISEMENT
“Nah, di sinilah namanya kompetensi,” ucap Aprida saat aku menceritakan bagaimana aku sebenarnya terbiasa menjadi host.
Kadang, sesuatu yang kita biasa lakukan cenderung kita sepelekan. Jadi, kita enggak membaca dengan teliti apa yang diminta dan metode lain yang sebenarnya juga benar. Aku mendapatkan nilai itu karena aku enggak baca dengan teliti bahwa yang diminta adalah etika saat mewawancarai narsum, enggak sama dengan saat aku menjadi host.
Aku enggak bawa peralatan khusus dan enggak sambil mencatat pernyataan narsum, karena aku terbiasa semuanya serba direkam. Aku enggak memverifikasi lagi informasi apa yang sudah disampaikan sama narsum (termasuk jabatannya) karena aku terbiasa sudah tahu siapa yang akan aku wawancarai dan sudah terarah.
Kendati demikian, aku bersyukur dan banyak belajar dari UKW ini. Aku bisa lulus bersama dengan puluhan peserta dari kumparan lainnya. Dari semua pelajaran dan pengalaman ini, kita semua resmi jadi wartawan berlisensi, bersertifikat, dan teruji oleh Dewan Pers.
Foto bersama dengan rekan satu angkatan. Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Foto bersama dengan rekan satu angkatan. Foto: Istimewa.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·