Kedai Seboeah Tjinta: Bermula Dari Cinta, Mimpi, dan Hobi

Mahasiswa Semester 4 Program Studi Jurnalistik Fikom Unpad
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amanda Kayla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandung - Di sebuah sudut perumahan kecil di Kawasan Cihapit, Kota Bandung, tersembunyi sebuah kedai mungil yang tak hanya menyajikan secangkir kopi dan kue, tetapi juga menyimpan cerita tentang mimpi dan hobi, yaitu Kedai Seboeah Tjinta.
Nama Kedai Seboeah Tjinta menunjukkan arti sebagai bentuk cinta dari pemiliknya dengan harapan tersalurkan sebuah rasa cinta kepada para pengunjung. Penggunaan mesin kopi rumahan serta proses pembuatan makanan yang serba homemade, menunjukkan olahan makanan rumahan tersebut diciptakan untuk memberikan rasa hangat, nyaman, dan cinta. Selain itu, penggunaan ejaan lama yang unik dalam nama 'Seboeah Tjinta' ibarat menunjukkan identitas lokal Bahasa Indonesia yang menegaskan ini sebuah kedai bukanlah kafe ataupun coffee shop.
Kedai mungil nan unik yang bernamakan Kedai Seboeah Tjinta ini dirintis oleh Nurul bersama teman-temannya. Nurul yang selama ini telah mencita-citakan untuk memiliki kedai sedari kuliah, akhirnya mampu merealisasikan berdirinya Kedai Seboeah Tjinta pada bulan Januari 2025. Salah satu alasannya yang mendorong untuk mendirikan sebuah kedai adalah kegemarannya dalam jalan-jalan dan mengopi.
"Alasan pengen bikin kedai juga karena suka ngopi dan jalan-jalan. Tapi, kenapa aku akhirnya buat Kedai Seboeah Tjinta aku pengen buat suatu tempat yang sekiranya nyaman dengan rasa di rumah dan harga affordable," ujar Nurul.
Melalui konsep desain kedai yang vibrant dan unik cukup membuat kedai ini berbeda dengan kedai ataupun kafe lainnya. Kedai ini menunjukkan rasa selayaknya nongkrong di rumah kepada pengunjung dengan cara menaruh beberapa koleksi barang pribadi Nurul di kedai. Sehingga hal ini membuat para pengunjung merasakan seakan sedang bertamu di sebuah rumah.
Tak jarang pula kedai ini menjadi wadah berbagai lokakarya ataupun acara ulang tahun. Biasanya lokakarya yang diadakan berasal dari teman-teman yang memiliki small business, seperti mendekor kue, florist, dan workshop lainnya. Saat ini pun Nurul mengungkapkan akan ada sebuah seminar yang berjalan di Kedai Seboeah Tjinta.
Hobi Trinkets, Boneka, dan Bunga
Konsep homey atau rumahan yang disuguhkan oleh Kedai Seboeah Tjinta bukanlah tanpa alasan. Di setiap sudut kedai ini dipenuhi berbagai koleksi panjangan berupa trinkets, boneka, dan bunga. Trinkets adalah sebuah karya benda-benda kecil atau pernak-pernik. Trinkets ataupun boneka yang ada di kedai ini merupakan koleksi pribadi Nurul sebagai pemilik. Nurul menyatakan bahwa koleksi trinkets dan boneka tersebut adalah bagian dari nostalgia masa lalunya sehingga banyak figur antik.
Nanda (20) sebagai adik dari Nurul juga mengatakan bahwa mereka senang hunting bersama untuk mencari trinkets ataupun boneka di pasar-pasar antik. Baginya, setiap sudut di Kedai Seboeah Tjinta dibuat benar-benar dari hati.
"Kalau misal bisa dilihat dari sudut-sudutnya itu, ada banyak boneka-boneka, ada Sylvanians, itu tuh mainan-mainan kakak. Jadi, menurut kakak kalau ada mainan-mainan itu nunjukkin pengunjungnya itu ngerasa di rumah gitu ga terasa hectic harus tetap nyaman dan ga seberisik kafe lain," tambah Nanda.
Hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama Kedai Seboeah Tjinta bagi orang-orang yang suka mainan, seperti trinkets, boneka, atau toko-toko lucu.
Salsa (19), sebagai pengunjung menceritakan alasannya tertarik berkunjung ke Kedai Seboeah Tjinta karena konsep kedai yang homey dan terdapat banyak mainan.
"Konsep kedainya yang homey dan warna-warni gemes banget, terus banyak mainan-mainan kesukaan aku yang dipajang, Sylvanians dan banyak majalah-majalah lucu, banyak spot foto yang menarik juga," ucap Salsa.
Hal ini sejalan dengan apa yang dirasakan Valuna (19) sebagai pekerja paruh waktu di Kedai Seboeah Tjinta. Ia memiliki fakta unik saat bekerja yang di mana selalu bertemu dengan pelanggan yang well dressed.
"Jadi orang-orang yang dateng kesini selalu berpakaian rapih, berpakaian lucu, unik gitu. Jadi kayaknya orang-orang yang datang kesini emang ada value yang dicari atau kesamaan yang dicari. Misal sama-sama suka Sylvanians, atau suka bunga, dan rata rata perempuan," ujar Valuna.
Tak hanya dihiasi oleh berbagai trinkets dan boneka yang lucu, tetapi Kedai Seboeah Tjinta juga dilengkapi dengan berbagai bunga hidup yang segar di setiap mejanya. Hal ini juga dipengaruhi karena Nurul yang memiliki toko bunga. Namun, menurut Nanda merawat bunga di kedai ini menjadi tantangan yang cukup sulit. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menggunakan Bunga Bougenville yang akan terus mekar.
Tantangan dan Harapan Kedai
Meskipun kedai ini telah berjalan selama enam bulan lamanya, tentu saja Nurul memiliki perjalanan yang tidak mudah dalam merintis kedai mungil ini. Dimulai dari sulitnya mempromosikan ke orang-orang agar tahu dan datang ke kedai. Tantangan lainnya yang dirasakan oleh Nurul hingga saat ini adalah belum menemukan pelanggan yang datang untuk di waktu daily karena umumnya orang berkunjung ke kedai sekedar untuk bermain, berfoto, dan liburan saja.
"Harapannya semoga bisa long-lasting, bertahan lama, berkembang, bertumbuh. Bisa bikin inovasi-inovasi baru, biar orang-orang lain yang datang enggak bosan gitu. Paling harapan aku itu semoga bisa bertumbuh lebih besar lagi," ungkap Nurul.
