Konten dari Pengguna

TikTok: Klinik Kesehatan Mental Instan atau Jebakan Self Diagnosis?

Alya Qanita Mukhbita

Alya Qanita Mukhbita

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 8 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Qanita Mukhbita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Konseling. https://www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Konseling. https://www.pexels.com

Oleh: Alya Qanita Mukhbita dan Dr. Rachmat Mulyono, MM., MSi., Psikolog

"Di era digital masa kini, media sosial telah bergeser fungsi menjadi seolah "klinik kesehatan mental" instan, terutama platform TikTok. Tren ini mulai meledak seiring meningkatnya laporan masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda dalam beberapa tahun terakhir (CDC, 2021 dalam Heiss et al.,2024). Namun, di balik kemudahan aksesnya, tersimpan risiko besar yang dipaparkan dalam sebuah studi yang menemukan bahwa sekitar 84% saran kesehatan mental di TikTok bersifat menyesatkan (PlushCare,2022 dalam Heiss et al.,2024).

Hal ini terjadi karena mayoritas konten tersebut diproduksi oleh pengguna biasa (laypeople) yang tidak memiliki latar belakang keahlian di bidangnya (McCashin&Murphy,2022; O’Sullivan et al., 2022 dalam Heiss et al.,2024), namun sering kali dianggap lebih “nyata” atau “autentik” oleh audiens.

Ditambah lagi, format video pendek dan algoritma TikTok mendorong perilaku scrolling tanpa henti (O’ Sullivan et al., 2022 dalam Heiss et al.,2024), yang membuat pengguna cenderung menelan informasi mentah-mentah tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Fenomena inilah yang kemudian memicu maraknya self-diagnosis yang tidak akurat di kalangan pengguna.

Kenapa Kita Lebih Mempercayai “Laypeople”? Keyakinan kita terhadap informasi sangat bergantung pada siapa yang memberi informasi tersebut. Hal ini dijelaskan dalam “Model Kredibilitas Sumber”, dimana "keahlian" menjadi faktor paling utama (Ohanian,1990 dalam Heiss et al.,2024). Secara alami, kita lebih menerima informasi dari individu yang memiliki pendidikan dan pengalaman jelas di bidangnya. Kita menganggap mereka memiliki kekuasaan karena mereka memiliki pengetahuan mendalam yang jelas tidak dimiliki oleh orang biasa.

Masyarakat lebih percaya kepada ilmuwan atau tenaga kesehatan dibandingkan tokoh publik lainnya, seperti politisi (Kennedy, et al.,2022 dalam Heiss et al.,2024). Hal ini dikarenakan ilmuwan dianggap bekerja berdasarkan data dan fakta yang objektif bukan berdasarkan kepentingan kelompok tertentu.

Misalnya, ketika seorang ahli kesehatan memberikan penjelasan tentang manfaat vaksin, orang-orang akan merasa lebih aman dan berani untuk melakukan imunisasi. Para ahli juga berperan sebagai penyaring informasi (Varga&Bode, 2017). Penjelasan dari mereka sangat bermanfaat dalam membantu masyarakat mengenali informasi yang salah dan memperbaiki pandangan yang keliru tentang suatu masalah kesehatan.

Namun, dalam arena media sosial, gelar atau keahlian dalam bidang tertentu bukanlah satu-satunya penentu tentang sejauh mana sebuah pesan diterima. Biasanya, sosok "orang biasa" atau “teman sebaya” lebih mampu menarik perhatian dibandingkan para profesional. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut.

Yang pertama, manusia lebih cenderung mempercayai informasi dari individu yang dianggap memiliki kemiripan dengan mereka (Heiss et al.,2024), baik dalam hal gaya hidup, usia, maupun pengalaman. Kita merasa bahwa jika seseorang yang "mirip dengan kita" berhasil mengatasi suatu tantangan, maka nasihat mereka akan lebih relevan bagi kita.

Yang kedua, para professional kadang terkesan kaku, formal, atau menjalankan protokol, pengguna biasa sering menunjukkan diri mereka dengan tulus (autentik). Kejujuran dalam berbagi pengalaman pribadi tanpa kesan menggurui menjadikan meraka terlihat lebih ramah dan terbuka.

Yang ketiga, karena kita merasa lebih "dekat" dengan pencipta konten yang selalu kita tonton, sehingga muncul rasa kepercayaan yang bersifat emosional. Dan yang terakhir,dalam banyak kasus, kepercayaan (trust) terhadap karakter seseorang sering kali lebih penting dibandingkan dengan tingkat kepandaian atau gelar yang mereka miliki. Kita lebih menyukai mendengarkan orang yang kita "senangi," meski mereka bukan seorang ahli dalam bidang itu.

Mental Health Diagnosis (MHD) VS Mental Health Self Diagnosis (MHSD) Berbeda dengan media sosial lain dimana video pendek hanyalah fitur tambahan, TikTok berfokus pada video pendek yang biasanya berdurasi antara 15 hingga 60 detik sebagai konten utama nya (Ju et al.,2026). Diantara banyak tema yang populer di TikTok, kesehatan mental menarik banyak perhatian, dengan video yang menggunakan #mentalhealth mencapai hampir 44 juta tampilan pada tahun 2023 (Liu et al.,2023).

TikTok sangat penting untuk Mental Health Communication (MHC) karena beberapa alasan. Yang pertama, TikTok memiliki popularitas tinggi di antara remaja dan sifat interaktifnya menjadikannya cara yang sempurna untuk menjangkau generasi muda (Clament 2020 dalam Ju et al.,2026) yang lebih terbuka dalam membahas isu kesehatan mental.

Yang kedua, TikTok memiliki sistem algoritma yang berfokus pada pengguna, memastikan bahwa mereka yang tertarik pada kesehatan mental terus mendapatkan konten terkait (Kim 2017 dalam Ju et al.,2026). Namun, sistem algoritma ini juga bisa memperkuat kepercayaan yang sudah ada, menciptakan gelembung filter, dan ruang gema yang dapat menguatkan kecenderungan diagnosa sambil membatasi akses pada pandangan alternatif atau saran dari professional (Mahmoudi et al., 2024; Rhodes, 2022 dalam Ju et al.,2026).

Dan yang terakhir, lebih dari setengah pengguna muda mempercayai informasi kesehatan yang mereka lihat di TikTok, dengan banyak di antaranya mengambil langkah mencari pengobatan atau berkonsultasi dengan dokter berdasarkan informasi itu (Montero et al., 2004 dalam Ju et al.,2026). Paparan berulang terhadap klaim yang belum terverifikasi dapat menimbulkan "efek kebenaran ilusi," di mana orang mulai menganggap informasi yang sering diulang sebagai lebih tepat, meskipun belum tentu valid (Udry&Barber, 2024 dalam Ju et al.,2026).

Munculnya tren ini kemudian menimbulkan diskusi yang hangat tentang keabsahan antara diagnosa dari profesional dan diagnosa yang dilakukan sendiri, yang melibatkan bebrapa pendapat. Pendukung Mental Health Diagnosis (MHD) menekankan bahwa penilaian dari profesional sangat diperlukan untuk memastikan identifikasi yang tepat dan perawatan yang sesuai (Ju et al.,2026). Hal ini dikarenakan Mental Health Self Diagnosis (MHSD) sering kali kurang akurat, yang bisa menyebabkan informasi yang salah tentang gejala dan efektivitas pengobatan Bizzotto et al., 2023 dalam Ju et al.,2026).

Namun, pendukung MHSD berargumen bahwa hal ini membantu orang mengatasi hambatan sistem seperti biaya dan kurangnya layanan di daerah terpencil, membiarkan mereka untuk mengelola kesehatan mental mereka sendiri, dan mengurangi stigma melalui pembicaraan di komunitas (Underhill&Foulkess,2024 dalam Ju et al.,2026). Disisi lain, kritikus terhadap diagnosa mandiri menyatakan bahwa hal ini berisiko meremehkan keseriusan masalah kesehatan mental dengan cara yang terlalu menyederhanakan gejala di platform seperti TikTok (Heiss et al., 2024 dalam Ju et al.,2026).

Mental Health Community (MHC) Di tengah perdebatan yang sengit, risiko penyebaran informasi yang tidak akurat tetap tidak boleh diabaikan. Untuk mengatasi krisis ini, berbagai organisasi telah membuat program pembuatan materi Mental Health Community (MHC) berdasarkan bukti melalui media sosial seperti WHO, YouTube Health, dan Pusat Komunikasi Kesehatan Sekolah Harvard Chan (Motta et al., 2024 dalam Ju et al.,2026). MHC berbasis bukti didefinisikan sebagai "pesan yang menyampaikan informasi yang berkaitan dengan pengenalan dan/atau penjelasan.

Ada lima jenis kategori konten Kesehatan mental berbasis bukti ilmiah (Motta et al., 2024 dalam Ju et al.,2026):

  • Menghubungkan orang dengan bantuan yang mereka butuhkan Berfokus pada Tindakan nyata yang bertujuan untuk memastikan informasi Kesehatan mental “tidak berhenti hanya sampai tahu gejala” tetapi juga harus “tahu kemana” untuk mengatasinya. Contoh Konten: daftar layanan hotline pencegahan bunuh diri, aplikasi untuk sesi konseling yang terverifikasi, atau informasi mengenai layanan psikolog yang dapat dijangkau.

  • Kesehatan Mental itu Adalah Hal Penting (Urgensi Sosial dan Dampak Antar Generasi) Berfokus pada penekanan bahwa isu kesehatan mental bukanlah isu individual semata melainkan isu besar di masyarakat. Hal ini dikarenakan, kondisi kesehatan mental seseorang mempengaruhi lingkungan disekitarnya dan masalah kesehatan mental ini dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Contoh Konten: menjelaskan trauma psikologis yang tidak terselesaikan memungkinkan untuk diwariskan ke generasi selanjutnya

  • Mind-Body Connection Berfokus dalam upaya menghancurkan kesan bahwa pikiran dan tubuh adalah dua bagian yang terpisah. Secara ilmiah, keduanya sangat berkaitan (Mind-Body Connection). Contoh Konten: Penjelasan mengenai cara kecemasan yang terjadi di dalam pikiran dapat menyebabkan asam lambung naik atau jantung berdebar terus-menerus secara fisik. Sebaliknya, cara olahraga atau pola tidur yang baik dapat memperbaiki struktur kimia di otak yang mengatur suasana hati.

  • Diskriminasi Mengikis Kesehatan Mental (Stigma dan Ketidaksetaraan Struktural) Berfokus untuk menyoroti faktor eksternal atau lingkungan. Kesehatan mental seseorang tidak hanya diarungi oleh genetik, tetapi juga dipengaruhi oleh bagaimana dunia melihat dan memperlakukannya. Contoh Konten: Membicarakan cara stigma yang ada terhadap orang yang menderita gangguan jiwa membuat mereka merasa takut untuk mencari pertolongan, atau bagaimana adanya diskriminasi di lingkungan kerja bisa membuat kelompok minoritas lebih rentan mengalami depresi.

  • Tindakan Mengatasi Perubahan Iklim Harus Mencakup Kesehatan Mental Berfokus untuk menghubungkan kesehatan bumi dengan kesehatan mental. Perubahan iklim memicu kecemasan baru yang disebut eco-anxiety, yang berdampak langsung pada kesejahteraan manusia. Contoh konten: Membicarakan perasaan trauma atau kehilangan semangat yang dirasakan oleh para pengungsi akibat bencana alam, atau kekhawatiran para pemuda terhadap masa depan bumi yang tidak pasti.

Sebagai kesimpulan, media sosial dapat dilihat sebagai “pedang” yang memiliki dua sisi untuk kesehatan mental kita. Di satu sisi, media sosial sangat berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait isu kesehatan mental. Namun di sisi lain, jika kita tidak mampu memilah informasi dengan baik, kita bisa terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Oleh sebab itu, kita perlu berpikir dengan kritis dan teliti ketika mengecek keaslian sumber informasi yang kita baca. Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa media sosial hanya berfungsi sebagai alat untuk mengenali tanda-tanda awal, bukan sebagai alat untuk mendiagnosis sendiri. Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan perawatan yang sesuai, bantuan dari tenaga ahli tetap merupakan langkah yang harus diperhatikan.

Reference:

Heiss, R., Bode, L., Adisuryo, Z. M., Brito, L., Cuardra, A., Gao, P., Han, Y., Hearst, M., Huang, K., Kinyua, A., Lin, T., Ma, Y., Manion, T. O., Roh, Y., Salazar, A., Yue, S., & Zhang, P. (2024). Debunking mental health misperceptions in short-form social media videos: An experimental test of scientific credibility cues. Health Communication.

Ju, R., Field-Springer, K., Liu, Z., & Chandler, E. (2026). #Mental Health Diagnosis and Self-Diagnosis: Harmful or Helpful on TikTok. Health Communication.