Panen Hidroponik BUMDes Leyangan, KKN UPGRIS Dukung Ketahanan Pangan Desa

KKN 09 Leyangan Universitas PGRI Semarang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari KKN 09 Leyangan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) bersama pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Leyangan melaksanakan kegiatan panen hasil pembenihan tanaman hidroponik yang berlangsung pada Selasa, 3 Maret 2026 di greenhouse BUMDes yang berada di Dukuh Jetis, Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran langsung bagi mahasiswa sekaligus upaya mendukung pengembangan ketahanan pangan desa melalui pertanian modern berbasis hidroponik. Panen tersebut menjadi momen penting dalam rangkaian kegiatan pengelolaan tanaman hidroponik yang selama ini dikembangkan oleh BUMDes Leyangan. Beberapa jenis sayuran yang berhasil dipanen di antaranya bayam merah, sawi, dan pakcoy. Tanaman-tanaman tersebut tumbuh subur di dalam instalasi hidroponik yang tersusun rapi di dalam greenhouse, menunjukkan bahwa metode pertanian tanpa tanah ini mampu menghasilkan produk sayuran yang segar dan berkualitas. Kegiatan panen juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa KKN UPGRIS yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Leyangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya melihat hasil panen, tetapi juga mempelajari secara langsung tahapan dalam sistem budidaya hidroponik, mulai dari proses pembenihan, perawatan tanaman, pengaturan nutrisi, hingga teknik pemanenan yang tepat agar kualitas sayuran tetap terjaga. Salah satu mahasiswa KKN UPGRIS Desa Leyangan, Rizka Sada’ Ulina, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan panen hidroponik ini memberikan pengalaman pembelajaran yang sangat berarti. Menurutnya, praktik langsung di lapangan menjadi kesempatan berharga untuk memahami bagaimana inovasi pertanian dapat diterapkan secara nyata di tingkat desa. “Melalui kegiatan ini kami mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai sistem pertanian hidroponik. Selama ini kami hanya mengetahui secara teori, tetapi di Desa Leyangan kami bisa melihat langsung bagaimana proses pembenihan, perawatan, hingga panen dilakukan dengan sistem yang terstruktur. Hal ini tentu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami sebagai mahasiswa,” ujar Rizka. Ia juga menilai bahwa program hidroponik yang dikembangkan oleh BUMDes Leyangan memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor pertanian. Rizka berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih tertarik pada bidang pertanian modern. “Kami berharap pengembangan hidroponik di Desa Leyangan dapat terus berlanjut dan semakin berkembang. Selain memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan sehat, program ini juga dapat menjadi contoh bahwa sektor pertanian bisa dikelola secara inovatif dan memiliki nilai ekonomi yang baik,” tambahnya. Sementara itu, Ketua Pengelola Greenhouse BUMDes Leyangan, Kisyanto, menjelaskan bahwa pengembangan hidroponik di Dukuh Jetis merupakan bagian dari upaya desa dalam memaksimalkan potensi pertanian yang lebih efisien dan produktif. Menurutnya, metode hidroponik dipilih karena mampu menghasilkan sayuran berkualitas dengan penggunaan lahan yang lebih hemat serta proses budidaya yang lebih terkontrol. “Greenhouse ini menjadi salah satu langkah desa untuk mengembangkan pertanian yang lebih modern. Dengan sistem hidroponik, tanaman dapat tumbuh lebih terjaga karena nutrisi dan lingkungannya dapat dikontrol dengan baik. Hasil panen seperti bayam merah, sawi, dan pakcoy ini menunjukkan bahwa metode ini sangat potensial untuk dikembangkan di desa,” jelas Kisyanto. Ia juga mengapresiasi partisipasi mahasiswa KKN UPGRIS yang turut belajar dan terlibat dalam kegiatan di greenhouse BUMDes. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan pengelola desa dapat menciptakan pertukaran ilmu yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN yang ikut mempelajari dan mengenal lebih dekat sistem hidroponik di sini. Kehadiran mereka membawa semangat baru dan tentunya menjadi bagian dari proses berbagi ilmu antara dunia pendidikan dan praktik di lapangan,” tuturnya. Lebih lanjut, Kisyanto berharap greenhouse hidroponik BUMDes Leyangan dapat terus dikembangkan sehingga tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi sayuran, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat, pelajar, maupun mahasiswa yang ingin mengenal lebih jauh tentang pertanian hidroponik. Kegiatan panen hidroponik ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan pengelola BUMDes dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan potensi desa. Selain memperkuat sektor pertanian, kegiatan ini juga membuka ruang pembelajaran yang luas bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika pembangunan desa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPGRIS tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis yang dapat menjadi bekal di masa depan. Sementara bagi Desa Leyangan, keberadaan greenhouse hidroponik menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pertanian yang inovatif, berkelanjutan, serta mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat di tingkat desa.
