Labubu, FOMO, dan Gengsi: Siapa yang Sebenarnya Kita Kejar?

saya merupakan mahasiswa Administrasi Publik Universitas Diponegoro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amanda Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu berdiri mengantre di mal selama berjam-jam hanya demi sebuah gantungan kunci monster berbulu seharga ratusan ribu rupiah? Kedengarannya aneh, bukan? Tapi sepanjang tahun 2025, pemandangan ini benar-benar terjadi di mal-mal besar Jakarta, saat boneka bernama Labubu sedang ramai-ramainya di media sosial. Banyak orang berbondong-bondong datang untuk memburunya, tak peduli dengan seberapa mahal harganya.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar soal gantungan kunci, melainkan soal rasa takut seseorang akan tertinggal dari suatu tren, atau yang bisa kita sebut dengan FOMO (Fear of Missing Out). Gengsi di media sosial ini ternyata bisa sekuat itu, sampai membuat kita mengabaikan pertimbangan rasional pada saat berbelanja.
Lalu, apakah semua orang di antrean itu memang butuh gantungan kunci Labubu? Kemungkinan besar tidak. Banyak dari mereka yang sebenarnya sedang membeli pengakuan. Apalagi ketika Lisa BLACKPINK dan deretan influencer lain memamerkan koleksi Labubu mereka, barang kecil ini mendadak berubah jadi simbol gengsi.
Antrean panjang itu juga bukan sekadar kebetulan. Di balik semua itu, Pop Mart punya strategi pemasaran bernama blind box, yaitu kotak yang isinya baru kamu ketahui setelah kamu membukanya. Rasa penasaran itu memang sengaja dirancang. Ketidakpastiannya memicu pelepasan dopamin saat kotak dibuka, dan dari situlah muncul rasa ketagihan. Menurut ulasan BINUS Business School, blind box ini memadukan hiburan, kejutan, dan emosi di dalam satu paket, sehingga pembeli mendapat pengalaman yang menyenangkan dan penuh antisipasi.
Masalahnya, sistem blind box yang acak justru bisa menjebak kita dalam pola yang disebut sunk cost fallacy. Contohnya begini. Kamu sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak, tapi belum juga mendapatkan karakter yang langka (secret edition) yang diincar. Lalu muncullah pikiran, “Sayang banget kalau berhenti sekarang. Beli lagi deh, biar uangku yang tadi nggak sia-sia.” Akhirnya kamu membeli kotak baru, lalu satu lagi, dan tanpa sadar total pengeluaranmu sudah jauh melewati rencana awal.
Dampaknya paling mengkhawatirkan bagi anak muda dan mahasiswa yang belum mandiri secara finansial. Demi gengsi digital, hal yang sering dikorbankan adalah tabungan masa depan, dana darurat, bahkan uang kebutuhan kuliah sehari-hari. Lebih berisiko lagi kalau sampai memakai paylater atau terjerat pinjaman online (pinjol) hanya demi konten unboxing dan tampilan feed yang estetik. Kehidupan finansial yang nyata dipertaruhkan demi kepuasan sesaat yang hanya bersifat semu.
Lalu, bagaimana cara menyikapinya hal tersebut dengan bijak? Menurut saya, terdapat 3 langkah yang bisa kanu terapkan lewat praktik konsumsi sadar (mindful consumption).
Pertama, kamu bisa menerapkan "Aturan 72 Jam" dimana ketika muncul keinginan kuat untuk membeli barang tren yang sebenarnya tidak esensial, kamu bisa menahannya dulu selama tiga hari atau 72 jam. Jeda ini bisa membuatmu lepas dari dorongan dopamin sesaat. Jadi kamu bisa berpikir lebih jernih dan rasional.
Kedua, detoks media sosial, yaitu kamu dapat mengurangi paparan terhadap konten yang terus-menerus membuatmu membandingkan diri (digital comparison) atau mendorong budaya pamer belanja (haul). Memilih konten yang kamu lihat setiap hari adalah cara kita melindungi diri dari tekanan psikologis akibat tren.
Ketiga, kamu dapat mengubah cara pandang terhadap harga. Sebelum membeli sebuah gantungan kunci atau mainan yang seharga ratusan ribu bahkan sampai jutaan rupiah, bandingkanlah nominalnya dengan uang jajan harianmu, atau dengan jerih payah dan waktu yang kamu habiskan untuk mendapatkannya. Dari situlah, keputusanmu akan lebih rasional.
Pada akhirnya, tren akan datang dan pergi dengan siklus yang semakin cepat. Hari ini kita heboh dengan tren Labubu dan Pop Mart, besok lusa mungkin akan ada produk baru yang akan dikemas tidak kalah menggoda. Karena itu, yang perlu kita latih adalah kedewasaan sebagai konsumen: bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menjaga keuangan pribadi di tengah gempuran tren. Validasi terbaik seharusnya datang dari kecerdasan kita mengelola hidup, bukan dari seberapa mahal barang yang menggantung di tas kita.
