Konten dari Pengguna

Hal yang Paling Sulit dari Haji Ternyata Bukan Ibadahnya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Alya Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang bercerita bahwa tantangan terbesar saat berhaji adalah cuaca yang sangat panas, tenaga yang terkuras karena harus berjalan jauh, atau padatnya jutaan jamaah di Tanah Suci. Sebelum berangkat, saya juga membayangkan hal yang sama. Saya sibuk mempersiapkan fisik, menghafal rangkaian ibadah, dan mendengarkan berbagai cerita dari orang-orang yang sudah lebih dulu berhaji. Namun, setelah benar-benar menjalaninya, saya sadar bahwa hal yang paling sulit justru bukan itu semua. Tantangan terbesar yang saya rasakan adalah menghadapi rasa takut karena harus berangkat sendirian di usia yang masih sangat muda.

Saat itu usia saya baru 17 tahun. Di antara rombongan haji, hampir semua jamaah berangkat bersama pasangan, orang tua, saudara, atau kerabat. Sementara saya hanya membawa koper dan doa agar semuanya berjalan lancar. Di dalam hati ada banyak kekhawatiran yang terus muncul. Saya takut tertinggal rombongan, takut salah mengikuti rangkaian ibadah, bahkan sempat membayangkan bagaimana jika saya tiba-tiba sakit ketika tidak ada keluarga yang menemani. Pikiran-pikiran itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat saya gelisah sejak keberangkatan.

Rasa cemas itu masih saya rasakan ketika tiba di Makkah. Saya ditempatkan satu kamar bersama beberapa ibu-ibu yang usianya jauh di atas saya. Awalnya saya merasa canggung karena tidak mengenal siapa pun. Saya membayangkan kami hanya akan saling menyapa seperlunya, lalu menjalani aktivitas masing-masing. Ternyata kenyataannya jauh berbeda dari yang saya bayangkan.

Pemandangan Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah. Di balik kemegahannya, perjalanan ini juga mengajarkan saya tentang kepedulian dan kebaikan sesama jamaah. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Sejak hari pertama, mereka memperlakukan saya dengan sangat hangat. Mereka selalu memastikan saya sudah makan sebelum berangkat ke masjid, mengingatkan saya agar tidak tertinggal saat jadwal ibadah, bahkan beberapa kali menunggu saya ketika langkah saya mulai melambat karena lelah. Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi saya yang sedang berada ribuan kilometer dari rumah, perhatian sederhana tersebut terasa begitu menenangkan. Saya tidak lagi merasa menjadi anak muda yang sendirian di tengah jutaan jamaah.

Semakin lama menjalani ibadah, saya semakin menyadari bahwa perjalanan haji bukan hanya mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Di sana saya juga melihat bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal bisa saling membantu tanpa diminta. Tidak peduli berasal dari negara mana, menggunakan bahasa apa, atau memiliki latar belakang seperti apa, semua orang datang dengan tujuan yang sama. Ada yang mempersilakan orang lain berjalan lebih dulu, ada yang membantu jamaah lanjut usia, dan ada pula yang dengan tulus memberikan pertolongan hanya karena melihat orang lain sedang kesulitan. Suasana seperti itu membuat saya merasa bahwa kepedulian masih hidup, bahkan di tengah lautan manusia yang begitu besar.

Tentu saja, momen yang paling saya tunggu adalah ketika akhirnya bisa berada sangat dekat dengan Ka'bah. Selama bertahun-tahun saya hanya melihatnya melalui foto, video, dan siaran televisi. Saat benar-benar berdiri di hadapannya, perasaan yang muncul sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ketika tangan saya menyentuh Ka'bah dan akhirnya diberi kesempatan untuk menciumnya, air mata mengalir begitu saja. Semua rasa takut yang saya rasakan sejak keberangkatan seolah menghilang. Yang tersisa hanyalah rasa syukur karena Allah memberikan kesempatan luar biasa itu kepada saya di usia yang masih sangat muda.

Namun, setelah perjalanan itu selesai dan saya kembali ke Indonesia, saya menyadari bahwa ada lebih dari satu momen yang paling membekas dari perjalanan haji saya. Momen ketika berdiri di hadapan Ka'bah, menyentuhnya, dan akhirnya diberi kesempatan untuk menciumnya tetap menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Itu adalah momen yang penuh haru dan rasa syukur karena setelah melewati berbagai persiapan dan rasa takut, akhirnya saya bisa berada di tempat yang selama ini hanya saya lihat melalui foto dan video. Akan tetapi, selain momen tersebut, ada satu hal lain yang juga selalu teringat setiap kali saya mengenang perjalanan haji, yaitu kebaikan ibu-ibu yang sekamar dengan saya. Perhatian kecil yang mereka berikan selama di Tanah Suci membuat perjalanan saya terasa lebih hangat. Mereka bukan keluarga saya, tetapi selama berada jauh dari rumah, mereka membuat saya merasa seperti memiliki keluarga baru.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa keluarga tidak selalu hadir karena hubungan darah. Kadang, keluarga adalah orang-orang yang Allah pertemukan di waktu yang tepat, lalu menghadirkan rasa tenang melalui perhatian-perhatian sederhana. Pengalaman tersebut juga mengubah cara saya memandang orang lain. Di tengah dunia yang sering dipenuhi cerita tentang sikap individual dan ketidakpedulian, saya justru menemukan begitu banyak kebaikan dari orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak saya kenal.

Saya berangkat ke Tanah Suci dengan membawa rasa takut karena merasa akan menjalani semuanya sendirian. Namun, saya pulang dengan membawa keyakinan bahwa saya tidak pernah benar-benar sendiri. Di setiap langkah perjalanan itu, selalu ada orang-orang baik yang Allah hadirkan untuk saling menjaga dan menguatkan. Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari ibadah haji, sebuah pelajaran yang sampai hari ini masih saya ingat setiap kali mengenang perjalanan tersebut.