Ketika Merek Berhenti Mengejar Tren
Tulisan dari Aldridge Christian Seubelan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di zaman ketika tren bisa lahir pagi ini dan terasa usang minggu depan. Sebuah visual menjadi viral, semua brand mengikutinya. Sebuah istilah muncul di TikTok, tiba-tiba masuk ke caption semua perusahaan. Sebuah format konten bekerja untuk satu brand, lalu puluhan brand lain membuat versi yang hampir sama. Semuanya bergerak cepat karena semua takut tertinggal.
Tetapi ada sesuatu yang menarik ketika kita melihat brand-brand yang mampu bertahan puluhan tahun. Mereka tidak selalu menjadi yang paling cepat mengikuti tren. Mereka justru sering memiliki sesuatu yang berbeda: mereka tahu siapa diri mereka.
Mungkin inilah saatnya branding belajar dari filosofi slow living.
Slow living bukan berarti lambat dalam arti tidak produktif. Ia adalah cara hidup yang lebih sadar, tidak selalu terburu-buru mengikuti apa yang sedang dilakukan semua orang, dan memberikan ruang untuk menikmati proses. Prinsip yang sama sebenarnya bisa diterapkan dalam membangun brand: tidak semua tren harus diikuti, tidak semua conversation harus dimasuki, dan tidak semua opportunity harus dikejar.
Karena dalam branding, terlalu cepat bereaksi bisa membuat sebuah brand kehilangan identitasnya.
Coba lihat bagaimana seseorang menikmati seni kontemporer. Kita tidak selalu melihat karya tersebut selama tiga detik lalu bertanya, “Berapa engagement-nya?” Kita berdiri. Mengamati warna. Komposisi. Material. Konteks. Kadang kita bahkan tidak langsung mengerti apa yang ingin disampaikan senimannya. Tetapi justru proses mengamati itulah yang membuat pengalaman tersebut memiliki kedalaman.
Brand juga seharusnya memiliki ruang seperti itu.
Brand yang matang tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang viral?” tetapi juga bertanya, “Apa yang sebenarnya relevan dengan siapa kita?”
Ini semakin penting di tengah dunia digital yang penuh dengan content fatigue. Deloitte dalam berbagai riset digital consumer menunjukkan bagaimana konsumen semakin memiliki kontrol terhadap konsumsi digital mereka, termasuk mengurangi notifikasi dan penggunaan media sosial ketika merasa terlalu banyak terpapar. Ketika perhatian semakin mahal, brand tidak bisa terus berharap menang hanya dengan menjadi lebih berisik.
Kita membutuhkan sesuatu yang lebih sulit ditiru: taste.
Taste tidak dibangun dalam satu campaign. Ia terbentuk dari ribuan keputusan kecil. Bagaimana sebuah brand memilih warna. Bagaimana ia menggunakan kata. Musik apa yang dipilih. Fotografi seperti apa yang digunakan. Influencer mana yang diajak bekerja sama. Bahkan hal-hal apa yang sengaja tidak dilakukan.
Karena itu, timeless branding bukan berarti visual yang selalu minimalis, mahal, atau klasik. Timeless berarti sebuah brand memiliki prinsip yang tidak mudah berubah meskipun medium dan tren berubah.
Logo bisa berubah. Campaign bisa berubah. Platform bisa berubah. Teknologi bisa berubah. Tetapi cara sebuah brand memandang konsumennya, nilai yang diperjuangkan, dan pengalaman yang ingin diciptakannya tetap memiliki benang merah.
Bayangkan sebuah perjalanan slow travel. Kita tidak berpindah dari satu tempat ke tempat lain setiap dua jam hanya untuk mengejar sebanyak mungkin destinasi. Kita tinggal sedikit lebih lama. Mengenal jalan kecil. Mencoba makanan lokal. Mengamati kehidupan masyarakat. Memahami karakter sebuah tempat.
Brand building juga seperti itu.
Terlalu banyak perusahaan ingin mendapatkan hasil dalam waktu singkat. Campaign harus viral. Launching harus besar. Followers harus naik. Semua harus terlihat dalam dashboard bulan ini. Padahal brand equity dibangun melalui repetisi pengalaman yang konsisten selama bertahun-tahun.
Itulah mengapa branding membutuhkan patience.
Bukan berarti kita boleh lambat dalam membaca perubahan. Justru sebaliknya. Brand yang timeless harus sangat peka terhadap perubahan, tetapi tidak menjadi budak perubahan. Ia mengamati tren untuk memahami manusia, bukan sekadar menirunya.
Become a Medium member
Ada perbedaan antara trend-driven brand dan culture-aware brand.
Trend-driven brand bertanya, “Apa yang sedang ramai?”
Culture-aware brand bertanya, “Mengapa orang tertarik pada hal ini?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berharga.
Ketika kita memahami alasan di balik sebuah tren, kita bisa mengambil insight-nya tanpa harus menyalin bentuknya. Misalnya, ketika masyarakat mulai menyukai slow travel, mungkin insight sebenarnya bukan sekadar bahwa orang menyukai liburan yang lebih lambat. Bisa jadi mereka sedang mencari pengalaman yang lebih personal, lebih autentik, dan tidak terasa seperti checklist.
Itulah insight yang bisa bertahan lebih lama daripada tren itu sendiri.
Karena itu, membangun brand membutuhkan slow thinking.
Luangkan waktu untuk riset. Dengarkan konsumen lebih dalam. Amati perubahan culture. Pahami kompetitor. Baca sejarah kategori. Cari tahu mengapa sebuah brand dicintai dan mengapa brand lain dilupakan. Jangan langsung membuat campaign hanya karena kompetitor baru saja meluncurkan sesuatu.
Kadang keputusan branding terbaik justru adalah menunggu.
Dalam dunia yang semuanya ingin segera dipublikasikan, kemampuan untuk berkata “belum” bisa menjadi competitive advantage.
Ada prinsip menarik dari Alkitab: “Untuk segala sesuatu ada masanya” (Pengkhotbah 3:1). Tidak semua hal harus terjadi sekarang. Ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk menuai. Ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk diam.
Prinsip ini relevan dalam membangun brand. Kita sering menganggap kecepatan sebagai keunggulan. Padahal ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu untuk menjadi matang.
Tuhan Yesus sendiri menggunakan proses. Ia tidak membangun sesuatu dengan mengejar popularitas sesaat. Ia membangun murid, karakter, relasi, dan sebuah pesan yang akhirnya bertahan jauh melampaui zamannya.
Mungkin itu pelajaran terbesar dari timeless branding: yang bertahan lama biasanya tidak dibangun dengan terburu-buru.
Jadi, tidak semua brand harus menjadi yang pertama. Tidak semua campaign harus viral. Tidak semua tren harus diikuti.
Bangun brand seperti seseorang yang sedang membangun sebuah karya seni.
Riset dengan dalam. Pilih dengan hati-hati. Bangun dengan konsisten. Berani menghilangkan hal yang tidak perlu. Dan jangan takut ketika hasilnya tidak langsung terlihat.
Karena tren akan selalu datang dan pergi.
Tetapi ketika sebuah brand memiliki purpose, perspective, taste, dan consistency, ia tidak perlu berlari mengejar zaman.
Zamanlah yang pada akhirnya akan datang kepadanya.

