Konten dari Pengguna

Tidak Terlalu Ramai, Tidak Terlalu Sunyi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alive Nuragni Atmadja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara Alita Mengunci Fokus di Cold ‘N Brew

Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pribadi

Pukul 11.00, akhir pekan. Musik instrumental mengalun pelan di Cold ‘N Brew, cukup untuk menemani, terlalu lembut untuk mengganggu. Aroma kopi memenuhi ruangan tanpa menyengat, dan udara dari AC terasa dingin di antara interior yang bernada hangat. Di salah satu meja, Alita menyambungkan laptopnya ke stopkontak terdekat, lalu mulai bekerja.

Di sekitarnya, pengunjung lain sudah lebih dulu tenggelam dalam urusan masing-masing. Jarak antarmeja cukup lebar untuk menyisakan ruang pribadi, dan tidak ada yang terburu-buru. Suasananya tidak sesunyi ruang kerja bebas di museum, yang pernah membuat mahasiswa D3 Manajemen Administrasi itu sungkan bergerak. Tidak pula seriuh kafe yang membuat konsentrasi buyar.

Empat jam ke depan, sampai sekitar pukul 15.00, meja ini akan jadi kantor kecilnya. Tugas praktik dan project menunggu, dan di tempat inilah Alita biasa mengunci fokus.

Bagi Alita, ketenangan di Cold ‘N Brew bukan berarti sunyi, melainkan keseimbangan antara musik, ruang, dan orang-orang yang sama-sama sibuk bekerja. Di tengah kebiasaan mahasiswa mencari tempat Work From Cafe (WFC), keseimbangan itulah yang membuatnya kembali. Namun, ketenangan itu juga punya sisi yang tidak selalu stabil.

Bunyi di Cold ‘N Brew tidak pernah memaksa. Yang terdengar biasanya musik instrumental atau lagu-lagu chill dengan volume pelan. Bagi Alita, itu yang membedakannya dari tempat lain yang pernah ia coba.

“Berbeda dengan free workspace seperti di museum yang terkadang sangat hening sampai membuat saya sungkan kalau mau bergerak,” kata Alita. “Di CNB, suasananya lebih santai dan tetap nyaman untuk beraktivitas.”

Ruangnya ikut menjaga itu. Meja dan kursi terasa nyaman untuk bekerja maupun menulis, dan jaraknya cukup untuk menyisakan ruang pribadi di antara pengunjung. Pilihan tempat duduknya beragam, dari sofa sampai kursi biasa. Stopkontak tersedia di banyak titik, Wi-Fi lancar, dan AC dingin. Bagi yang menetap berjam-jam, ada pula mushola, kamar mandi yang bersih, perlengkapan ibadah yang wangi, dan sandal yang bisa dipakai. Sesekali Alita bangun untuk ke kamar mandi atau salat, sehingga empat jam di satu tempat tidak membuatnya terlalu pegal.

Soal sumber ketenangan, Alita menunjuk konsep kafenya.

“Menurut saya, ketenangan tersebut berasal dari coffee shop-nya sendiri,” ujarnya.

Tone interior yang hangat memberi kesan nyaman, dipadu musik yang diputar dan pengunjung yang relatif fokus pada urusannya masing-masing.

Pengunjung yang fokus itu juga yang menggerakkannya.

“Banyak pengunjung yang juga melakukan WFC sehingga secara tidak langsung membuat saya ikut termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan,” katanya.

Barista dan staf yang ramah, serta kualitas kopi dan minuman yang terjaga, menjadi alasan tambahan untuk kembali.

Perbandingannya paling terasa dengan rumah.

“Ketika di rumah, saya cenderung lebih mudah terdistraksi oleh aktivitas sekitar, misalnya pekerjaan rumah atau ketika dipanggil orang tua untuk membantu sesuatu,” tuturnya.

Baginya itu bukan masalah, tetapi tidak cocok untuk tugas yang menuntut konsentrasi tinggi.

“Di CNB, saya merasa lebih mudah memisahkan waktu untuk bekerja dan aktivitas lainnya.” Kafe lain tetap ia pilih, tetapi untuk tugas ringan atau pekerjaan yang tidak banyak.

Karena itu, tempat ini bermakna ganda.

“Ketika memiliki banyak tugas, saya ke sini untuk lebih berkonsentrasi. Namun, ketika saya ingin menikmati waktu sendiri atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas, saya juga sering memilih CNB dibandingkan tempat lain.”

Meski begitu, ketenangan itu tidak selalu utuh. Pada akhir pekan, sesekali ada keluarga yang datang membawa balita. Di hari-hari tertentu, staf non-barista yang berkantor di lantai atas ikut bekerja di area kafe.

“Terkadang pembicaraan pekerjaan mereka cukup keras, sehingga suasananya terasa seperti di kantor,” kata Alita.

Lalu-lalang mereka antara lantai atas dan kafe juga cukup sering, padahal area itu dipakai pelanggan lain. Namun, akhir-akhir ini ia kebetulan sudah tidak menemukan kondisi seperti itu.

Gangguan sesekali itu pun tidak membuatnya ragu.

“Untuk perubahan suasana, sejauh ini tidak terlalu menjadi kekhawatiran,” ucapnya.

Ia tetap merasa nyaman duduk lama di Cold ‘N Brew untuk WFC.

Menjelang pukul 15.00, Alita mencabut kabel dari stopkontak, menyimpan berkas, dan menutup laptopnya. Ia menyeruput sisa minumannya, lalu mengambil selembar tisu dan mengelap meja yang basah oleh embun dari gelasnya. Sebelum melangkah keluar, ia tersenyum kepada barista dan mengucapkan terima kasih. Musik instrumental masih mengalun pelan, sama seperti ketika ia datang empat jam sebelumnya.