Novel Senja di Jakarta: Kisah yang Terus Hidup di Ibu Kota

Mahasiswa Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Kamila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di halaman awal novel Senja di Jakarta, Mochtar Lubis menulis bahwa semua tokoh dan kejadian dalam cerita tidak pernah ada. Meski begitu, pembaca sulit tidak merasa sedang mengenal Jakarta yang ia gambarkan.

Di Bawah Senja Jakarta, Kisah yang Terus Hidup
Senja di Jakarta ditulis Mochtar Lubis di Jakarta dan rampung pada 7 Maret 1957. Novel ini lebih dulu terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Twilight in Jakarta (1963), lalu dalam bahasa Melayu pada 1964. Lebih dari enam dekade kemudian, kisahnya masih terasa dekat.
Sembilan Bulan di Ibu Kota
Novel ini dibagi menjadi sembilan bab sesuai nama bulan, dari Mei sampai Januari. Ceritanya tidak berpusat pada satu tokoh. Pembaca diajak berpindah antara dua dunia: orang-orang kecil di pinggiran kota dan orang-orang berkuasa di ruang-ruang ber-AC.
Di bawah ada Saimun dan Itam, dua kuli pengangkut sampah. Mereka hidup dari upah harian dan sering menahan lapar. Saimun menyimpan cita-cita sederhana: belajar menyetir truk. Di dekat mereka ada Neneng, perempuan dari tempat pembuangan sampah, dan Pak Ijo, kusir delman tua yang tidak mampu berobat. Ia jatuh sakit setelah delmannya menabrak mobil mewah, lalu meninggal.
Di atas ada Husin Limbara, ketua Partai Indonesia, dan Raden Kaslan, pengusaha anggota partai itu. Menjelang pemilihan umum, mereka merancang cara mengumpulkan dana puluhan juta rupiah. Caranya dengan mendirikan perusahaan impor dan memperjualbelikan lisensi impor, yang diurus lewat orang dalam kementerian. Ketika koran oposisi membongkar bahwa keluarga para pemimpin partai ikut menjadi direktur perusahaan-perusahaan itu, mereka membalas dengan serangan balik lewat Halim, pemimpin redaksi surat kabar. Halim ternyata tidak murni setia. Ia belakangan menagih harga atas dukungannya.
Tokoh yang Terseret
Dua tokoh paling menarik justru yang terseret ke dalam lingkaran itu.
Suryono, anak Raden Kaslan, pulang dari New York dan menjadi direktur sebuah perusahaan impor milik keluarga. Hidupnya serba mewah, tetapi hatinya gelisah oleh rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan. Ia dihantui mimpi buruk dan hubungannya dengan Dahlia mulai goyah. Ia juga terlibat dengan Fatma, istri ayahnya sendiri.
Sugeng, pegawai Kementerian Perekonomian, awalnya hidup pas-pasan bersama istrinya, Hasnah. Ia berubah setelah masuk partai dan ikut permainan lisensi. Rumah baru, lemari es, radio besar, dan jam berdiri seharga enam ribu rupiah mulai memenuhi rumahnya. Hasnah yang semula meminta rumah sendiri justru gelisah menyaksikan perubahan itu. Hubungan mereka merenggang, dan Sugeng makin sering pergi malam.
Orang Muda yang Hanya Berdiskusi
Novel ini juga menampilkan sekelompok orang muda yang rajin berdiskusi tentang nasib bangsa. Salah satunya Murhalim, yang baru pulang dari daerah dan melihat sendiri bagaimana daerah terbengkalai sementara pusat bermewah-mewah. Suryono sendiri pernah menyindir bahwa diskusi bagi teman-temannya telah berubah dari alat menjadi tujuan.
Januari yang Menghancurkan
Pada Januari, semua benang cerita bertemu. Kabinet jatuh, Husin Limbara jatuh sakit, dan skandal pengumpulan dana partai terbongkar. Raden Kaslan dipanggil pulang untuk diperiksa, dan Sugeng dibawa polisi. Hasnah, yang kehilangan bayinya karena lahir terlalu dini, berjanji tetap berada di sisi suaminya. Sementara itu Suryono dan Fatma melarikan diri ke luar kota. Suryono mendadak memutuskan kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan pulang mobilnya terbanting ke selokan dan ia mengalami gegar otak.
Di jalanan, rakyat antre beras, minyak tanah, dan garam dengan emosi makin panas. Pada 26 Januari antrean berubah menjadi amuk massa. Murhalim berusaha menenangkan orang banyak, tetapi justru dipukuli hingga tewas. Itam, yang ikut dalam kerumunan, tewas tertembak. Teman-teman Murhalim akhirnya sadar bahwa mereka terlalu lama hanya menganalisis dan harus mulai bertindak.
Novel ditutup dengan adegan yang sederhana tetapi kuat. Neneng ditangkap dalam razia, lalu Saimun mengaku sebagai suaminya dan mengajaknya pulang ke kampung. Di luar, hujan dan topan melanda Jakarta, dan pencuri-pencuri malam mulai mengendap-endap.
Mengapa Kisah Ini Terus Hidup
Novel ini memperlihatkan jurang antara yang berkuasa dan yang kesulitan makan. Mochtar Lubis menaruh keduanya berdampingan dalam satu kota yang sama, ia tidak menyederhanakan tokohnya. Sugeng bukan penjahat sejak awal. Ia tergelincir pelan-pelan, dengan alasan yang terasa masuk akal baginya sendiri. Justru di situlah novel ini menohok. Mochtar Lubis menulis dengan keberanian seorang wartawan. Ia pendiri harian Indonesia Raya dan sempat dipenjara hampir sembilan tahun. Pada 1958 ia menerima Hadiah Magsaysay untuk karya jurnalistiknya.
Senja yang Belum Benar-Benar Selesai
Di halaman terakhir Senja di Jakarta, para pemimpin partai sudah goyah dan Sugeng sudah dibawa polisi. Murhalim dan Itam tewas dalam amuk antrean beras. Tetapi hidup tidak berhenti. Saimun menggenggam tangan Neneng dan berani mengaku sebagai suaminya, lalu mereka merencanakan pulang ke kampung. Sementara itu, badai menghantam kota dan pencuri-pencuri malam mulai bekerja.
Mochtar Lubis tidak memberi akhir yang rapi. Ia tidak menjanjikan bahwa yang bersalah pasti dihukum atau bahwa kota akan berubah. Ia hanya menyalakan lampu, supaya kita melihat siapa yang kenyang dan siapa yang menanggung akibatnya. Mungkin itu sebabnya kisah ini terus hidup. Setiap pembaca bisa mengenali "Jakarta"-nya sendiri di dalamnya, lalu bertanya pada dirinya: ketika senja turun, aku berada di pihak mana, dan apa yang sudah kulakukan selain berdiskusi?
