Konten dari Pengguna

Ferrari dan F1: Ketika Tim Balap Menjadi Aset Bisnis Global

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amarita Naida Zamiryan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ferrari SF-25 melaju di lintasan Formula 1. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ferrari SF-25 melaju di lintasan Formula 1. Sumber: Unsplash

Ferrari mengakhiri musim Formula 1 2025 di posisi keempat klasemen konstruktor dan tidak memenangkan satu pun Grand Prix. Namun, kalau melihat Ferrari hanya dari hasil balapan, ada bagian penting yang terlewat. Pada tahun yang sama, pendapatan Ferrari dari sponsorship, aktivitas komersial, dan brand mencapai €820 juta, naik 22,4% dari €670 juta pada 2024. Ferrari menyebut pertumbuhan tersebut didorong oleh sponsorship balap, pendapatan komersial yang berkaitan dengan performa balap, serta perkembangan bisnis lifestyle.

Angka itu memang tidak seluruhnya berasal dari Formula 1. Pos tersebut juga mencakup aktivitas brand dan lifestyle Ferrari. Tetapi data tersebut menunjukkan satu hal yang menarik bagi Ferrari, balapan bukan kegiatan yang berdiri sendiri dari bisnis perusahaan.

Selama ini Formula 1 lebih sering dilihat sebagai arena persaingan olahraga. Padahal, di balik setiap Grand Prix terdapat jaringan perusahaan, sponsor, pemasok teknologi, media, penyelenggara, dan konsumen yang bergerak melintasi batas negara. Dalam hal ini, F1 sebagai kompetisi olahraga menjadi ruang ekonomi yang mempertemukan kepentingan berbagai aktor global.

Di sinilah Ferrari menjadi menarik untuk dilihat dari perspektif Hubungan Internasional.

Dalam kajian HI, perusahaan multinasional atau MNC tidak lagi hanya dipandang sebagai pelaku ekonomi yang mengikuti kebijakan negara. Mereka juga dapat bertindak sebagai aktor transnasional yang mempunyai sumber daya, jaringan, dan kepentingan yang melampaui batas negara. James Goodman menjelaskan bahwa MNC dapat memiliki kapasitas untuk bertindak di tingkat internasional dan membangun hubungan yang tidak hanya berhubungan dengan pemerintah, tetapi juga dengan berbagai aktor dalam ruang transnasional.

Susan Strange melihat perusahaan transnasional sebagai bagian dari perubahan distribusi kekuasaan dalam ekonomi politik internasional. Menurut Strange, perubahan dalam struktur produksi global membuat perusahaan transnasional tidak sekadar menjadi pelaku pasar, tetapi juga memiliki hubungan politik dan kemampuan untuk memengaruhi lingkungan tempat mereka beroperasi.

Ferrari dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Ia bukan negara, tetapi mereknya bergerak di banyak pasar, membangun jaringan bisnis lintas negara, dan menggunakan arena internasional seperti Formula 1 untuk memperkuat kepentingan perusahaannya.

Mengapa Ferrari Begitu Penting di Formula 1?

Ferrari bukan pendatang baru di dunia F1. Scuderia Ferrari merupakan satu-satunya tim yang mengikuti seluruh musim kejuaraan dunia sejak 1950. Hingga kini, Ferrari telah mengoleksi 16 gelar konstruktor dan 15 gelar pembalap, menjadikannya tim dengan catatan gelar terbanyak dalam sejarah F1.

Posisi ini memberi Ferrari sesuatu yang sangat berharga dalam ekonomi global yaitu pengakuan merek yang dibangun selama puluhan tahun.

Ferrari sendiri menyebut bahwa hubungan mereknya dengan Scuderia merupakan bagian penting dari identitas perusahaan. Dalam laporan tahunannya, Ferrari menjelaskan bahwa Formula 1 memberikan platform global untuk mempromosikan merek dan teknologi kepada audiens internasional tanpa harus bergantung sepenuhnya pada iklan tradisional. Bagi perusahaan yang bergerak di sektor luxury, pendekatan tersebut juga membantu mempertahankan eksklusivitas merek.

F1 menyediakan sesuatu yang sulit diperoleh melalui kampanye iklan biasa. Ferrari tidak perlu hanya mengatakan bahwa produknya cepat, berteknologi tinggi, atau memiliki sejarah panjang. Semua citra itu dipertontonkan secara langsung melalui kompetisi yang disaksikan audiens global.

F1 Tidak Berhenti di Sirkuit

Hubungan Ferrari dan F1 juga menarik karena menyentuh bagian lain dari bisnis perusahaan, yaitu teknologi.

Ferrari menjelaskan bahwa pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan untuk mobil balap kerap dialihkan ke mobil jalanan. Contohnya termasuk paddle shift, pengembangan material komposit untuk mengurangi bobot kendaraan, aerodinamika, dan teknologi hybrid. Pengalaman pengembangan mobil balap serta penggunaan wind tunnel juga dimanfaatkan dalam pengembangan mobil produksi.

Di sini Formula 1 dapat dilihat sebagai ruang riset yang bekerja dalam skala global. Teknologi dikembangkan untuk menghadapi persaingan yang ketat, kemudian pengetahuan yang diperoleh dapat digunakan kembali di luar lintasan.

Hubungan tersebut penting bagi Ferrari karena perusahaan bukan sekadar menjual mobil, tetapi juga menjual citra mengenai inovasi dan performa. Mobil yang diproduksi di Maranello dan Modena kemudian dipasarkan melalui jaringan internasional di sekitar 60 pasar dunia.

Tim Balap yang Menghasilkan Hubungan Bisnis

Ada satu hal lain yang sering luput ketika melihat Ferrari di F1: relasi bisnis yang tercipta di sekitar tim.

Ferrari menggunakan platform Formula 1 untuk mengadakan hospitality bagi klien dan mitra, membawa mereka ke Grand Prix, serta melibatkan pembalap dalam berbagai kegiatan promosi. Ferrari juga menjual mobil Formula 1 lama kepada pelanggan untuk koleksi atau balap amatir.

Jadi, sirkuit ini menjadi tempat perusahaan bertemu pelanggan, sponsor, mitra, media, dan jaringan bisnis internasional.

Dalam konteks ekonomi politik internasional, pola semacam ini menunjukkan bahwa aktivitas perusahaan global tidak selalu berlangsung melalui kantor cabang atau investasi langsung di luar negeri. Hubungan transnasional juga dapat dibangun melalui jaringan olahraga, media, teknologi, sponsorship, dan komunitas global.

Formula 1 menyediakan ruang tersebut secara alami karena satu musim mempertemukan berbagai negara, perusahaan, dan audiens dalam satu kompetisi global.

Lalu, Mengapa Ferrari Harus Terus Berada di F1?

Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika melihat bahwa Ferrari tidak selalu berada di puncak klasemen. Pada 2025, Scuderia Ferrari hanya berada di posisi keempat dan belum menambah gelar konstruktor sejak 2008.

Namun, Ferrari tetap mempertahankan keberadaannya.

Salah satu alasannya dapat dilihat dari cara perusahaan sendiri menjelaskan hubungan antara balap dan bisnis. Ferrari mengakui bahwa pendapatan sponsorship, komersial, dan brand dipengaruhi oleh daya tarik merek serta keberhasilan historis dan performa tim balap, terutama Scuderia Ferrari di Formula 1. Pendapatan pada kategori tersebut meningkat dari €572 juta pada 2023 menjadi €670 juta pada 2024 dan €820 juta pada 2025. Ferrari juga mencatat bahwa pendapatan komersial Formula 1 meningkat karena peringkat tim yang lebih baik pada musim 2024 dibandingkan 2023.

Hubungannya berarti dua arah. Ferrari mendapat manfaat ekonomi dan reputasi dari F1, tetapi pada saat yang sama performa tim juga ikut memengaruhi nilai komersial yang diperoleh perusahaan. Karena itu, ada kepentingan bisnis yang ikut melekat di dalamnya.

Ketika Olahraga Menjadi Bagian dari Strategi Global

Kalau dilihat dari jauh, Ferrari di Formula 1 hanyalah salah satu tim yang mengejar kemenangan. Namun jika dilihat dari perspektif HI, gambarnya menjadi lebih luas.

Ferrari adalah perusahaan yang beroperasi lintas batas, tetapi sebagian kekuatan globalnya dibangun melalui ruang yang bukan pasar tradisional. Formula 1 menjadi titik pertemuan antara perusahaan, teknologi, media, sponsor, pelanggan, dan berbagai jaringan internasional.

Di sinilah gagasan Susan Strange mengenai perubahan struktur kekuasaan dalam ekonomi politik internasional menjadi relevan. Kekuasaan tidak hanya berada pada negara dan institusi pemerintah. Aktor ekonomi yang mampu mengendalikan sumber daya, pengetahuan, jaringan, dan akses terhadap pasar juga dapat memperoleh posisi penting dalam hubungan global.

Ferrari tentu tidak berada pada posisi seperti sebuah negara dan tidak dapat disamakan dengan aktor politik dalam pengertian konvensional. Namun, kasus Ferrari menunjukkan bagaimana perusahaan multinasional dapat menggunakan ruang internasional untuk membangun pengaruh ekonomi, memperkuat identitas, dan menjaga hubungan dengan pasar global.

Karena itu, Formula 1 bagi Ferrari bukan sekadar siapa yang paling cepat melewati garis finis. Di belakangnya terdapat strategi untuk mempertahankan nama, pengetahuan, jaringan, dan nilai ekonomi perusahaan. Ferrari mungkin datang ke sirkuit untuk memenangkan balapan. Tetapi sebagai perusahaan global, ada alasan lain mengapa mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan Formula 1 karena sebagian dari nilai Ferrari justru dibangun di sana.