Konten dari Pengguna

Pesan Feminisme Tersembunyi di Drama Korea Bon Appétit, Your Majesty

Alya Azizah

Alya Azizah

Mahasiswa Universitas Pamulang Aktif menulis dan berbagi perspektif seputar isu sosial, pendidikan, dan kehidupan kampus.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar : Bon Appetit your majesty (2025) Sumber : Korea JoongAng Daily
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : Bon Appetit your majesty (2025) Sumber : Korea JoongAng Daily

Ketika Media Menjadi Cermin Feminisme

Dalam kajian Media dan Gender, media dipahami bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan sistem simbolik yang membentuk makna sosial tentang laki-laki dan perempuan. Melalui media, publik mempelajari apa yang dianggap “ideal”, “feminin”, atau “maskulin”.

Drama Korea Bon Appétit, Your Majesty (2025) menjadi contoh menarik bagaimana media kontemporer mengemas isu feminisme lewat narasi lintas waktu. Tokoh utama perempuan yang berprofesi sebagai koki modern tidak hanya digambarkan sebagai sosok romantis, tetapi juga simbol kebangkitan perempuan yang menantang dominasi patriarki.

Sinopsis: Perempuan Modern di Dunia Patriarki

Bon Appétit, Your Majesty menceritakan Yeon Ji-yeong (Im Yoon-ah), seorang chef profesional dari abad ke-21 yang secara misterius terlempar ke masa Dinasti Joseon. Di era yang menempatkan perempuan sebagai pelayan istana, Ji-yeong justru menggunakan keahliannya di dapur untuk membangun pengaruh di lingkungan kerajaan dan menarik perhatian sang raja, Yi Heon (Lee Chae-min).

Melalui kemampuan memasaknya, Ji-yeong menantang norma gender tradisional. Ia tidak tunduk pada sistem istana yang patriarkal, tetapi menghadirkan kekuasaan baru lewat “rasa” dan kecerdasannya.

Analisis Feminisme dalam Representasi Media

1. Perempuan sebagai Subjek, Bukan Objek

Menurut Laura Mulvey (1975) dalam teori male gaze, media film sering kali menempatkan perempuan sebagai objek visual bagi tatapan laki-laki. Namun dalam Bon Appétit, Your Majesty, kamera justru menyoroti kekuatan personal Ji-yeong: ekspresi, ide, dan inisiatifnya menjadi pusat narasi.

Ia bukan sekadar “perempuan yang dilihat”, tetapi perempuan yang menentukan arah cerita.

Visual yang menekankan busana tradisional dan gestur lembut tetap hadir, tetapi kali ini digunakan untuk memperlihatkan kecerdikan dan kendali, bukan sekadar daya tarik fisik. Inilah bentuk perlawanan halus terhadap struktur male gaze dalam media.

2. Performativitas Gender dan Identitas Perempuan

Teori performativitas gender dari Judith Butler (1990) menjelaskan bahwa identitas gender dibentuk melalui tindakan dan perilaku yang diulang dalam budaya. Ji-yeong adalah simbol perempuan yang “memainkan ulang” peran gender dengan cara baru.

Ia tetap feminin dan lembut, tetapi juga rasional, pemimpin, dan berani menghadapi otoritas laki-laki.

Dalam konteks feminisme media, hal ini menunjukkan pergeseran dari citra perempuan pasif menuju perempuan yang aktif secara intelektual dan emosional. Ji-yeong membuktikan bahwa kekuatan perempuan dapat lahir dari kompetensi, bukan dari ketergantungan pada laki-laki.

3. Feminisasi Dapur: Dari Domestik ke Simbol Kuasa

Dapur yang selama ini diidentikkan sebagai ruang domestik perempuan justru menjadi ruang politik dan simbol kekuasaan dalam drama ini. Dengan kemampuan memasak, Ji-yeong tidak hanya memuaskan selera raja, tetapi mengubah hubungan kekuasaan di istana.

Inilah bentuk feminisasi ruang tradisional bagaimana perempuan mengambil alih simbol-simbol yang dulu dianggap “bukan tempatnya” dan mengubahnya menjadi sumber kuasa baru.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir (1949) yang menyebut bahwa perempuan sering kali menjadi “yang lain” dalam sistem patriarki. Namun melalui pengetahuan dan kreativitas, perempuan dapat menegosiasikan kembali identitasnya sebagai subjek sosial yang berdaya.

Diskusi: Feminisme di Tengah Estetika Media Korea

Sebagai karya budaya populer, Bon Appétit, Your Majesty tetap menjaga estetika khas drama Korea sinematografi lembut, warna hangat, dan busana elegan. Namun, di balik keindahan visual itu tersembunyi narasi feminis yang kuat.

Serial ini tidak memusuhi laki-laki, melainkan mengajak penonton memahami keseimbangan relasi gender melalui empati, kolaborasi, dan intelektualitas.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa feminisme dalam media Korea kini bergerak ke arah “feminisme estetis” yaitu perjuangan kesetaraan yang disampaikan dengan keindahan dan simbolisme, bukan sekadar konfrontasi.

Kesimpulan: Rasa dan Kuasa dalam Narasi Feminisme Media

Bon Appétit, Your Majesty berhasil menghidangkan narasi yang memadukan rasa (emosi, kreativitas) dan kuasa (pengaruh, kepemimpinan) perempuan dalam bingkai yang estetis dan berdaya.

Melalui karakter Yeon Ji-yeong, penonton diajak melihat bahwa kekuatan perempuan tidak selalu muncul dari perang atau pemberontakan, melainkan dari kemampuan berpikir, beradaptasi, dan menciptakan makna baru di ruang yang dulu menindasnya.

Drama ini menjadi contoh bagaimana media populer dapat berfungsi sebagai ruang refleksi bagi feminisme kontemporer mengajak penonton untuk tidak sekadar menonton, tetapi juga memahami.

Sebagai penikmat film dan serial drama, mari kita tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga pengkritik dan pencipta narasi media yang berkeadilan gender.

Bangun kesadaran, analisis representasi, dan gunakan kekuatan media untuk menyuarakan feminisme yang inklusif, empatik, dan membebaskan.