Konten dari Pengguna

Korupsi Dimulai dari Hal Kecil Saatnya Mahasiswa Menjadi Garda Depan Integritas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Krisman Arjuna Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/illustrations/kekuasaan-manipulasi-penyuapan-9819111/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/illustrations/kekuasaan-manipulasi-penyuapan-9819111/

Krisman Arjuna Simanjuntak, Luluk Ulfa Hasanah, S.S., M.Hum.

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Setiap kali ada kasus korupsi besar yang terungkap, biasanya kita akan melihat reaksi yang hampir sama. Banyak orang marah, membicarakannya di media sosial, membuat berbagai komentar, lalu beberapa waktu kemudian kasus tersebut mulai terlupakan. Setelah itu, muncul lagi kasus baru dan perhatian masyarakat kembali tertuju ke sana. Begitu terus berulang.

Dari situ, korupsi sering kali terlihat seperti masalah yang hanya dilakukan oleh pejabat atau orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Padahal, kalau kita melihat lebih dekat, korupsi sebenarnya tidak muncul begitu saja ketika seseorang sudah menjadi pejabat. Kebiasaan untuk tidak jujur bisa saja sudah terbentuk jauh sebelumnya, bahkan dari hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele.

Korupsi Dimulai dari Hal Kecil yang Dianggap Biasa

Kalau mendengar kata korupsi, mungkin yang langsung terbayang adalah uang negara yang dicuri dalam jumlah besar. Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu. Pada dasarnya, korupsi berkaitan dengan penyalahgunaan kepercayaan atau amanah untuk kepentingan diri sendiri.

Contohnya sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Titip absen kepada teman, menyontek ketika ujian, menggunakan tanda tangan orang lain tanpa izin, memanipulasi laporan kegiatan, atau membuat nota pengeluaran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin terlihat kecil dan tidak sebanding dengan kasus korupsi yang nilainya sampai miliaran rupiah. Namun, justru dari kebiasaan seperti inilah masalah bisa dimulai.

Sering kali kita mendengar kalimat seperti, “Ah, cuma titip absen,” atau “Semua orang juga pernah menyontek.” Karena dianggap hal yang biasa, akhirnya tidak ada lagi rasa bersalah ketika melakukannya. Bahkan, orang yang memilih untuk jujur terkadang justru dianggap terlalu kaku.

Menurut saya, bagian inilah yang perlu kita perhatikan. Masalahnya bukan hanya pada besar atau kecilnya kerugian, tetapi pada kebiasaan untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah. Kalau sejak mahasiswa kita sudah terbiasa mencari jalan pintas ketika menghadapi masalah, bukan tidak mungkin kebiasaan tersebut terbawa ketika kita sudah bekerja dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Mengapa Penindakan Korupsi Saja Tidak Cukup?

Indonesia sebenarnya sudah lama melakukan berbagai upaya untuk memberantas korupsi. Salah satunya melalui Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK yang berdiri pada tahun 2002. Berbagai kasus korupsi telah ditangani dan banyak pelaku yang akhirnya mendapatkan hukuman.

Namun, kita juga masih sering mendengar kasus korupsi baru. Setelah satu kasus selesai, muncul kasus lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap dan menghukum pelaku.

Hukuman memang penting. Orang yang melakukan korupsi harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tetapi kalau kita hanya menunggu sampai korupsi terjadi, sebenarnya kita sedang terlambat untuk mencegahnya. Akan jauh lebih baik kalau sejak awal orang sudah memiliki kesadaran bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya, memanipulasi data, atau menyalahgunakan kepercayaan adalah tindakan yang salah.

Karena itu, pendidikan tentang kejujuran dan integritas juga memiliki peran yang besar. Pencegahan harus berjalan bersama dengan penindakan. Ibarat rumah yang bocor, kita tidak bisa terus-menerus hanya mengepel lantainya. Atapnya juga harus diperbaiki supaya air tidak terus masuk.

Integritas Mahasiswa Tidak Hanya Dibangun di Dalam Kelas

Lalu, apa hubungannya dengan mahasiswa?

Menurut saya, mahasiswa memiliki posisi yang cukup penting dalam persoalan ini. Kita memang belum menjadi pejabat atau orang yang memiliki kekuasaan besar. Tetapi suatu saat nanti kita akan masuk ke dunia kerja dan memegang tanggung jawab masing-masing. Ada yang mungkin menjadi pegawai pemerintahan, pengusaha, guru, programmer, akuntan, tenaga kesehatan, maupun profesi lainnya.

Apa yang kita lakukan sekarang bisa menjadi gambaran bagaimana kita akan bersikap ketika mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.

Karena itu, menjaga integritas tidak harus menunggu sampai kita memiliki jabatan. Kita bisa memulainya dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, mengerjakan tugas sendiri, tidak menyontek, tidak melakukan plagiarisme, dan tidak membeli tugas orang lain hanya karena ingin mendapatkan nilai yang bagus.

Begitu juga ketika mengikuti organisasi kampus. Kalau mendapatkan tugas mengelola uang kegiatan, kita harus belajar membuat laporan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau ada pengeluaran yang memang tidak terjadi, jangan dibuat seolah-olah terjadi hanya supaya uangnya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi.

Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari hal sederhana tersebut karakter seseorang terbentuk.

Menjadi orang yang berintegritas memang tidak selalu mudah. Ada kalanya kita merasa tidak enak ketika harus menolak ajakan teman. Misalnya ketika teman meminta untuk dititipkan absen atau mengajak bekerja sama saat ujian. Kita mungkin takut dianggap tidak solid atau terlalu serius. Begitu juga ketika berada dalam organisasi dan mempertanyakan penggunaan uang kegiatan, kita bisa saja dianggap tidak percaya kepada teman sendiri.

Tetapi menurut saya, menjaga integritas memang terkadang berarti berani mengambil sikap yang berbeda. Tidak semua hal yang dilakukan banyak orang otomatis menjadi benar.

Kampus dan Keluarga Juga Punya Peran

Membentuk mahasiswa yang berintegritas tentu bukan hanya tanggung jawab mahasiswa itu sendiri. Lingkungan tempat kita belajar juga sangat berpengaruh.

Kampus seharusnya menjadi tempat yang memberikan contoh tentang kejujuran dan tanggung jawab. Aturan harus diterapkan secara adil, sistem penilaian harus transparan, dan pelanggaran integritas tidak seharusnya dianggap sebagai hal biasa. Pendidikan antikorupsi juga jangan hanya berhenti pada materi yang dibahas saat kuliah atau sekadar menyelesaikan tugas.

Nilai-nilai tersebut akan jauh lebih mudah dipahami kalau benar-benar diterapkan dalam kehidupan kampus. Ketika mahasiswa melihat dosen, tenaga kependidikan, dan pihak kampus menjalankan tugas secara jujur dan terbuka, mahasiswa juga akan belajar dari contoh tersebut.

Selain kampus, keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Sebelum mengenal bangku kuliah, seseorang sudah lebih dulu belajar banyak hal dari keluarganya. Kebiasaan berkata jujur, bertanggung jawab, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan miliknya seharusnya sudah dibangun sejak dari rumah.

Cegah Korupsi, Semuanya Bisa Dimulai dari Diri Sendiri

Pada akhirnya, korupsi bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika seseorang mendapatkan jabatan. Ada proses panjang yang bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Ketika kebohongan terus dibiarkan, kecurangan dianggap biasa, dan aturan selalu dicari celahnya, lama-kelamaan kita bisa kehilangan batas antara sesuatu yang benar dan yang salah.

Karena itu, menurut saya, pemberantasan korupsi tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari diri sendiri. Tidak menyontek meskipun tidak ada yang mengawasi. Tidak menitipkan absen meskipun teman meminta. Tidak memanipulasi laporan meskipun ada kesempatan. Dan berani mengatakan tidak ketika diajak melakukan sesuatu yang memang tidak benar.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Kampus-kampus setiap tahun menghasilkan banyak lulusan dengan kemampuan dan pengetahuan yang beragam. Tantangannya adalah bagaimana kemampuan tersebut digunakan dengan cara yang benar.

Mahasiswa hari ini adalah orang-orang yang nantinya akan mengisi berbagai posisi di masyarakat. Mungkin sekarang kita hanya berhadapan dengan tugas kuliah, laporan praktikum, kegiatan organisasi, dan ujian. Tetapi dari hal-hal kecil itulah karakter kita sedang dibentuk.

Jadi, kalau ingin melihat Indonesia yang lebih bersih dari korupsi, mungkin kita tidak perlu selalu menunggu orang lain untuk memulainya. Kita bisa mulai dari diri sendiri. Karena integritas bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berusaha tetap jujur ketika sebenarnya ada kesempatan untuk berbuat curang.