Membangun Ruang Aman untuk Perempuan Lewat Suara Anak Muda Pengalaman MBKM

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aliza Naomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surabaya, 26 April 2025 – Kartini Youth Festival 2025 di Trans Icon Mall, Surabaya, yang diselenggarakan KPS2K dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional, merupakan suatu momen penting. Keikutsertaan mahasiswa magang MBKM dan siswa SMK dalam persiapan acara memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berekspresi dan mengkampanyekan isu perempuan di era digital. Festival ini menjadi bukti nyata solidaritas komunitas dan mendorong perempuan muda untuk memberdayakan diri dan melawan kekerasan berbasis gender, khususnya di dunia maya.
Pengalaman saya Aliza Naomi Nuraini sebagai seorang mahasiswa magang MBKM sangat senang menjadi bagian dari panitia acara ini dan sangat bermakna. Saya mendapatkan kesempatan untuk bertugas di meja registrasi. Di bagian ini, saya menyambut tamu undangan dan peserta untuk membantu pengisian daftar hadir, serta memberikan informasi mengenai acara. Meskipun sederhana, posisi ini memungkinkan saya menyaksikan antusias para peserta dari berbagai latar belakang seperti, komunitas, lembaga, dan individu muda yang ingin terlibat dalam isu kesetaraan gender.
Selain itu, saya juga bertugas di pohon harapan, sebuah instalasi di mana pengunjung, tamu undangan, bahkah para panitia dapat menuliskan harapan mereka untuk masa depan perempuan Indonesia. Membaca setiap harapan yang tertempel di pohon harapan sangat menyentuh hati saya. Ada yang menuliskan tentang ruang digital yang aman, harapan agar perempuan berani untuk bersuara, berbagai harapan lainnya. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa banyak orang memiliki kepedulian yang besar terhadap isu perempuan, namun mereka belum tentu mengetahui cara menyuarakannya. Pohon harapan menjadi media yang sederhana namun sangat bermakna untuk mengekspresikan aspirasi tersebut.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah waktu sesi Panel Talkshow dengan tema “Perempuan Muda Berdaya, Dunia Maya Tanpa Bahaya, Bebaskan Ruang Sipil.” Dalam sesi ini, lima pembicara dari berbagai sektor membagikan pandangan mereka mengenai kekerasan berbasis gender online (KBGO) serta peran aktif perempuan muda dalam menciptakan ruang digital yang mana. Meskipun saya tidak berada langsung di sesi tersebut, saya tetap dapat mendengarkan pembicaraan mereka. Dari situ, saya memperoleh banyak wawasan baru khususnya tentang bagaimana kekerasan di era sekarang dan pentingnya literasi digital dalam menghadapi tantangan tersebut.
Kartini Youth Festival 2025 ini ditutup dengan pembacaan deklarasi dan penandatanganan komitmen bersama melawan kekerasan terhadap perempuan, menegaskan pentingnya peran anak muda dalam gerakan sosial. Saya sebagai mahasiswa magang MBKM merasa sangat beruntung dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini dan banyak belajar bahwa kontribusi yang dilakukan dapat memberikan dampak besar jika dilakukan bersama-sama. Event kartini Youth Festival 2025 ini bukan hanya sekedar sebuah event, tetapi membuat banyak pengalaman yang menguatkan tekad saya untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan.
