Sampah Plastik yang Mendarah Daging

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Medan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Alvin Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari waktu ke waktu, topik hangat seputar perubahan iklim terus mengudara. Perubahan iklim merupakan proses berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan manusia.
Isu ini sudah menjadi fokus utama bagi seluruh negara-negara di dunia karena memiliki dampak yang negatif. Beragam kesepakatan hingga konferensi sudah digulirkan, seperti United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Protokol Kyoto, hingga Perjanjian Paris 2015 untuk mengatur ambang batas kenaikan suhu global per tahun.
Dilansir dari laporan yang diterbitkan oleh World Meteorological Organization (WMO), bahwasanya tahun 2015 hingga 2021 memecahkan rekor sebagai tahun yang terpanas. Suhu rata-rata global 2018–2022 diperkirakan naik sekitar 1,17 atau 0,13 °C lebih panas dibandingkan suhu pada tahun 1850–1900.
Problematika ini memiliki konsekuensi yang mengerikan apabila tidak menjadi fokus bersama antar negara-negara di seluruh dunia. Salah satu efek naiknya suhu global adalah meningkatnya permukaan laut. Akibatnya, pulau atau bahkan negara yang memiliki topografi serta ketinggian yang rendah terancam tenggelam.
Riset dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), juga memprediksi permukaan laut secara global kemungkinan akan naik, setidaknya 0,3 meter pada awal tahun 2100. Implikasi dari ancaman ini sangat kompleks.
Jakarta bahkan dijuluki sebagai "Kota tercepat tenggelam di dunia" oleh BBC, lantaran telah memiliki potensi untuk tenggelam 5 hingga 10 cm per tahun akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Apabila ditambah dengan naiknya permukaan laut, sebagian besar wilayah Jakarta berpotensi tenggelam pada tahun 2050 mendatang.
Pada dasarnya, perubahan iklim merupakan kondisi perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca yang terjadi dikarenakan faktor alami, seperti melalui variasi siklus matahari.
Meski begitu, perubahan iklim yang terjadi sejak tahun 1800-an justru mengalami anomali lantaran lebih banyak didominasi oleh aktivitas manusia. Misalnya, seperti pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.
Tak hanya itu, manusia juga menghasilkan produk yang mampu mendorong naiknya emisi gas rumah kaca. Contohnya seperti karbon dioksida hingga metana, sebut saja dari banyaknya penggunaan plastik.
Pada dasarnya, plastik diklaim sebagai barang yang ramah dipakai oleh masyarakat dikarenakan penggunaannya yang memudahkan manusia dalam beraktivitas. Hanya saja, plastik tidak sesuai dengan usia bumi yang semakin menua. Plastik tergolong dalam barang yang sangat sulit terurai, dan juga dapat menghasilkan gas rumah kaca ke atmosfer apabila dibakar di lingkungan terbuka.
Plastik masih menjadi bahan yang sulit tergantikan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari seperti kemasan makanan, tas, produk elektronik, otomotif, dan mainan. Plastik masih banyak dipakai karena memiliki sejumlah keunggulan seperti ringan, tidak mudah pecah, dan juga harganya yang tergolong murah. Padahal, sampah merupakan salah satu masalah di Indonesia yang memberikan dampak negatif.
Selain dapat mengurangi kesuburan tanah, sampah dapat menyumbat saluran drainase, selokan, dan sungai, sehingga dapat menyebabkan banjir. Apabila dibakar, sampah juga dapat mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Kontribusi sampah plastik terhadap perubahan iklim cukup kompleks. Penggunaan plastik secara masif oleh berbagai kalangan masyarakat, membuat volumenya di tempat pengelolaan sampah menjadi menggunung. Plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca saat terurai, serta mampu merusak mikroorganisme seperti zooplankton yang sejatinya memiliki peran penting dalam kemampuan laut untuk menyerap karbon dioksida, salah satunya adalah gas rumah kaca.
Hampir semua plastik berasal dari bahan, seperti etilen dan propilen yang terbuat dari bahan bakar fosil. Proses mengekstraksi dan mengangkut bahan bakar tersebut kemudian memproduksi plastik yang menghasilkan hingga miliaran ton gas rumah kaca.
Sebagian besar plastik yang tidak sampai ke pabrik daur ulang, akan berakhir di sungai dan laut. Kondisi ini tidak hanya berbahaya bagi hewan dan tumbuhan yang habitatnya dipenuhi oleh sampah-sampah air. Tetapi, juga mengancam naiknya rasio perubahan iklim lantaran plastik melepaskan gas rumah kaca saat terurai secara perlahan. Sinar matahari dan panas menyebabkan limbah plastik melepaskan metana dan etilena ke atmosfer bumi.
Sampah plastik menjadi momok serius bagi kebanyakan negara di dunia. Indonesia pun tak luput dari problematika sampah ini. Volume sampah dari hari ke hari terus mengalami kenaikan secara masif.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per 2021, total sampah nasional mencapai angka 68,5 juta ton yang didominasi oleh sampah plastik. Hal ini menjadikan Indonesia termasuk ke dalam daftar teratas negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia.
Maraknya kenaikan volume sampah plastik ini juga tak lepas dari kesadaran masyarakat Indonesia itu sendiri. Terlebih dengan situasi pandemi Covid-19 yang meminimalisasi adanya mobilitas dan penggunaan alat kesehatan berupa kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) serta sejenisnya, yang justru malah menimbulkan efek domino berupa sampah yang terus menggunung.
Dipicu seperti tren belanja online yang membengkak, dengan 90 persen makanan bertransaksi secara online yang dikemas menggunakan plastik sekali pakai, serta penggunaan masker sekali pakai turut menambah 0,1 persen dari timbunan sampah saat ini.
Banyak sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Padahal pengelolaan sampah yang buruk berkontribusi terhadap perubahan iklim serta dapat mengancam ekosistem. Sampah kantong plastik menyumbang setidaknya 40 persen dari keseluruhan limbah plastik di Indonesia.
Lebih ironisnya lagi, 16 persen sampah plastik di lautan berasal dari Indonesia. Sedangkan, plastik dikenal sangat sulit terurai. Sekitar satu juta kantong plastik digunakan di seluruh dunia tiap menitnya. Sementara plastik sekali pakai sendiri memerlukan waktu hingga ratusan tahun untuk dapat terurai secara keseluruhan.
Di era kemajuan teknologi saat ini, tingkat konsumtifitas masyarakat meningkat pesat. Dengan kenyataan tersebut, seharusnya kesadaran mengenai kelestarian lingkungan juga harus ditingkatkan, apalagi dengan banyaknya isu-isu sosial yang berkembang saat ini. Perubahan iklim terus mengancam. Kita sebagai masyarakat seharusnya berpikir kritis untuk menjadi garda terdepan dalam misi menyelamatkan bumi dari kerusakan yang serius. Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah dengan mendaur ulang sampah plastik yang telah digunakan.
Permasalahan sampah plastik yang seolah sulit untuk teratasi memang perlu diperhatikan bersama. Tak cukup peran pemerintah dalam memetakan peraturan dalam penanganan masalah ini. Kehadiran pihak lain, khususnya masyarakat juga menjadi kunci utama dibalik pengelolaan sampah plastik yang baik.
Apalagi, plastik yang terbuang begitu saja bukan berarti tak bisa dimanfaatkan kembali. Hal ini membuka peluang lebar dalam mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang bernilai dan bisa membuka lapangan pekerjaan di tengah-tengah masyarakat.
