Bukan Sekadar IPK: Kenapa Mahasiswa Haruus Paham Talent Planning Sejak Dini
Tulisan dari Firli Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi banyak mahasiswa, wisuda terasa seperti garis finis. IPK tinggi, ijazah di tangan, lalu pekerjaan akan datang dengan sendirinya. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan cerita yang lebih rumit, gelar itu bukan jaminan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dari 7,22 juta penganggur pada Mei 2026, sebanyak 1,03 juta orang atau 14,31 persen berpendidikan D4, S1, S2, dan S3. Penganggur terbanyak masih berasal dari lulusan SMA dan SMK, dan kenaikan porsi sarjana dari Februari ke Mei 2026 hanya tipis. Jadi, tidak tepat menyimpulkan bahwa jumlah sarjana menganggur melonjak drastis. Namun, angka ini tetap menunjukkan bahwa ijazah saja tidak otomatis membuka pintu kerja. Kelompok anak muda juga paling rentan. Februari 2026 BPS mencatat tingkat pengangguran kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,36 persen, tertinggi di antara kelompok umur lain.
Dunia kerja bergerak lebih cepat dari kurikulum. Pada laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan 22 persen pekerjaan akan terdampak perubahan hingga 2030, dengan 170 juta peran baru tercipta dan 92 juta tergantikan, sehingga ada tambahan bersih 78 juta pekerjaan. Peluangnya ada, tetapi syaratnya berubah. Laporan yang sama menyebut kesenjangan keterampilan sebagai hambatan terbesar transformasi bisnis, dikutip 63 persen pemberi kerja. Menurut laporan itu pula, dari setiap 100 pekerja global, 59 diperkirakan perlu reskilling atau upskilling pada 2030.
Pada April 2026 Menteri Ketenagakerjaan menyampaikan bahwa baru sekitar 27 persen pekerja Indonesia memiliki keterampilan digital, jauh di bawah standar global sebesar 60 hingga 70 persen. Ia juga menyebut adanya peningkatan empat kali lipat lowongan yang lebih mementingkan kompetensi nyata daripada gelar administratif dalam satu dekade terakhir. Angka ini disampaikan pemerintah dan sebaiknya dibaca sebagai pernyataan resmi, bukan hasil survei independen.
Yang dilihat perekrut itu kemampuan yang bisa dibuktikan. Survei Job Outlook 2026 dari National Association of Colleges and Employers (NACE) di Amerika Serikat menunjukkan arah yang sama. Sebanyak 70 persen pemberi kerja memakai skills-based hiring untuk posisi pemula, naik dari 65 persen setahun sebelumnya, dan hanya 42 persen yang memakai IPK sebagai alat penyaring. Pada 2019, angkanya masih 73 persen.
Survei NACE sebelumnya menunjukkan apa yang dicari. Hampir 90 persen pemberi kerja ingin melihat bukti kemampuan memecahkan masalah dan hampir 80 persen mencari kerja sama tim, sementara pengalaman magang menjadi faktor penentu utama saat dua kandidat sama-sama memenuhi syarat. Perlu dicatat, data ini berasal dari pasar kerja Amerika Serikat, jadi tidak bisa dianggap sama persis dengan kondisi Indonesia. Pola besarnya relevan karena sejalan dengan pernyataan Menaker dan temuan WEF yaitu kemampuan yang bisa dibuktikan semakin menentukan.
Apa itu talent planning bagi mahasiswa?
Dalam tulisan ini, talent planning saya artikan sebagai upaya sadar mahasiswa mengelompokkan minat dan kemampuan, memilih arah karier, lalu menyusun rencana membangun kompetensi yang dibutuhkan, semester demi semester. Ini bukan istilah baku dari satu rujukan, melainkan kerangka berpikir yang bisa dipakai. Pelatihan perencanaan karier untuk mahasiswa pada Universitas Ahmad Dahlan menemukan bahwa banyak mahasiswa kesulitan menetapkan target karier, dan pelatihan membantu mereka merumuskan target serta rencana pengembangan diri. Kerangka Triple Readiness dari Menaker bisa menjadi panduan praktis seperti yang pertama kesiapan teknis untuk menguasai keterampilan yang relevan di masa depan, misalnya keterampilan digital tingkat lanjut dan ekonomi hijau. Kedua, kesiapan keterampilan manusiawi dengan berpikir kritis, empati, kepemimpinan, dan kreativitas. Terakhir yang ketiga yaitu kesiapan memasuki pasar kerja, seperti memahami dinamika industri, mempunyai pengalaman magang, dan sertifikasi kompetensi sebagai bukti.
Jika dipraktikkan, semester awal bisa dipakai untuk mengenali diri dan menjelajahi bidang kerja. Semester tengah untuk membangun keterampilan lewat organisasi, proyek, dan magang. Semester akhir untuk merapikan portofolio dan mencoba melamar. Rencana itu perlu ditinjau ulang setiap semester karena pasar kerja terus berubah.
Kenapa harus sejak dini? sederhananya bukti kemampuan tidak bisa dibangun dalam sebulan. Magang, proyek, dan pengalaman organisasi membutuhkan waktu. NACE juga menemukan bahwa mahasiswa tampaknya belum akrab dengan konsep skills-based hiring. Artinya, banyak mahasiswa belum tahu bahwa cara menilai mereka sudah bergeser. Mahasiswa yang mengetahuinya lebih awal punya waktu lebih panjang untuk menyiapkan diri.
IPK tetap penting, tetapi bukan satu-satunya. Tulisan ini bukan mengajak mahasiswa mengabaikan nilai. Masih ada 42 persen pemberi kerja yang memakai IPK sebagai penyaring, dan IPK tetap bisa menjadi syarat administratif di banyak tempat, termasuk seleksi beasiswa dan lembaga tertentu. Pesannya adalah IPK sebaiknya menjadi salah satu bagian dari profil, bukan satu-satunya bagian.
Kampus punya peran besar lewat pusat karier, kurikulum yang dekat dengan industri, dan akses magang. Meski begitu, mahasiswa tidak perlu menunggu. Pertanyaan yang bisa diajukan sejak semester awal: "Setahun dari sekarang, bukti apa yang bisa saya tunjukkan bahwa saya mampu?" Mahasiswa yang menjawabnya sejak dini akan lulus dengan lebih banyak pilihan.

