Konten dari Pengguna

Konsep Maskulinitas pada Pria dan Wanita di Era Modern

Alma Khalisa Humaira

Alma Khalisa Humaira

Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alma Khalisa Humaira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kesetaraan Gender pada Wanita dan Pria. Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kesetaraan Gender pada Wanita dan Pria. Sumber: Shutterstock

Konsep maskulinitas saat ini tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai sifat yang hanya dimiliki oleh laki-laki. Maskulinitas kini dipahami sebagai kumpulan nilai seperti ketegasan, keberanian, kemandirian, dan kemampuan mengambil keputusan yang dapat dimiliki oleh siapapun, tanpa dibatasi oleh jenis kelamin. Perubahan ini sejalan dengan perkembangan masyarakat yang semakin terbuka terhadap keberagaman identitas dan peran sosial.

Pada pria, maskulinitas modern tidak lagi identik dengan dominasi atau kekuatan fisik semata. Pria masa kini dituntut untuk mampu mengekspresikan emosi, membangun relasi yang sehat, serta terlibat aktif dalam peran domestik (seperti kegiatan rumah tangga), dan pengasuhan. Maskulinitas yang sehat justru tercermin dari kemampuan seseorang pria untuk bertanggung jawab, empati, dan menghargai orang lain.

Sementara itu, pada perempuan, maskulinitas hadir dalam bentuk keberanian untuk bersuara, kemandirian ekonomi, serta kecakapan dalam memimpin. Banyak perempuan modern menunjukkan sifat tegas, rasional, dan kompetitif tanpa harus kehilangan identitas feminim mereka. Hal ini menandakan bahwa maskulinitas dan feminitas bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang, melainkan dapat berjalan berdampingan.

Media massa dan budaya populer turut berperan besar dalam membentuk pemahaman baru tentang maskulinitas. Film, iklan, dan konten di media sosial kini mulai menampilkan figur pria yang sensitif dan peduli serta perempuan yang kuat dan berdaya. Representasi ini membantu masyarakat melihat bahwa sifat maskulin dan feminin tidak harus terikat pada stereotip lama.

Meski begitu, pergeseran makna maskulinitas tidak selalu berjalan mulus. Masih banyak tekanan sosial yang menuntut pria untuk selalu terlihat kuat dan perempuan untuk tetap sesuai dengan standar tradisional, misalnya berbicara dengan lembut dan menuruti laki-laki. Akibatnya individu yang menampilkan identitas di luar norma seringkali menghadapi stigma dan diskriminasi.

Dalam hal ini, pendidikan serta literasi tentang gender menjadi kunci penting. Melalui pemahaman bahwa maskulinitas dan feminitas adalah konstruksi sosial yang fleksibel, masyarakat dapat lebih menerima keberagaman ekspresi diri. Hal ini juga dapat mendorong terciptanya relasi yang lebih setara dan saling menghormati antara pria dan wanita.

Pada akhirnya, konsep maskulinitas di zaman sekarang seharusnya dipahami sebagai nilai-nilai positif yang memperkuat pertumbuhan individu serta keseimbangan sosial. Baik pria atau wanita memiliki hak untuk menunjukkan keberanian dan kemandirian tanpa rasa takut akan penilaian atau pandangan orang lain.