Salah Pilih Obat Jamur Bisa Bikin Kaca Mobil Rusak, Ujung-ujungnya Ganti

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kaca mobil. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kaca mobil. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Bercak putih pada kaca mobil sering dianggap sebagai jamur yang bisa dibersihkan menggunakan cairan khusus. Namun pemilik mobil perlu berhati-hati karena penggunaan obat jamur yang tidak tepat, justru dapat merusak permukaan kaca hingga harus diganti.

Kiki, pemilik toko kaca mobil Alpha Glass, mengatakan bahwa kerusakan seperti itu cukup sering ditemukan pada konsumen di tokonya. Kondisinya bisa terjadi pada kaca yang masih utuh dan tidak mengalami retak atau pecah.

“Kasus kaca depan biasanya rusak walaupun tidak pecah, tapi harus ganti. Kenapa? Karena rusak akibat penggunaan obat jamur yang salah. Kacanya jadi kelihatan seperti kulit jeruk, pandangannya jadi tidak enak,” kata Kiki kepada kumparan saat ditemui di Kayuringin Jaya, Bekasi, belum lama ini.

Ilustrasi obat jamur untuk kaca mobil. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Ia menjelaskan, cairan penghilang jamur bekerja dengan mengikis permukaan kaca. Bila digunakan dengan takaran atau cara yang tidak tepat, proses tersebut justru bisa membuat lapisan permukaan kaca mengalami kerusakan.

Kondisi kaca yang sudah berubah seperti itu tidak bisa diperbaiki kembali. Pemilik mobil akhirnya harus mengganti kaca, terutama bagian depan yang berhubungan langsung dengan pandangan pengemudi. Masalah serupa ternyata bisa terjadi saat kaca dipoles untuk menghilangkan baret.

“Kaca semuanya dikasih obat jamur terus akhirnya rusak, kalau ganti semua kan lumayan. Bisa obat jamurnya kurang bagus atau pemolesan kacanya. Kalau yang nggak benar hasil polesannya itu kaca jadi rusak juga. Baretnya hilang, tapi sebenarnya permukaan kacanya jadi bergelombang,” tutur Kiki.

Menurutnya, kasus kaca rusak seperti ini cukup banyak ditemukan pada konsumen di tokoknya yang membeli mobil bekas. Sebelum dijual, kaca biasanya ikut dibersihkan atau dipoles agar tampilan mobil terlihat lebih rapi.

Ilustrasi poles kaca mobil. Foto: Shutterstock

“Kalau orang awam mungkin banyak yang nggak sadar ya. Ada cerita konsumen yang pernah datang ke sini, pandangannya sudah nggak jelas, dia malah ke dokter mata dan pakai kacamata. Jadi dipikir matanya rusak,” ujarnya.

Kiki menjelaskan, istilah jamur pada kaca mobil sendiri sebenarnya bukan berarti ada organisme yang tumbuh di permukaannya. Bercak tersebut lebih dikenal sebagai water spot, yakni sisa air yang mengering dan meninggalkan kerak setelah bercampur dengan polusi.

Pemilik mobil disarankan tidak menunggu bercak menumpuk sebelum melakukan perawatan. Setelah mobil terkena hujan atau dicuci, kaca sebaiknya segera dikeringkan agar air tidak meninggalkan noda.

“Beberapa obat jamur yang saya coba kandungannya keras. Jamurnya hilang, tapi lapisan kacanya rusak. Kalau obatnya nggak keras, jamurnya nggak hilang. Saya sendiri tidak menyarankan penggunaan obat jamur kaca, lebih baik mencegah daripada mengobat jamur," tuntas pria sudah berkecimpung di dunia kaca mobil selama 17 tahun itu.