Saya Baru Sadar Inflasi dari Bunyi “Plastik Tambah Seribu”

saya mahasiswa semester 3 universitas Pamulang, prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amiraa virginia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Pakai plastik?”
“Iya, satu.”
“Tambah seribu, ya.”
Saya sempat diam beberapa detik.
Bukan karena tidak punya uang seribu rupiah. Bukan juga karena harga makanan yang saya beli terlalu mahal. Namun, entah sejak kapan, kalimat “plastik tambah seribu” mulai terasa seperti bagian yang normal dari transaksi sehari-hari.
Saya mengangguk, membayar, lalu membawa makanan pulang.
Di perjalanan, saya justru memikirkan hal yang sederhana: sejak kapan membeli sesuatu tidak lagi berarti hanya membayar harga barangnya?
Dulu, ketika membeli makanan, yang saya pikirkan hanya harga makanan tersebut. Kalau harganya Rp15.000, berarti saya menyiapkan Rp15.000. Selesai.
Sekarang, angka di menu sering kali bukan angka terakhir yang harus dibayar.
Ada biaya kemasan.
Ada biaya plastik.
Ada biaya tambahan sambal.
Ada biaya layanan.
Kalau pesan lewat aplikasi, ceritanya bisa lebih panjang lagi. Harga makanan, ongkos kirim, biaya layanan, biaya kemasan, hingga biaya lain yang kadang baru terlihat setelah kita hampir menekan tombol pembayaran.
Harga sebuah barang tetap terlihat sama di awal, tetapi total uang yang keluar sering kali berubah ketika sampai di akhir.
Dan mungkin, di situlah saya mulai memahami inflasi dari cara yang sangat sederhana.
Selama ini, ketika mendengar kata inflasi, yang terbayang biasanya adalah harga beras yang naik, cabai yang mahal, atau berita tentang angka inflasi di televisi. Inflasi terdengar seperti sesuatu yang besar dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, kadang inflasi datang dalam bentuk yang jauh lebih kecil.
Sebesar seribu rupiah.
Masalahnya, seribu rupiah jarang datang sendirian.
Hari ini tambah seribu untuk plastik.
Besok mungkin ada tambahan biaya kemasan.
Lusa, harga makanan yang sama naik dua ribu rupiah.
Belum lagi kebutuhan lain yang mengalami perubahan harga secara perlahan.
Satu per satu mungkin terlihat kecil. Namun, ketika dikumpulkan dalam sebulan, tambahan kecil itu mulai terasa.
Menurut saya, inilah salah satu cara inflasi bekerja dalam kehidupan sehari-hari: tidak selalu datang dengan membuat kita langsung merasa miskin, tetapi perlahan membuat uang kita melakukan lebih sedikit hal.
Kita mungkin masih bisa membeli makanan yang sama.
Masih bisa pergi ke tempat yang sama.
Masih bisa menjalani kehidupan seperti biasa.
Namun, tanpa sadar, uang yang kita keluarkan semakin banyak.
Ada fenomena menarik dalam cara kita merespons kenaikan kecil seperti ini. Ketika harga makanan naik Rp5.000, kita mungkin langsung menyadarinya.
Namun, ketika muncul biaya tambahan Rp1.000, kita sering menganggapnya tidak terlalu penting.
“Cuma seribu.”
Kalimat itu mungkin menjadi alasan mengapa kenaikan kecil sering luput dari perhatian.
Padahal, ekonomi rumah tangga tidak hanya dipengaruhi oleh satu pengeluaran besar. Justru, banyak pengeluaran kecil yang berulang setiap hari dapat menggerus daya beli secara perlahan.
Seribu rupiah untuk plastik mungkin tidak berarti banyak jika terjadi sekali.
Namun, bagaimana jika ada banyak “seribu rupiah” lainnya dalam kehidupan kita?
Biaya parkir.
Biaya administrasi.
Kemasan.
Layanan.
Transportasi.
Tambahan harga makanan.
Semua biaya itu mungkin datang dari transaksi yang berbeda, tetapi sumber uangnya tetap sama: dompet kita.
Di sinilah saya merasa angka inflasi yang diumumkan setiap bulan terkadang terasa berbeda dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.
Secara statistik, inflasi dihitung berdasarkan perubahan harga berbagai barang dan jasa. Angka tersebut penting untuk melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Namun, setiap orang memiliki “inflasi pribadi” yang bisa terasa berbeda.
Seseorang yang setiap hari membeli kopi mungkin lebih merasakan kenaikan harga kopi.
Seseorang yang sering menggunakan kendaraan pribadi mungkin lebih sensitif terhadap biaya transportasi.
Sementara orang lain mungkin merasa biaya makan menjadi pengeluaran yang paling berat.
Karena itu, pengalaman terhadap inflasi tidak selalu sama, meskipun kita hidup dalam ekonomi yang sama.
Bagi saya, bunyi “plastik tambah seribu” menjadi menarik karena ia menunjukkan bagaimana perubahan ekonomi besar bisa masuk ke dalam percakapan yang sangat kecil.
Penjual mungkin juga tidak bisa disalahkan.
Plastik harus dibeli.
Kemasan memiliki harga.
Biaya operasional meningkat.
Harga bahan baku bisa berubah.
Pada akhirnya, pelaku usaha kecil harus mencari cara agar usahanya tetap berjalan.
Biaya yang meningkat dari hulu perlahan berpindah ke konsumen.
Inilah yang membuat inflasi tidak pernah benar-benar berhenti pada satu titik.
Ketika biaya produksi meningkat, penjual perlu menyesuaikan harga. Ketika harga naik, konsumen mulai mengurangi atau mengubah pengeluaran. Ketika banyak orang mulai lebih berhati-hati berbelanja, pola konsumsi pun ikut berubah.
Semuanya bermula dari keputusan-keputusan kecil.
Mungkin itu sebabnya saya tidak lagi menganggap kalimat “plastik tambah seribu” sebagai sesuatu yang sepele.
Bukan karena seribu rupiah akan mengubah kondisi keuangan saya dalam sehari.
Tetapi karena kalimat itu mengingatkan saya bahwa inflasi tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang, ia tidak muncul dalam berita utama.
Tidak datang melalui angka besar.
Ia hanya muncul ketika kita sedang membeli makanan.
Lalu seseorang berkata,
“Pakai plastik? Tambah seribu, ya.”
Dan kita mengangguk sambil berpikir, “Cuma seribu.”
Padahal, mungkin justru dari begitu banyak “cuma seribu”, kita perlahan menyadari bahwa harga hidup tidak pernah benar-benar diam.
