Konten dari Pengguna

Mendatangi Setan, Bukan Tuhan: Pesan Tersembunyi dalam Cerpen "Bohlam"

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari amelia putri mardiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cahaya yang tampak menjanjikan belum tentu membawa kebahagiaan. Ilustrasi cerpen bohlam ini menggambarkan perjalanan seorang tokoh yang terjebak oleh ambisinya sendiri. Dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Cahaya yang tampak menjanjikan belum tentu membawa kebahagiaan. Ilustrasi cerpen bohlam ini menggambarkan perjalanan seorang tokoh yang terjebak oleh ambisinya sendiri. Dibuat dan diedit sendiri menggunakan Canva.

Mendatangi setan, bukan Tuhan? Ada momen dalam hidup ketika seseorang merasa begitu muak dengan kegelapan, sampai ia rela mencari jalan pintas tanpa bertanya ke mana jalan itu berujung.

Itulah yang ditulis oleh Reja Fahleja dalam cerpennya, “Bohlam”. Sekilas tampak seperti cerita metaforik biasa tentang manusia yang mencari kebahagiaan. Namun, jika dibaca lebih dalam, Cerita ini bukan sekadar fiksi, melainkan cermin dari kelemahan terdalam manusia saat menghadapi keputusasaan.

1. Menggali Tema: Jebakan Keputusasaan Manusia

"Langkahmu terbata-bata. Kau menghampiriku dengan wajah putus asa. Tatapanmu memelas lama. Kita adalah entitas berbeda dalam ruang yang sama."

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ada dua pihak yang tidak setara, ada keputusasaan, dan ada sesuatu yang tidak beres dengan "entitas berbeda" ini.

Tema utama Bohlam adalah keputusasaan yang mendorong manusia berpaling dari Tuhan dan jatuh ke dalam jebakan yang ia ciptakan sendiri. Ketidaksabaran manusia, nafsu akan kesenangan instan, dan ketidakmampuan untuk bersyukur atas kondisi asal.

2. Alur yang mencekam

Salah satu kekuatan cerpen “Bohlam” terletak pada cara alurnya bekerja, tidak dramatis, melainkan menumpuk perlahan seperti es yang mengurung tanpa disadari.

Plot yang baik bukan sekadar urutan kejadian, melainkan hubungan sebab-akibat yang membuat pembaca terus bertanya: mengapa ini terjadi, dan apa yang akan menyusulnya?

Tiga tahapan plot terlihat jelas. Awal: perkenalan tokoh manusia putus asa yang mendatangi narator dan memohon cahaya.

"Aku tahu cahaya itu tak akan bertahan lama. Begitu matamu terpejam, semua akan tampak sama. Sebenarnya, kau hanya perlu bersabar hingga pagi menjelang. Tetapi aku sama sekali tidak berniat memberi petuah untuk kau renungi. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Tentu dengan konsekuensi yang harus kau jalani."

Tengah: proses pemberian balok-balok es yang terus bertambah setiap kali tokoh mengeluh dan ruang geraknya menyempit tanpa ia sadari.

"Setiap ruang kosong pada tangga-tangga yang telah kau tapaki, kuisi lagi dengan balok-balok es serupa. Begitu seterusnya, hingga setiap ruang kosong di bawah telapak kakimu telah dipenuhi dengan susunan balok-balok sejenis. Kau melihat aksiku, tapi kau tak peduli."

Akhir: kesadaran yang datang terlambat, kepasrahan, dan kematian.

"Kau menyadari dirimu telah terperangkap pada tujuan agung yang ternyata tak pernah benar-benar agung."

Dalam Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiantoro juga menyebut salah satu kaidah pemplotan yang penting adalah suspense, ketegangan yang membuat pembaca terus ingin tahu apa yang akan terjadi. “Bohlam” membangun suspense bukan lewat aksi dramatis, tapi lewat pertanyaan moral yang terus menggantung: “sampai kapan tokoh ini akan meminta? Dan apa yang akan terjadi jika ia tidak berhenti?”

3. Penokohan: Antara tokoh sederhana dan tokoh bulat

Tokoh "Aku" (tokoh sekaligus narator) adalah tokoh antagonis sekaligus tokoh bulat, ia memiliki motivasi yang jelas dan logikanya sendiri.

"Aku tidak pernah benar-benar ingin membantumu. Jika kau begitu menginginkan cahaya itu, aku pun begitu menginginkan orang-orang sepertimu untuk menjadi bara agar ruangan ini tetap bercahaya."

Ia bukan sekadar sosok jahat, ia memiliki aturan main yang konsisten, bahkan mengakui keterbatasannya sendiri: "Aku tak kuasa mengambil kembali apa yang telah kuberikan." Kalimat inilah yang membuatnya lebih mengerikan dari sekadar penjahat.

Tokoh "Kau" (manusia) adalah tokoh sederhana yang digerakkan oleh satu motivasi tunggal: cahaya, yang merupakan simbol dari kebahagiaan dan rasa aman.

Wataknya tidak dijelaskan langsung, melainkan terbuka lewat tindakannya sendiri, teknik dramatik yang membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri siapa tokoh ini. Yang paling mencolok adalah kebiasaannya mengiyakan tawaran sebelum mendengar penjelasannya:

"Kau mengiyakan, bahkan sebelum aku menjelaskan. Kau terlalu fokus pada panas dan dingin di kedua sisi tubuhmu."

Dan kemudian sekali lagi: "Kau lagi-lagi mengiyakan. Tanpa mendengar penjelasanku barang sedetik pun."

Pengulangan ini bukan kebetulan. Ini adalah lukisan watak manusia yang terlalu ingin cepat selesai dari rasa sakitnya hingga tidak lagi mau mendengar.

4. Latar Tempat dan Waktu sebagai Ekstensi Jiwa

Latar dalam “Bohlam” tidak realistis. Tidak ada nama kota, tidak ada penanda waktu yang spesifik. Yang ada hanyalah sebuah ruangan gelap dengan cahaya yang menggantung di langit-langit dan balok-balok es yang terus bertambah.

Burhan menegaskan bahwa latar yang baik bukan sekadar tempat kejadian, ia bisa menjadi metafor dan atmosfer yang mencerminkan kondisi jiwa tokoh.

Dalam “Bohlam”, ketiga dimensi latar bekerja sekaligus. Latar tempat: ruangan gelap yang tidak bernama. Ia bukan ruangan nyata melainkan kondisi eksistensial manusia yang jauh dari Tuhan. Latar waktu: tidak spesifik, terasa seperti keabadian. Ini sengaja, karena jebakan seperti ini tidak terikat zaman. Ia terjadi kapan saja dan di mana saja ketika manusia putus asa. Latar sosial-spiritual: kondisi batin manusia yang telah muak dengan kegelapan namun memilih jalan pintas daripada bersabar. Balok-balok es adalah godaan yang terasa seperti bantuan. Dingin, keras, dan terus bertambah setiap kali manusia meminta lebih. Latar berubah menjadi hukuman yang tumbuh dari keinginan tokoh sendiri.

5. Sudut Pandang Sang Penggoda

“Bohlam” menggunakan sudut pandang persona pertama “Aku”–tokoh sekaligus narator dalam cerita. Yang luar biasa adalah bahwa “Aku” di sini bukan manusia biasa, identitasnya baru terungkap perlahan, dan di kalimat-kalimat terakhir ia menegaskan dirinya secara eksplisit.

"Lalu setelah semuanya kembali seperti sedia kala, dengan sabar aku menanti manusia-manusia putus asa sepertimu datang dan meminta kepadaku. Tentu dengan syarat yang tak akan pernah kusebut. Dan dengan konsekuensi yang tak akan pernah diinginkan."

Kalimat tersebut terdengar seperti pengakuan seorang penggoda yang puas dengan pekerjaannya dan sudah siap menanti korban berikutnya.

6. Moral: Tamparan dari Musuh Manusia

Pesan moral dalam fiksi bisa disampaikan secara langsung (eksplisit) lewat pernyataan tokoh atau narator, atau secara tidak langsung (implisit) lewat peristiwa dan pilihan tokoh yang membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri.

Bohlam menggunakan keduanya sekaligus. Sepanjang cerita, pesan disampaikan secara implisit lewat proses jebakan yang bertahap dan pilihan-pilihan tokoh yang terus salah. Namun di ujung cerita, pesan itu diungkapkan secara eksplisit dan diulang dua kali, seolah ingin memastikan tidak ada yang luput:

"Karena kau telah menyerah dan mendatangiku, ketimbang bertahan pada Tuhanmu."

Moral: Manusia yang berpaling dari Tuhan ketika putus asa, dan mencari ketenangan dari sumber yang salah, akan menemukan jebakan yang tampak seperti jawaban. Ini adalah pesan religius yang tidak menggurui justru karena ia diucapkan oleh musuh manusia itu sendiri, ia terasa seperti tamparan, bukan nasihat.

Cerpen “Bohlam” membuktikan bahwa cerita pendek yang kuat tidak butuh banyak kata untuk melukai. Lewat alur yang merangkak perlahan, dua tokoh yang saling berkontras, latar yang bekerja sebagai metafor, dan sudut pandang sang penggoda sendiri, Reja Fahleza berhasil membangun sebuah peringatan yang tidak terasa seperti ceramah. Tokoh “Kau” bukan korban takdir–ia adalah korban pilihannya sendiri, yang dibuat tanpa sabar, tanpa bertanya, dan tanpa menyadari ke mana jalan itu berujung. Di situlah kekuatan cerpen ini: ia tidak menghukum tokohnya dari luar. Ia membiarkan tokohnya menghukum dirinya sendiri, perlahan, satu balok es demi satu balok es, hingga tidak ada lagi ruang untuk kembali.

Mengapa Cerpen Bohlam Layak Dibaca?

Saya pribadi merasa cerpen ini adalah salah satu yang paling jujur dalam menggambarkan kelemahan manusia. Bukan karena menggurui, justru sebaliknya dengan membiarkan sang penggoda yang berbicara, dan dari mulut itulah kita mendengar kebenaran yang paling pahit. Yang membuat saya terkesan adalah bagaimana Reja Fahleza tidak menempatkan protagonisnya sebagai korban yang tidak berdaya. Ia justru terus menunjukkan bahwa setiap pilihan buruk dibuat dengan sadar, dengan kaki sendiri, dengan tangan sendiri, hanya saja tanpa pikir panjang. Ada sesuatu yang menyakitkan sekaligus menampar dalam cara cerita ini bekerja.

Dan cerpen ini terasa dekat sekali dengan kehidupan sekarang. Banyak orang mencari solusi instan ketika menghadapi masalah — godaan yang terlihat lebih menggiurkan namun konsekuensinya menghancurkan. Mereka yang terjerat sering tidak menyadari bahwa pilihan itu adalah jebakan, justru karena ia datang saat mereka paling lemah dan paling putus asa. Persis seperti tokoh “Kau” dalam cerpen ini: mengiyakan sebelum mendengar, memilih cahaya sebelum tahu harganya. “Bohlam” bukan sekadar cerpen tentang setan dan manusia, ia adalah cermin dari zaman kita sendiri.

Daftar Pustaka

Fahleja, R. (2026, Mei 1). Bohlam [Cerpen]. Kompas.id.

Nurgiyantoro, B. (1995). Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press.