Membaca Rapor PISA 2025: Sudah Cukupkah Capaian Indonesia?

- Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa - UNNES - Dosen Prodi Tadris Bahasa Indonesia - FTIK UIN Gus Dur Pekalongan
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Abdul Mukhlis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tepat satu bulan lalu, hasil PISA tahun 2025 yang dinantikan publik resmi dirilis. Secara kasatmata, ada catatan impresif yang diraih anak-anak Indonesia dibanding tahun 2022 lalu, khususnya pada skor literasi membaca dan sains. Pada keduanya, masing-masing terdapat kenaikan sebanyak 6 poin, dari semula 359 menjadi 365 untuk literasi membaca dan 383 ke 389 pada literasi sains. Sementara, hasil kurang mengenakkan masih menyelimuti bidang matematika yang mengalami penurunan skor tipis sebanyak 2 poin, dari 366 berkurang menjadi 364. Bagi pengambil kebijakan, grafik yang menanjak semacam ini tentu adalah hasil yang patut dirayakan. Sebab, setelah bertahun-tahun diintai kecemasan akan penurunan kualitas belajar pascapandemi, kenaikan ini seolah menjadi alat legitimasi bahwa arah perbaikan pendidikan kita mulai menemukan solusinya.
Opini serupa pernah saya tulis pada 2023 lalu, sesaat paska hasil PISA 2022 diumumkan. Di tahun itu, tersaji sebuah kesenjangan yang menggelitik antara realitas angka dan narasi yang diinformasikan ke publik. Saya mengamati adanya kecenderungan overclaim semu atas peningkatan peringkat Indonesia saat itu, yang seolah-olah sebagai sebuah lompatan prestasi besar. Dalih klaim keberhasilan yang gunakan didasarkan pada pelejitan posisi Indonesia yang naik 5 hingga 6 tingkat dibanding hasil sebelumnya di tahun 2018. Padahal, narasi tersebut kurang mempertimbangkan satu konteks penting, yaitu kemunduran global akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan sekolah-sekolah di dunia ditutup. Pun pada setiap periode penyelenggaraannya, rasio jumlah negara yang fluktiatif, ikut menjadi bahan pertimbangan penghitungan peringkat.
Romantisasi Fakta
Jika dikomparasikan dengan kondisi saat ini, glorifikasi serupa seolah terulang kembali. Kali ini, klaim keberhasilan bergeser dari meningkatnya peringkat menjadi kenaikan skor pada literasi membaca dan sains sebesar 6 poin, meskipun hal itu tidak berlaku untuk bidang matematika. Secara objektif, kenaikan skor ini adalah sinyal pemulihan yang patut disyukuri. Namun, jika dibaca secara utuh, kenaikan 6 poin ini justru diiringi oleh penurunan peringkat global kita, misalnya pada membaca yang bergeser dari peringkat 71 ke 74, serta kejatuhan beruntun pada skor dan peringkat matematika.
Pola klaim kesuksesan tahun 2022 dan saat ini sejatinya bersumber dari akar yang sama. Tabiat lembaga otoritatif yang cenderung berpuas diri dan suka meromantisasi potongan fakta manis, kian mengukuhkan posisi sistem pendidikan kita yang terjerembab di peringkat bawah dunia. Oleh karena itu, sebagai pengamat dan pelaku pendidikan kita perlu mengajukan pertanyaan, apakah kenaikan beberapa poin ini menandakan lompatan kualitas pendidikan yang sesungguhnya, atau sekadar fluktuasi statistik yang belum menyentuh akar masalah?
Sinyal kenaikan poin PISA ini tentu layak diapresiasi. Sebab, proporsi murid yang mencapai batas kemampuan minimum pada literasi membaca naik dari 25,40% ke 27,11%. Hal ini mengindikasikan bahwa murid-murid Indonesia mulai terbiasa menyaring data digital dan mengevaluasi konten di era keberlimpahan informasi. Namun demikian, kita perlu waspada. Menganggap peningkatan skor yang teramat kecil ini sebagai keberhasilan akhir merupakan klaim yang berisiko, terutama jika sasaran utama kita adalah membangun generasi berdaya saing global.
Menata Arah
Selain fakta implisit yang terungkap di balik euforia kenaikan literasi membaca dan sains, bidang matematika juga masih membutuhkan perhatian lebih. Penurunan 2 skor di bidang ini menjadi alarm serius. Angka 16,9% pada murid Indonesia yang mampu melampaui batas kompetensi minimum matematika, menegaskan perlunya mereformulasi strategi pembelajaran di kelas. Guru sebagai fasilitator, perlu mengubah mindset dan kultur belajar dari sekadar ritual menghafal rumus dan menyelesaikan soal mekanis, menjadi wahana penalaran dan penajaman logika, sehingga pembelajaran difokuskan untuk memecahkan masalah. Ditambah lagi, kesenjangan fasilitas dan kualitas guru antara sekolah di perkotaan dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang masih terbuka, turut berkontribusi pada ajegnya rerata skor nasional kita di papan bawah.
Jika ditelisik lebih jauh, PISA bukanlah sekadar alat evaluasi ketangkasan akademik bagi negara peserta semata. Peta kompetensi, profil keterampilan, dan potret ekosistem belajar murid-murid demikianlah yang sejatinya menjadi esensi. Melihat urgensi itu, sudah saatnya pemangku kebijakan dan lembaga otoritatif terkait menyiapkan strategi terbaik guna menatap arah pendidikan di masa depan. Hasil tes ini seakan menegaskan bahwa hasil literasi dan numerasi yang tinggi mustahil tumbuh di negara yang menglorifikasikan klaim semu.
Hasil PISA edisi ini idealnya memang tidak disambut dengan klaim-klaim yang membelenggu. Sebaliknya, upaya fokus menata arah pendidikan ke depan, menjadi langkah yang perlu disegerakan agar keterlibatan Indonesia dalam gelaran PISA, tidak terjebak pada ritual tiga tahunan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan kita bukanlah seberapa manis laporan angka di atas kertas, melainkan seberapa siap anak-anak kita menatap masa depan dengan daya pikir yang mapan dan jiwa yang merdeka.
Artikel ini ditulis secara kolaboratif oleh Abdul Mukhlis, Dr. Rahayu Pristiwati, dan Prof. Dr. Agus Nuryatin.
