Konten dari Pengguna

Perguruan Silat di Nganjuk: Ketika Prestasi Bertemu dengan Konflik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alfinna naza zahrotuzayyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Perguruan silat sudah cukup dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk di Nganjuk. Bagi banyak anak muda, silat bukan hanya soal belajar bela diri, tetapi juga menjadi tempat untuk belajar disiplin, menjaga kesehatan, membangun rasa percaya diri, dan mendapatkan prestasi.

Dari sisi positif, banyak pesilat yang mampu mengharumkan nama daerah melalui berbagai pertandingan. Kegiatan di perguruan juga bisa menjadi cara yang baik bagi anak muda untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Nilai persaudaraan dan kebersamaan juga menjadi salah satu hal yang diajarkan dalam dunia persilatan.

Sumber: Sosial Media Tiktok

Namun, di balik sisi positif tersebut, masih ada persoalan yang perlu diperhatikan. Perbedaan antarperguruan terkadang bisa menimbulkan gesekan. Rasa bangga terhadap perguruan sebenarnya bukan masalah, tetapi jika berubah menjadi fanatisme berlebihan dan berujung pada konflik, tentu bisa merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat sekitar.

Sumber: Sosial Media Tiktok

Menurut saya, persoalan ini tidak cukup hanya diselesaikan ketika konflik sudah terjadi. Pemerintah daerah juga memiliki peran dalam menjaga ketertiban masyarakat. Salah satu caranya bisa melalui pembinaan dan komunikasi dengan pengurus perguruan silat, tokoh masyarakat, serta pihak keamanan.

Tetapi, pemerintah juga perlu berhati-hati dalam membuat kebijakan. Jangan sampai upaya menjaga keamanan justru membuat kegiatan masyarakat dibatasi secara berlebihan. Perguruan silat tetap memiliki hak untuk berkembang selama kegiatannya dilakukan secara tertib dan tidak merugikan orang lain.

Selain pemerintah, pengurus dan pelatih perguruan juga punya tanggung jawab besar. Bela diri seharusnya mengajarkan pengendalian diri, bukan digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Karena itu, pendidikan karakter dan sikap saling menghargai juga penting diberikan kepada para anggota.

Sebagai mahasiswa hukum, saya melihat persoalan ini menunjukkan bahwa hukum tidak hanya berbicara tentang pelanggaran dan hukuman. Hukum juga berkaitan dengan bagaimana pemerintah, masyarakat, dan organisasi sosial dapat bersama-sama menciptakan kehidupan yang aman dan tertib.

Pada akhirnya, perguruan silat bukanlah sumber masalah. Justru silat bisa menjadi wadah yang positif bagi generasi muda. Yang terpenting adalah bagaimana prestasi dan persaudaraan tetap dijaga, sementara konflik dan fanatisme berlebihan bisa dicegah bersama.