Konten dari Pengguna

Merasa Jauh dari Allah? Ini Cara Mendekatkan Diri di Tengah Kesibukan Kuliah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amalia Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa kuliah itu bukan hanya tentang menghadiri kelas, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi dan lomba, atau mempersiapkan masa depan. Ada banyak tuntutan yang harus dijalani dalam waktu bersamaan. Tanpa disadari, kesibukan tersebut terkadang membuat kita lupa memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, bahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ilustrasi mahasiswa yang mengerjakan tugas sampai lupa waktu. Foto : Amalia Lestari.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa yang mengerjakan tugas sampai lupa waktu. Foto : Amalia Lestari.

Pernahkah kita sebagai mahasiswa merasa jadwal kita sangat padat hingga waktu terasa terus berjalan sangat cepat? Tugas belum selesai, jadwal kuliah terus berdatangan, dan berbagai tanggung jawab lainnya menunggu untuk diselesaikan. Di tengah keadaan itu, ibadah yang seharusnya menjadi bagian penting dalam kehidupan malah terasa seperti sesuatu yang dilakukan jika sempat saja.

Bukan berarti kita tidak dekat lagi dengan Allah. Bisa jadi, kita hanya terlalu sibuk mengejar banyak hal di dunia sampai lupa menjaga hubungan dengan-Nya.

1. Menjaga Hubungan dengan Allah di Tengah Kesibukan Kuliah

Kehidupan mahasiswa sering kali dipenuhi target. Ada yang ingin memperoleh nilai tinggi, aktif dalam organisasi, mendapatkan prestasi, atau segera memiliki pekerjaan yang baik setelah lulus. Semua itu merupakan hal yang wajar karena mahasiswa sedang berada dalam proses membangun masa depan.

Namun, kesibukan itu terkadang membuat kita merasa tidak punya waktu untuk hal lain. Apakah kesibukan ini benar-benar membuat kita berkembang, atau justru membuat kita menunda hal-hal yang sebenarnya penting? Kita mungkin terbiasa mengatur jadwal kuliah, membuat tugas, dan menentukan target akademik, tetapi jarang menyediakan waktu untuk mengevaluasi keadaan spiritual diri kita sendiri.

Kita sudah menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi akan ada perasaan bahwa hubungan dengan Allah tidak lagi sedekat dahulu. Kita baru menyadari hal tersebut ketika merasa gelisah, kehilangan ketenangan, atau menyadari bahwa kita semakin jarang berdoa dengan sungguh-sungguh. Misalnya, mahasiswa yang baru mengingat berdo'a hanya ketika menghadapi ujian atau mendapatkan kesulitan pada saat kuliah saja.

Hal ini tidak perlu langsung disikapi dengan menyalahkan diri sendiri. Namun, Kesadaran bahwa kita mulai menjauh justru dapat menjadi awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah secara perlahan.

2. Apakah Mengejar Masa Depan Berarti Melupakan Akhirat?

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan hal yang bagus dan bukan hal yang bertentangan dengan agama. Justru, semua itu dapat menjadi bagian dari usaha menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.

Masalahnya bukan terletak pada kesibukan itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita menempatkan kesibukan tersebut dalam kehidupan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 10:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

Ayat ini memberikan gambaran bahwa aktivitas duniawi dan mengingat Allah dapat berjalan secara berdampingan. Setelah melaksanakan salat, manusia dipersilakan kembali beraktivitas dan mencari karunia-Nya.

Kita tetap dapat mengejar prestasi, menyelesaikan tugas, dan mempersiapkan karier. Namun, jangan sampai seluruh perhatian hanya tertuju pada pencapaian duniawi hingga kita tidak ingat untuk memberikan ruang bagi ibadah dan refleksi diri.

3. Mendekat Kembali Tidak Harus Menunggu Hidup Menjadi Tenang

Salah satu alasan seseorang sulit memperbaiki ibadahnya adalah anggapan bahwa dirinya harus menunggu waktu yang pas. Mereka berpikir bisa rajin beribadah setelah tugas selesai, lebih banyak berdoa ketika tidak sibuk, atau lebih dekat kepada Allah ketika masalah sudah berkurang.

Padahal, kehidupan mahasiswa hampir selalu memiliki kesibukan baru. Ketika satu tugas selesai, tugas lain berdatangan. Setelah satu semester berakhir, semester berikutnya kembali membawa tanggung jawab yang baru. Jika terus menunggu keadaan tenang, kita akan terus menunda kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mendekat kepada Allah dapat dimulai melalui langkah-langkah sederhana. Seperti mencoba menjaga shalat 5 waktu, menyempatkan membaca Al-Qur'an beberapa menit, memanfaatkan waktu luang di sela kuliah untuk berzikir, dan berdoa sebelum beraktivitas. Hal ini dapat membantu kita kembali menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita capai, melainkan juga tentang bagaimana kita menjalani prosesnya.

Memang setiap orang memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda, itulah kenapa memperbaiki hubungan dengan Allah tidak perlu dijadikan perlombaan untuk terlihat paling religius. Yang paling penting adalah kemauan untuk terus berusaha dan kembali ketika merasa mulai menjauh.

4. Menjaga Keseimbangan antara Ikhtiar dan Ibadah

Mahasiswa tidak harus memilih untuk menjadi seseorang yang berprestasi atau menjadi orang yang rajin beribadah. Keduanya dapat berjalan bersama jika kita bisa mengatur mana yang menjadi prioritas.

Apa arti menjadi mahasiswa yang berhasil jika nilai akademiknya baik, tetapi ia mengabaikan kejujuran atau tanggung jawab ?Mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh juga merupakan bentuk tanggung jawab. Begitu pula menjaga ibadah, ini juga bagian dari tanggung jawab kita sebagai seorang Muslim.

Menjaga hubungan dengan Allah bukan hanya tentang menambah aktivitas ibadah, tetapi juga tentang memperbaiki sikap dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap jujur saat mengerjakan tugas, tidak merugikan orang lain, menghargai dosen dan teman, serta menjalankan amanah merupakan bagian dari perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Agama itu tidak seharusnya terasa seperti beban tambahan di tengah kesibukan. Sebaliknya, nilai-nilai agama dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan kampus dengan lebih bertanggung jawab.

Terkadang ada masa ketika kita merasa bersemangat dalam beribadah, tetapi ada pula masa ketika kesibukan membuat kita kehilangan konsistensi. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah atau merasa tidak layak kembali mendekat kepada Allah. Jangan sampai kita lupa kepada Zat yang menjadi tempat kita berharap dan memohon pertolongan.

Kesibukan memang tidak selalu bisa kita hindari, tapi kita perlu memahami bahwa bukan hanya seberapa jauh kita telah melangkah dalam mengejar masa depan, tetapi juga apakah dalam perjalanan itu kita masih menyediakan ruang untuk mengingat Allah. Karena keberhasilan bukan sekadar tentang tujuan yang berhasil dicapai, melainkan juga tentang nilai-nilai yang tetap kita jaga selama prosesnya.