Konten dari Pengguna

Never Let Me Go: Ketika Manusia Harus Membuktikan Dirinya

Amelia Renata Putri

Amelia Renata Putri

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amelia Renata Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Koleksi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Koleksi Pribadi Penulis

Bagaimana jika masyarakat membutuhkan bukti sebelum percaya bahwa kita memiliki jiwa?

Pertanyaan yang mengganggu ini sebenarnya diam-diam hadir dalam Never Let Me Go. Film ini sering dibahas sebagai cerita tentang kloning, donor organ, dan eksploitasi manusia. Namun, ada satu hal yang mudah terlewat: mengapa seni begitu penting di Hailsham?

Para murid didorong untuk menggambar, melukis, menulis puisi, dan membuat berbagai karya. Awalnya, semua itu terlihat seperti bagian biasa dari pendidikan. Namun, kemudian kita mengetahui bahwa karya-karya terbaik mereka dikumpulkan oleh Madame untuk sebuah Gallery yang misterius.

Lalu, mengapa karya mereka begitu penting?

Karena karya tersebut dianggap sebagai bukti bahwa anak-anak itu memiliki emosi, imajinasi, dan kehidupan batin.

Di sinilah film tersebut menjadi semakin mengganggu.

Para clone tidak hanya diminta untuk menjalani hidup. Dalam satu sisi, mereka juga harus membuktikan bahwa mereka layak diperlakukan sebagai manusia.

Lukisan dan puisi mereka menjadi bukti bahwa mereka bisa merasakan sesuatu. Kreativitas mereka menjadi bukti bahwa ada sesuatu di dalam diri mereka yang tidak bisa diukur hanya melalui tubuh.

Tetapi mengapa seseorang harus kreatif terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa dirinya manusia?

Kita tidak membutuhkan lukisan, puisi, pekerjaan, atau prestasi seseorang untuk percaya bahwa ia bisa merasakan cinta, ketakutan, kesedihan, atau harapan.

Namun, dalam Never Let Me Go, para clone hidup dalam dunia yang sejak awal mempertanyakan kemanusiaan mereka.

Di sinilah film ini terasa dekat dengan budaya kita. Kita sering menilai seseorang berdasarkan apa yang mampu mereka hasilkan. Karier yang bagus, prestasi akademik, kemampuan kreatif, atau pencapaian tertentu dapat membuat seseorang terlihat lebih bernilai di mata masyarakat.

Sebaliknya, orang yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa sering kali dipandang berbeda.

Ironisnya, para clone menciptakan karya-karya indah untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kehidupan batin, tetapi masyarakat tetap menggunakan tubuh mereka untuk tujuan yang sudah ditentukan.

Seni mungkin membuktikan bahwa mereka bisa merasakan, tetapi seni tidak memberi mereka kebebasan.

Inilah yang membuat Hailsham begitu mengganggu. Tempat itu terlihat seperti institusi yang mengakui kemanusiaan para clone. Mereka diberi pendidikan, didorong untuk berkarya, dan diperbolehkan membangun hubungan. Namun, semua itu tetap berlangsung di dalam sistem yang sejak awal sudah menentukan untuk apa hidup mereka digunakan.

Pada akhirnya, Never Let Me Go mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada persoalan kloning:

Apakah kita menghargai seseorang karena ia adalah manusia, atau karena ia mampu menunjukkan sesuatu yang berharga?

Mungkin bagian paling mengganggu dari Never Let Me Go bukan hanya bahwa para clone pada akhirnya harus mati.

Melainkan bahwa sebelum masyarakat bersedia peduli kepada mereka, mereka terlebih dahulu harus memberikan alasan agar layak dipedulikan.