Belajar dari Balik Meja HRD: Cerita Magang di Perusahaan Tekstil Ternama

Mahasiswa semester 1 jurusan psikologi UB
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari ALYSSA VALASANDRA WIRAWAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jawa Timur — Bagi banyak mahasiswa, magang sering kali hanya dipandang sebagai kewajiban akademik. Namun di balik rutinitas yang terlihat sederhana, tersimpan dinamika dunia kerja yang jauh lebih kompleks. Hal itulah yang dirasakan saya, seorang mahasiswa saat menjalani program magang di salah satu perusahaan tekstil besar di Jawa Timur.
Hari pertama magang dimulai seperti kebanyakan pengalaman kerja lainnya: sesi induksi, pengenalan budaya perusahaan, hingga penjelasan tugas. Namun sejak awal, kesan bahwa HRD hanya berkutat pada administrasi langsung terpatahkan.
“HRD itu bukan sekadar urus data karyawan. Tugas utamanya adalah menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan perusahaan,” ungkap salah satu pimpinan HRD dalam wawancara internal.
Pernyataan tersebut terbukti di lapangan. Pada minggu-minggu awal, saya magang, langsung terlibat dalam proses rekrutmen. Saya membantu mengarahkan peserta tes, menyiapkan alat psikotes dan skoring hasil tes untuk mendapatkan raw score.
Di sinilah realitas mulai terlihat: perusahaan tidak sekadar mencari kandidat pintar, tetapi individu yang tepat, baik dari sisi kompetensi maupun kecocokan dengan budaya kerja.
Tak berhenti di sana, peran dalam pengolahan data juga menjadi bagian penting dari aktivitas harian. Mulai dari input data pelamar, pengecekan ulang, hingga memastikan database tetap akurat dan terkini.
Namun, pekerjaan yang paling menyita waktu justru datang dari tugas-tugas administratif. Mengarsipkan dokumen, merapikan file lama, hingga memilah data karyawan aktif dan nonaktif menjadi rutinitas harian. Sekilas terlihat sederhana, bahkan monoton.
Akan tetapi, di balik rutinitas itu tersimpan peran besar.
Tanpa administrasi yang rapi, data sulit dilacak. Tanpa data yang akurat, keputusan strategis bisa meleset. Di sinilah saya mulai memahami bahwa pekerjaan kecil sering kali menjadi fondasi dari sistem besar dalam organisasi.
Memasuki pertengahan masa magang, tanggung jawab semakin berkembang. Keterlibatan dalam kegiatan pelatihan karyawan membuka perspektif baru tentang bagaimana perusahaan membangun kompetensi SDM.
Setiap pelatihan tidak hanya dilaksanakan, tetapi juga dievaluasi secara sistematis. Hasil evaluasi digunakan untuk menilai efektivitas materi, kinerja trainer, hingga kondisi peserta . Bahkan dalam beberapa kasus, perusahaan mengirim karyawan ke pelatihan eksternal untuk memenuhi kebutuhan kompetensi tertentu.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat mengikuti pelatihan keselamatan kerja. Dalam industri manufaktur seperti tekstil, risiko operasional menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Dari sini, terlihat bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan investasi jangka panjang bagi perusahaan.
Tak hanya pekerjaan teknis, saya juga mendapat kesempatan untuk mengerjakan tugas analitis. Mulai dari menyusun analisis SWOT industri tekstil hingga membantu proposal persiapan pensiun karyawan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa HRD juga memiliki peran strategis dalam perencanaan jangka panjang perusahaan.
Budaya kerja juga menjadi sorotan tersendiri. Perusahaan tekstil ini dikenal memiliki nilai religius yang kuat. Aktivitas kerja tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga pada nilai spiritual.
“Bagi sebagian karyawan, bekerja itu bukan hanya soal gaji, tapi juga bentuk aktualisasi diri, bahkan ibadah,” ujar narasumber .
Di tengah tuntutan kerja, perusahaan juga terus mengembangkan sistem evaluasi kinerja. Pengukuran dilakukan melalui berbagai indikator seperti disiplin, kualitas kerja, hingga produktivitas. Beberapa posisi bahkan telah menggunakan sistem KPI, meskipun penerapannya masih bertahap di seluruh lini .
Menjelang akhir masa magang, satu hal menjadi jelas: dunia kerja tidak selalu diisi oleh tugas-tugas besar yang terlihat mencolok. Justru, banyak proses penting bergantung pada pekerjaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Dari balik meja HRD, saya sebagai mahasiswa belajar bahwa profesionalisme dibentuk dari hal-hal kecil seperti ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Lebih dari itu, pengalaman ini juga mengajarkan pentingnya komunikasi, adaptasi, dan kemampuan mengelola waktu dalam lingkungan kerja yang dinamis.
Magang yang awalnya dianggap sebagai kewajiban akademik, pada akhirnya berubah menjadi ruang pembelajaran yang nyata.
Bukan sekadar mengenal dunia kerja, tetapi memahami bagaimana setiap peran, sekecil apa pun, berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan sebuah perusahaan.
Dan dari sana, satu kesimpulan muncul: dunia kerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, melainkan tentang terus belajar, berkembang, dan menemukan makna di setiap prosesnya.
