'Ulah Lalawora Ka Urang Sunda, Hiji Oge Maung'

Tulisan dari Aming Soedrajat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau orang sunda pasti mengerti dengan judul di atas. Kata tersebut di ungkapkan oleh Kang Dedi Mulyadi saat diskusi dengan pimpinan Daerah Kabupaten Garut selepas meresmikan patung Macan/Harimau (Maung dalam Bahasa Sunda) Koramil Cisewu yang beberapa waktu lalu viral oleh ejekan Netizen.
Pemahaman kata tersebut menurut saya merupakan penanaman keyakinan dan kepercayaan diri kepada masyarakat sunda.
'Ulah Lalawora Ka Urang Sunda, Hiji Oge Maung' kalau dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya sepertin ini (Jangan Gegabah terhadap orang sunda, Satu orang juga Macan).
Ananloginya begini, macan adalah simbol kewibawaan orang Jawa Barat-Banten. Macan merupakan penguasa dan Raja di hutan belantara.
Macan sendiri bisa tetap menjadi raja apabila hutannya terjaga, sungainya terjaga, gunung dan lembahnya terjaga. Maka macan akan tetap menjadi si Raja rimba.

Secara geografis, Jawa Barat-Banten merupakan daerah yang agraris cocok untuk berkebun, berternak, bertani dan lain-lain. Karena selain tanahnya subur, juga ditopang oleh iklim yang sempurna.
Kalau gunung sudah rata dengan tanah, hutannya gundul, sungainya tercemar, dampaknya kemiskinan berkepanjangan dan bencana alam akan melanda wilayah tersebut.
Kalau masyarakat Jawa Barat ingin berdaulat, maka alam yang subur makmur tersebut harus di jaga dan di rawat.
Secara simbolik, Macan bukan milik TNI di wilayah Jawa Barat-Banten yang terkenal dengan sejarah Siliwanginya, tetapi macan sendiri merupakan kewibawaan masyarakat Sunda.
Saya ingatkan sekali lagi, Macan merupakan simbol kewibawaan masyarakat Jawa Barat-Banten (Sunda). Apabila jagat dunia maya mengejek macan, sama saja mengejek masyarakat tersebut.
Apalagi sampai ada kepala Daerah di wilayah Jawa Barat sendiri yang mempostingnya menjadi 'meme' yang dianggapnya lucu. Secara tidak langsung dia sudah mengejak dan menghina masyarakatnya sendiri.
Orang-orang di negeri kita itu aneh-aneh menurut saya, identitasnya di injak-injak. Identitas luar di agung-agungkan, akhirnya kita terasing di negeri sendiri.
Memberi solusi atau membantu menjadi barang yang langka. Tapi menghujat tanpa menawarkan solusi, seperti menjadi kebanggaan dan kepuasan baginya.
Pesan saya kepada pemimpin apapun, kalau tidak bisa memberikan kesejahteraan. Janganlah tuan-tuan telanjangi dan menghina masyarakat tuan sendiri.
