Siapa yang Membuat F1 Mendunia? Jawabannya Bukan Pembalap.

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amarita Naida Zamiryan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Formula 1 sering dipuji sebagai olahraga paling global di dunia. Tetapi "global" bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Untuk mempertahankan citra itu, F1 bergantung pada multinasional lain yang bekerja tanpa sorotan kamera: DHL.
Dua perusahaan global, satu operasi
Musim 2026 mencakup 24 balapan di 21 negara. F1 sendiri adalah bisnis lintas negara yang menjual hak siar, kontrak promotor, dan sponsor di berbagai pasar. Untuk menjalankan kalender sepadat itu, F1 menyerahkan urusan logistiknya kepada DHL, yang menyebut dirinya Official Logistics Partner dan menjalin kemitraan terlama dalam sejarah olahraga ini.
DHL pantas menjadi mitra karena ia adalah multinasional sungguhan. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 584.000 orang di lebih dari 220 negara dan wilayah, dengan pendapatan €82,9 miliar pada 2025. Dengan jaringan sebesar itu, DHL tidak perlu membangun infrastruktur dari nol setiap kali F1 mendarat di negara baru. Ia sudah punya kantor, gudang, hubungan dengan otoritas bea cukai, dan tenaga lokal di sana.
Mengapa F1 memilih outsourcing
Dari sudut pandang manajemen, keputusan ini klasik. Tim dan penyelenggara F1 punya keahlian balapan, bukan menggerakkan ratusan ton kargo lintas yurisdiksi. Lebih efisien menyerahkannya kepada spesialis. DHL menyebut volume kargonya hingga 1.200 ton per balapan, mencakup mobil, mesin, ban, suku cadang, serta perangkat siaran dan hospitality.
Dalam kerangka tata kelola rantai nilai global, hubungan F1 dan DHL juga tidak seperti transaksi pasar biasa. Gereffi, Humphrey, dan Sturgeon membedakan lima tipe tata kelola, dari market hingga hierarchy, berdasarkan tingkat koordinasi dan ketimpangan kuasa antarpihak. Kemitraan F1–DHL, dengan perencanaan setahun di muka dan kolaborasi jangka panjang, lebih dekat ke bentuk relational, di mana koordinasi intens dan kedua pihak saling bergantung. Artinya, bagi F1, mengganti penyedia logistik bukan perkara sepele, dan bagi DHL, F1 adalah klien yang menuntut standar tertinggi sekaligus etalase kemampuan globalnya. Tentu, teori ini awalnya dikembangkan untuk industri manufaktur seperti sepeda, pakaian, dan elektronik, sehingga penerapannya pada logistik olahraga di sini adalah analogi.
Kompleksitas khas multinasional
Tantangan yang dihadapi DHL dalam menangani logistik Formula 1 mencerminkan kompleksitas yang umum dihadapi perusahaan multinasional, tetapi dengan tenggat waktu yang jauh lebih ketat. DHL mulai merencanakan kebutuhan logistik sekitar satu tahun sebelum musim berlangsung dengan memadukan transportasi laut, udara, dan darat.
Setiap moda memiliki fungsi berbeda transportasi udara digunakan untuk kargo yang harus cepat sampai, misalnya peralatan yang dibutuhkan segera untuk balapan berikutnya, sedangkan transportasi laut digunakan untuk barang yang sudah bisa dikirim jauh-jauh hari karena waktu tempuhnya lebih lama. Bahkan, pada hari Senin setelah balapan, sebagian besar kargo udara sudah harus bergerak menuju sirkuit berikutnya. Untuk menjaga kelancaran perpindahan tersebut, setiap tim juga disebut memiliki sekitar lima set kargo laut yang bergerak mendahului kalender balapan.
Di sisi lain, DHL harus menghadapi birokrasi dan prosedur kepabeanan yang berbeda di setiap negara, terlebih karena beberapa balapan berlangsung berurutan dan sirkuit berada di tengah kota. Kompleksitas ini menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis multinasional sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menyinkronkan aturan, infrastruktur, moda transportasi, dan waktu di berbagai wilayah secara bersamaan.
Dari global ke regional
Menariknya, DHL menyebut perencanaan rutenya kini mengikuti "regionalisasi" logistik balapan untuk memperpendek jarak antarlomba. Pergeseran ini sejalan dengan kecenderungan MNC untuk membangun jaringan rantai pasok yang lebih regional guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan terhadap berbagai gangguan.
Pergeseran ini terlihat dalam pengelolaan logistik Formula 1 yang semakin menggunakan pendekatan regional. DHL menyesuaikan rute dan moda transportasi berdasarkan urutan balapan agar jarak pengiriman dapat dipersingkat dan operasional menjadi lebih efisien.
Salah satu contohnya terjadi pada musim 2026 ketika DHL untuk pertama kalinya menggunakan kereta api untuk mengangkut sekitar 50 kontainer perlengkapan balap dari Miami ke Montreal sejauh hampir 2.000 kilometer. Sekitar 68% kargo yang sebelumnya direncanakan melalui jalur darat dialihkan ke kereta dalam pengiriman tersebut. Langkah ini menunjukkan bagaimana DHL memanfaatkan jaringan globalnya sekaligus menyesuaikan strategi logistik dengan karakteristik masing-masing kawasan.
Apa yang Bisa Dipelajari Bisnis Lain
DHL dan Formula 1 memperlihatkan bahwa menjalankan bisnis di banyak negara membutuhkan jaringan dan koordinasi yang kuat. Perusahaan tidak harus membangun seluruh jaringan tersebut sendiri. Memanfaatkan mitra yang sudah memiliki infrastruktur dan pengalaman di berbagai negara dapat membuat ekspansi ke pasar global menjadi lebih praktis. Di saat yang sama, perusahaan juga perlu menyesuaikan cara kerjanya dengan kondisi tiap kawasan, seperti yang dilakukan DHL melalui penggunaan berbagai moda transportasi dan pengaturan rute regional.
Pada akhirnya, yang terlihat saat Grand Prix hanyalah mobil yang melaju di lintasan. Di baliknya, ada proses panjang untuk memastikan mobil, peralatan, dan kebutuhan tim sudah tiba di negara berikutnya tepat waktu. Di situlah peran DHL penting yaitu menjaga agar F1 dapat terus berpindah dari satu negara ke negara lain tanpa mengganggu jalannya kompetisi.
