Konten dari Pengguna

Mengulik Bisnis di Balik Piala Dunia 2022: Siapa saja yang Mendulang Cuan?

Alfarel Putra Anggoro

Alfarel Putra Anggoro

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfarel Putra Anggoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash/Visit Qatar
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Visit Qatar

Piala Dunia 2022 Qatar tak sekadar panggung sepak bola megah, tetapi juga pusaran mega-bisnis bernilai ribuan triliun rupiah.

Gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar masih menyisakan decak kagum bagi penikmat sepak bola di seluruh dunia. Namun, di balik serunya laga dan megahnya stadion, ada pusaran bisnis bernilai raksasa yang bergerak di belakang layar.

Piala Dunia 2022 tercatat sebagai turnamen termahal dalam sejarah. Pemerintah Qatar menggelontorkan investasi fantastis yang diperkirakan mencapai US$ 220 miliar atau sekitar Rp 3.400 triliun. Angka ini jauh melampaui bujet Piala Dunia 2018 di Rusia yang "hanya" menelan biaya sekitar US$ 11,6 miliar.

Lantas, bagaimana sebenarnya skema perputaran uang di balik perhelatan sepak bola terbesar di planet ini?

1. Pundi-Pundi Pendapatan FIFA

Sebagai pemilik hak atas turnamen, FIFA memanen pendapatan rekor senilai kurang lebih US$ 7,5 miliar selama siklus Piala Dunia 2022. Pendapatan ini bersumber dari beberapa pilar komersial utama:

Hak Siar Media (Broadcasting Rights): Penjualan hak tayang ke stasiun TV dan platform streaming seluruh dunia menyumbang porsi terbesar.

Sponsorship Global: Kemitraan eksklusif dengan merek-merek raksasa dunia seperti Adidas, Coca-Cola, Hyundai, hingga Qatar Airways.

Penjualan Tiket & Paket Hospitality: Penjualan tiket pertandingan serta layanan hospitality kelas VIP bagi eksekutif global.

2. Strategi Investasi Qatar: Bukan Cuan Jangka Pendek

Banyak pengamat bertanya-tanya, apakah Qatar bisa balik modal dari penjualan tiket dan turis selama satu bulan turnamen? Jawabannya tentu saja tidak secara langsung.

Namun, fokus Qatar bukan pada keuntungan instan. Pengeluaran US$ 220 miliar tersebut diposisikan sebagai investasi pembangunan infrastruktur jangka panjang menuju Qatar National Vision 2030.

Anggaran fantastis itu dialokasikan untuk:

Pembangunan jaringan Metro Doha dan perluasan Bandara Internasional Hamad.

Pembangunan kota baru Lusail City serta puluhan hotel berbintang.

Memposisikan Qatar sebagai hub pariwisata dan bisnis di Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.

3. Sektor Bisnis Pendukung yang Ketiban Rezeki

Tak hanya FIFA dan pemerintah Qatar, ekosistem bisnis global dan lokal juga menikmati multiplier effect dari Piala Dunia:

Industri Perhotelan & Penerbangan: Okupansi hotel dan persewaan properti di Qatar melambung tinggi seiring tingginya lonjakan suporter internasional.

Apparel dan Merchandise Olahraga: Raksasa apparel seperti Nike, Adidas, dan Puma mendulang lonjakan penjualan dari jersey tim nasional dan souvenir resmi.

Industri Periklanan: Stasiun TV dan media digital di berbagai negara kebanjiran pengiklan yang ingin memanfaatkan momentum demam sepak bola.

Kesimpulan

Piala Dunia 2022 membuktikan bahwa sepak bola modern telah berevolusi menjadi mega-industri yang memadukan olahraga, diplomasi publik, dan monetisasi ekonomi skala global. Bagi FIFA, turnamen ini adalah sarana bisnis yang sangat matang. Sementara bagi Qatar, ini adalah batu loncatan besar untuk menempatkan negaranya di peta ekonomi dan pariwisata dunia.

Sumber Referensi:

  • Data Pendapatan FIFA: Laporan Keuangan Resmi FIFA (FIFA Annual Report / Financial Statements) terkait perolehan siklus Piala Dunia 2022.

  • Data Infrastruktur & Stadion: Publikasi resmi Supreme Committee for Delivery & Legacy (SC) Qatar mengenai pembangunan 8 stadion utama dan proyek megah Piala Dunia 2022.

  • Kebijakan Ekonomi Nasional: Dokumen perencanaan strategis Qatar National Vision 2030 mengenai alokasi investasi infrastruktur jangka panjang dan diversifikasi ekonomi.

  • Analisis Industri & Bisnis Global: Riset pasar dan publikasi ekonomi olahraga global terkait multiplier effect sektor pariwisata, perhotelan, periklanan, dan industri apparel olahraga.