Media Sosial dan Hilangnya Empati

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alya Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial awalnya hadir untuk mempermudah manusia berkomunikasi dan berbagi informasi. Namun, seiring berkembangnya teknologi, media sosial tidak hanya menjadi tempat berinteraksi, tetapi juga sering berubah menjadi ruang untuk saling menyerang dan menghakimi. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah menerima komentar kasar hanya karena memiliki pendapat yang berbeda dengan orang lain. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa etika komunikasi di media sosial mulai mengalami penurunan.
Fenomena Mudah Menghakimi di Media Sosial
Belakangan ini, kebiasaan menghakimi orang lain di internet semakin sering terlihat. Banyak pengguna media sosial langsung memberikan komentar negatif tanpa memahami situasi secara menyeluruh. Bahkan, tidak sedikit orang yang ikut menyerang seseorang hanya karena mengikuti opini mayoritas di kolom komentar. Padahal, informasi yang beredar di media sosial belum tentu sepenuhnya benar.
Menurut saya, salah satu penyebab fenomena ini terjadi adalah karena media sosial membuat seseorang merasa bebas mengatakan apa saja tanpa memikirkan dampaknya. Ketika berkomunikasi secara langsung, seseorang biasanya masih dapat melihat ekspresi wajah dan reaksi lawan bicara sehingga lebih berhati-hati dalam berbicara. Namun, di media sosial, orang hanya melihat layar dan tulisan sehingga banyak yang merasa lebih mudah meluapkan emosi melalui komentar.
Pentingnya Etika dalam Komunikasi Verbal
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi verbal memiliki pengaruh besar terhadap hubungan sosial. Kata-kata yang dipilih seseorang dapat menentukan apakah sebuah percakapan akan berjalan baik atau justru menimbulkan konflik. Sayangnya, di media sosial banyak orang menggunakan bahasa yang kasar dan emosional ketika menanggapi suatu informasi. Tidak sedikit pengguna internet yang langsung menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain tanpa mempertimbangkan perasaan mereka.
Fenomena cyberbullying yang sering terjadi di media sosial menjadi salah satu contoh nyata dari buruknya etika komunikasi digital saat ini. Banyak korban cyberbullying mengalami tekanan mental karena terus menerima komentar negatif dari orang lain. Bahkan, beberapa kasus menunjukkan bahwa komentar di media sosial dapat memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis seseorang. Hal ini membuktikan bahwa kata-kata yang ditulis di internet tetap memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan orang lain.
Dampak Kurangnya Komunikasi Nonverbal di Media Sosial
Selain komunikasi verbal, komunikasi nonverbal juga memiliki peran penting dalam interaksi manusia. Dalam komunikasi secara langsung, seseorang dapat memahami maksud lawan bicara melalui nada suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh. Namun, komunikasi digital memiliki keterbatasan karena sebagian besar dilakukan melalui teks. Akibatnya, kesalahpahaman lebih mudah terjadi karena seseorang tidak dapat melihat emosi atau ekspresi lawan bicaranya secara langsung.
Hal sederhana seperti penggunaan huruf kapital, tanda baca, atau cara mengetik pesan sering kali menimbulkan kesan marah dan kasar. Banyak pertengkaran di media sosial sebenarnya terjadi karena seseorang salah memahami maksud dari sebuah tulisan. Namun, dibanding mencoba memahami, sebagian orang justru lebih memilih langsung menyerang dan menghakimi.
Pentingnya Komunikasi dengan Empati
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak. Kebebasan berpendapat memang penting, tetapi bukan berarti seseorang bebas menyakiti orang lain melalui kata-kata. Sebelum menulis komentar, seseorang seharusnya berpikir terlebih dahulu tentang dampak yang mungkin ditimbulkan dari ucapannya.
Karena itu, komunikasi dengan hati menjadi hal penting yang perlu diterapkan di era digital saat ini. Komunikasi dengan hati berarti mampu menyampaikan pendapat dengan sopan, menghargai perasaan orang lain, dan mengendalikan emosi ketika berinteraksi di media sosial. Sikap empati sangat diperlukan agar komunikasi tidak berubah menjadi sumber konflik dan kebencian.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya dapat menjadi tempat untuk berbagi informasi dan berdiskusi secara sehat, bukan menjadi ruang untuk saling menjatuhkan. Perkembangan teknologi akan memberikan manfaat apabila digunakan dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Karena itu, masyarakat perlu mulai membangun budaya komunikasi yang lebih sopan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak mudah menghakimi orang lain hanya berdasarkan apa yang terlihat di media sosial.
