Konten dari Pengguna

Fenomena : Open House Hilang, Apa yang Terjadi dengan Modal Sosial Masyarakat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Amiraa virginia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gemini AI

Beberapa bulan setelah Lebaran, saya tanpa sengaja membuka kembali album foto keluarga. Di sana ada banyak gambar yang kini terasa asing. Ruang tamu dipenuhi tamu yang datang silih berganti. Pintu rumah hampir tidak pernah tertutup sejak pagi. Anak-anak berlarian membawa kue, orang dewasa berbincang tanpa melihat waktu, sementara tetangga yang jarang bertemu pun bisa kembali bercengkerama.

Saat melihat foto-foto itu, saya baru menyadari satu hal.

Sudah lama saya tidak mengalami suasana seperti itu.

Belakangan ini, banyak rumah tidak lagi mengadakan open house. Sebagian memilih berkumpul bersama keluarga inti. Ada yang beralasan ingin beristirahat setelah perjalanan mudik. Ada pula yang merasa lebih praktis bertemu di restoran atau cukup mengirim ucapan melalui media sosial.

Tidak ada yang benar atau salah.

Namun, perubahan kecil itu memunculkan pertanyaan yang menarik.

Mengapa tradisi membuka pintu rumah untuk banyak orang perlahan menghilang?

Ketika silaturahmi tidak lagi membutuhkan ruang bersama

Dulu, hari raya identik dengan berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Orang tidak perlu membuat janji jauh-jauh hari. Siapa pun boleh datang selama masih dalam suasana Lebaran.

Tradisi open house menjadi ruang bertemunya berbagai kalangan. Tetangga, teman sekolah, rekan kerja, hingga kerabat jauh dapat saling bertemu dalam suasana yang hangat. Bahkan, tidak sedikit hubungan yang renggang kembali membaik karena pertemuan sederhana di ruang tamu.

Hari ini, pola itu mulai berubah.

Komunikasi memang tetap berlangsung. Ucapan selamat Idulfitri datang melalui aplikasi pesan, panggilan video, atau media sosial. Namun, pertemuan langsung semakin berkurang. Silaturahmi yang dulu berlangsung berjam-jam kini sering digantikan oleh pesan singkat yang selesai dibaca dalam hitungan detik.

Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih mudah.

Namun, tidak semua hubungan sosial dapat digantikan oleh layar ponsel.

Kesibukan membuat kebersamaan semakin mahal

Perubahan ini juga dipengaruhi oleh cara hidup masyarakat modern.

Mobilitas yang tinggi membuat banyak orang memiliki waktu libur yang sangat terbatas. Setelah mudik, sebagian memilih beristirahat sebelum kembali bekerja. Ada pula keluarga yang memanfaatkan libur panjang untuk berwisata bersama.

Di sisi lain, ukuran rumah di kawasan perkotaan juga semakin kecil. Tidak semua orang merasa mampu menerima banyak tamu seperti dulu. Gaya hidup yang semakin praktis membuat acara kumpul bersama bergeser menjadi pertemuan yang lebih terbatas.

Perubahan-perubahan tersebut memang terasa wajar.

Namun, ketika ruang untuk berkumpul semakin sedikit, kesempatan untuk memperkuat hubungan sosial juga ikut berkurang.

Tradisi yang ternyata menyimpan modal sosial

Banyak orang menganggap open house hanyalah tradisi makan bersama saat hari raya.

Padahal, maknanya jauh lebih besar.

Dalam kajian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tradisi seperti ini berperan dalam membangun modal sosial (social capital), yaitu jaringan hubungan, rasa saling percaya, serta norma yang membuat masyarakat mampu bekerja sama.

Ketika orang saling berkunjung, mereka tidak hanya bertukar makanan atau ucapan maaf. Mereka memperbarui hubungan yang mungkin mulai renggang, memperkenalkan anggota keluarga baru, bertukar cerita tentang kehidupan, bahkan memperkuat rasa saling peduli.

Hubungan-hubungan sederhana itulah yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.

Modal sosial tidak dapat dibangun secara instan.

Ia tumbuh dari pertemuan yang berulang, percakapan yang hangat, dan kebiasaan untuk saling mengenal.

Ketika modal sosial mulai menipis

Memudarnya tradisi open house tidak otomatis berarti masyarakat kehilangan kepedulian.

Namun, berkurangnya ruang pertemuan tatap muka membuat kesempatan membangun kepercayaan juga semakin terbatas.

Akibatnya, hubungan antarwarga menjadi lebih longgar. Kita mengenal lebih banyak orang melalui media sosial daripada mengenal tetangga yang tinggal beberapa meter dari rumah.

Ketika ada warga yang sakit, pindah rumah, atau mengalami musibah, informasi sering kali baru diketahui setelah tersebar di grup pesan. Padahal, dahulu kabar seperti itu cepat menyebar karena orang sering bertemu secara langsung.

Sedikit demi sedikit, rasa memiliki terhadap lingkungan pun ikut berubah.

Fenomena yang penting dipahami dalam Pendidikan IPS

Perubahan tradisi open house bukan sekadar persoalan budaya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan teknologi, pola hidup, dan struktur masyarakat memengaruhi cara manusia membangun hubungan sosial.

Dalam Pendidikan IPS, perubahan seperti ini menjadi contoh nyata bahwa masyarakat selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman. Namun, setiap perubahan juga membawa konsekuensi yang perlu dipahami.

Jika ruang interaksi langsung semakin berkurang, bagaimana masyarakat membangun kepercayaan?

Jika hubungan antartetangga semakin renggang, bagaimana solidaritas sosial dapat dipertahankan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat fenomena sederhana seperti memudarnya open house layak dikaji dalam perspektif IPS.

Barangkali yang berubah bukan tradisinya, tetapi cara kita membangun kebersamaan

Mungkin open house tidak akan selalu hadir dalam bentuk yang sama seperti dulu.

Masyarakat akan terus berubah. Cara berkomunikasi pun akan terus berkembang.

Namun, nilai yang terkandung di dalamnya tetap penting untuk dipertahankan.

Kepercayaan tidak lahir dari pesan singkat.

Kepedulian tidak tumbuh hanya melalui tombol like.

Begitu pula modal sosial tidak terbentuk hanya karena kita saling mengikuti di media sosial.

Ia tumbuh ketika manusia benar-benar hadir untuk manusia lain.

Melalui kunjungan.

Percakapan.

Silaturahmi.

Dan kesediaan untuk membuka pintu, bukan hanya pintu rumah, tetapi juga pintu hubungan sosial yang membuat sebuah masyarakat tetap hangat di tengah perubahan zaman.

Artikel ini dapat diperkuat lagi jika ditambahkan data atau hasil survei mengenai penurunan tradisi open house atau perubahan pola silaturahmi masyarakat Indonesia agar argumennya lebih kuat sebagai artikel opini berbasis IPS.