Isu Kabut Asap dan Kota Silent Hill dalam Teori Kritis

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan sebuah kota yang perlahan menghilang ditutupi oleh kabut tebal. Matahari tampak redup, bangunan kehilangan bentuk, jalanan menjadi asing, dan setiap tarikan napas terasa sesak dan mengancam nyawa. Dalam dunia Silent Hill, waralaba game horor yang juga diadaptasi ke film layar lebar, kabut berfungsi menciptakan atmosfer mencekam sekaligus jadi tirai untuk menyembunyikan kengerian yang mengintai di baliknya. Namun, pemandangan serupa tidak selalu membutuhkan imajinasi fiksi. Di Indonesia, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan melanda sejumlah wilayah, kabut asap dapat mengubah ruang hidup menjadi lingkungan yang menyesakkan. Perbedaannya, monster dalam Silent Hill merupakan bagian dari dunia fiksi, sedangkan ancaman kabut asap berakar pada proses ekologis, ekonomi, dan politik yang nyata. Melalui teori kritis Hubungan Internasional (HI), kabut asap dapat dibaca bukan sekadar sebagai bencana lingkungan, melainkan sebagai cermin ketimpangan kekuasaan dalam tatanan global.

Kabut Sebagai Metafora Ketidakpastian
Dalam dunia Silent Hill, kabut bukan hanya elemen visual untuk menakut-nakuti pemain atau penonton. Kabut membatasi jarak pandang, mengaburkan arah, dan membuat suatu kota dan lingkungan yang seharusnya terasa familiar malah jadi mengancam dan mencekam. Tokoh-tokohnya bergerak dalam ruang yang sulit dipahami, tanpa mengetahui secara pasti apa yang ada dan siap menyambut di depan mereka. Nuansa ketidakpastian tersebut merupakan sumber horor yang sama pentingnya dengan kehadiran monster galam game tersebut.
Kabut asap menghadirkan pengalaman serupa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas yang biasanya sederhana, seperti berangkat sekolah, bekerja di luar ruangan, atau berjalan menuju pasar, berubah menjadi kegiatan yang berisiko dan mengancam kesehatan. Asap juga mengaburkan batas antara ruang aman dan ruang berbahaya. Rumah sekalipun tidak selalu mampu melindungi penghuninya dari pencemaran udara. Meski demikian, persamaan antara dunia Silent Hill dan kabut asap di Indonesia tidak berhenti pada aspek suasana visual. Kabut dalam game atau film Silent Hill menyembunyikan kenyataan yang harus dihadapi para tokohnya, sedangkan kabut asap yang nyata dapat menyamarkan proses sosial politik yang memungkinkan krisis lingkungan terjadi. Masyarakat melihat asap, tetapi belum tentu mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pembakaran lahan, kepentingan ekonomi apa yang berada di belakangnya, atau mengapa kebijakan pencegahan kerap tidak cukup efektif. Di sinilah teori kritis HI menjadi relevan. Teori ini tidak puas dengan penjelasan yang hanya menggambarkan peristiwa. Teori kritis berusaha mengungkap struktur kekuasaan yang membentuk peristiwa tersebut dan mempertanyakan apakah struktur itu dapat diubah.
Struktur Ekonomi Politik di balik Asap
Salah satu pemikir penting teori kritis HI adalah Robert W. Cox. Melalui gagasan bahwa teori selalu berbicara dari kepentingan perspektif tertentu dan melayani kepentingan tertentu, Cox membedakan pendekatan yang berusaha menjelaskan serta mempertahankan tatanan yang ada dari pendekatan yang mempertanyakan bagaimana tatanan itu terbentuk. Jika diterapkan pada isu kabut asap, pendekatan yang berorientasi pada pemecahan masalah mungkin berfokus pada pemantauan titik panas, pemadaman kebakaran, peningkatan teknologi deteksi, dan koordinasi antarlembaga. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi belum tentu menjawab pertanyaan mendasar yang lebih mengakar semisal mengapa kebakaran terus berulang? Mengapa pembukaan lahan tertentu tetap menguntungkan, dan siapa yang menanggung biaya dari kerusakan lingkungan?
Teori kritis mendorong kita untuk melihat hubungan antara eksploitasi alam dan struktur ekonomi-politik yang lebih luas. Hutan dipandang bukan sekadar ekosistem, objek, tetapi juga ruang perebutan kepentingan ekonomi. Ekspansi perkebunan, produksi komoditas, investasi, dan tuntutan pasar global dapat membentuk tekanan terhadap penggunaan lahan. Dalam kondisi tertentu, pembukaan lahan dengan api menjadi pilihan murah bagi pelaku yang ingin menekan biaya produksi, meskipun dampak ekologisnya sangat besar. Masalahnya, keuntungan ekonomi dan kerugian lingkungan tidak selalu ditanggung oleh pihak yang sama. Keuntungan dari kegiatan produksi dapat terkonsentrasi pada pemilik modal dan pelaku usaha, sementara biaya pencemaran udara, gangguan kesehatan, kerusakan ekosistem, dan terhambatnya pendidikan justru ditanggung masyarakat luas. Logika ini mengingatkan kita pada dunia Silent Hill yaitu kengerian yang tampak di permukaan memiliki akar yang lebih dalam daripada penampakannya. Monster di dunia Silent Hill hanyalah fenomena permukaan yang harus dihadapi tokoh. Demikian pula, kabut asap hanyalah bagian dari krisis mendalam dan struktural yang menyertainya. Kabut asap merupakan tanda yang terlihat dari persoalan struktural yang lebih sulit dikenali.
Ketimpangan Struktural Pencipta Monster
Salah satu kekuatan ilustrasi Silent Hill terletak pada kemampuannya menghadirkan ancaman yang sulit dipahami secara langsung. Monster dapat muncul secara tiba-tiba membawa nuansa yang mengerikan, tetapi teror yang lebih mendalam berasal dari pertanyaan mengenai asal-usul dan makna keberadaan dari para monster tersebut. Dalam krisis kabut asap, ancaman yang paling menentukan kemunculan kabut asap justru sering kali tidak memiliki wujud yang mudah dikenali semisal rantai pasok komoditas, keputusan investasi, lemahnya pengawasan, dan hubungan antara kekuasaan politik dengan kepentingan ekonomi. Perspektif teori kritis membantu menghubungkan persoalan lokal dengan kapitalisme global. Komoditas yang dihasilkan melalui pemanfaatan lahan dapat masuk ke dalam jaringan perdagangan internasional, sementara dampak ekologis produksinya bisa jadi terkonsentrasi di wilayah tertentu yang umumnya menghasilkan sumber daya alam yang sedang diekstraksi. Konsumen di tempat lain mungkin menikmati produk dengan harga terjangkau tanpa mengalami secara langsung pencemaran yang menyertai proses produksinya. Hubungan ini memperlihatkan ketimpangan geografis dalam distribusi manfaat dan kerugian ekonomi. Wilayah penghasil komoditas dapat menanggung dampak sosial dan lingkungan, sedangkan keuntungan dari proses produksi tersebar melalui jaringan bisnis yang lebih luas. Tentu saja, tidak semua produksi komoditas menyebabkan kebakaran atau kerusakan hutan. Namun persoalannya adalah bagaimana sistem ekonomi dan tata kelola lahan memungkinkan praktik merusak tetap berlangsung ketika pengawasan dan pertanggungjawaban tidak memadai. Kabut asap, dengan demikian, dapat dipahami sebagai biaya ekologis yang tidak sepenuhnya tercermin dalam harga barang. Ketika biaya kesehatan masyarakat dan kerusakan lingkungan tidak ditanggung secara proporsional oleh pihak yang memperoleh keuntungan, maka artinya pasar gagal memperhitungkan seluruh konsekuensi produksinya.
Dalam bahasa Silent Hill, monster yang sesungguhnya bukan sekadar makhluk yang muncul dan meneror dari balik kabut, melainkan sistem yang membuat monster dan segala penderitaan dapat dianggap sebagai konsekuensi wajar dari kegiatan ekonomi. Metafora ini bukan berarti menyamakan perusahaan, negara, atau pasar dengan makhluk jahat. Sebaliknya, ia mengajak kita mengkritik aturan dan relasi kekuasaan yang memungkinkan kerusakan terus terjadi tanpa pertanggungjawaban yang sebanding.
Penderitaan dan Ketidakadilan Lingkungan
Kehadiran kabut dalam Silent Hill membuat semua orang seolah-olah terperangkap dalam kota yang sama. Namun, dalam kenyataan, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk menghadapi kabut asap. Perbedaan kelas sosial, pekerjaan, tempat tinggal, dan akses terhadap layanan kesehatan memengaruhi besarnya risiko yang harus ditanggung seseorang. Masyarakat berpenghasilan tinggi mungkin mampu membeli penyaring udara, memperbaiki ventilasi rumah, atau meninggalkan wilayah terdampak untuk sementara. Sebaliknya, pekerja informal yang bergantung pada penghasilan harian tidak selalu dapat berhenti bekerja ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat yang tinggal dekat kawasan kebakaran juga mungkin memiliki keterbatasan untuk mengakses fasilitas kesehatan atau berpindah tempat. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, tetapi juga persoalan keadilan. Udara tercemar dapat menyebar melampaui batas kelas sosial, tetapi kapasitas untuk menghindari dampaknya tetap tidak merata.
Dalam perspektif teori kritis, keamanan perlu dipahami lebih luas daripada perlindungan kedaulatan negara atau stabilitas politik. Keamanan juga menyangkut kondisi yang memungkinkan manusia menjalani kehidupan yang sehat, optimal dan bermartabat. Jika negara mampu mempertahankan stabilitas ekonomi tetapi belum melindungi masyarakat dari ancaman lingkungan yang terus berulang, maka makna keamanan patut dipertanyakan kembali. Di sini, Silent Hill memberikan ilustrasi yang kuat tentang keterperangkapan. Tokoh-tokohnya menghadapi lingkungan yang membatasi pilihan mereka. Dalam krisis asap, keterperangkapan serupa dapat muncul bukan karena kekuatan supernatural, melainkan karena kemiskinan, ketergantungan ekonomi, dan terbatasnya akses terhadap perlindungan. Bagi sebagian orang, meninggalkan wilayah terdampak bukan pilihan yang realistis.
Kabut Asap yang Melintas Batas
Kabut asap secara terang-terangan memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dibatasi oleh garis teritorial. Kebakaran hutan dan lahan di suatu wilayah dapat menghasilkan pencemaran lintas batas yang memengaruhi negara tetangga. Karena itu, krisis asap menjadi persoalan Hubungan Internasional yang melibatkan kedaulatan, tanggung jawab negara, kepentingan ekonomi, serta kebutuhan akan kerja sama regional.
ASEAN telah mengembangkan kerangka kerja sama untuk menangani pencemaran asap lintas batas, termasuk melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution. Namun, keberadaan perjanjian tidak otomatis menghilangkan akar masalah. Efektivitas kerja sama tetap bergantung pada implementasi kebijakan nasional, transparansi, penegakan hukum, pertukaran informasi, dan kesediaan negara menghadapi kepentingan ekonomi yang berpotensi menghambat perlindungan lingkungan. Teori kritis mempertanyakan apakah diplomasi hanya menghasilkan kesepakatan formal atau benar-benar mengubah struktur yang memproduksi krisis. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah negara-negara telah bekerja sama, melainkan apakah kerja sama tersebut mampu melindungi masyarakat terdampak dan memastikan pertanggungjawaban pihak yang menyebabkan kerusakan.
Kabut asap juga menunjukkan keterbatasan konsep keamanan yang terlalu berpusat pada negara. Sebuah negara dapat mempertahankan kedaulatannya, tetapi dampak aktivitas di wilayahnya tetap mengancam kehidupan masyarakat lintas batas. Keamanan ekologis karena itu memerlukan pendekatan yang menghubungkan perlindungan manusia, tata kelola lingkungan, dan tanggung jawab internasional.
Kesimpulan
Pada akhirnya, hubungan antara kabut asap dan Silent Hill bukan sekadar permainan analogi antara bencana nyata dan horor fiksi. Keduanya membantu kita memahami bagaimana ketakutan dapat tumbuh ketika manusia menghadapi lingkungan yang tidak lagi dapat mereka kendalikan. Namun, teori kritis membawa analogi tersebut lebih jauh dengan mengajukan pertanyaan tentang siapa yang membentuk lingkungan itu, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Ketika kabut menipis, Kota Silent Hill tidak serta-merta menjadi tempat yang aman. Demikian pula, ketika kualitas udara kembali membaik, krisis kabut asap belum tentu benar-benar berakhir. Selama insentif ekonomi yang merusak, ketimpangan sosial, dan kelemahan tata kelola tetap bertahan, kemungkinan terulangnya bencana akan terus membayangi masyarakat. Karena itu, penyelesaian kabut asap tidak cukup dilakukan melalui pemadaman kebakaran dan pemantauan kualitas udara. Diperlukan penegakan hukum yang konsisten, pertanggungjawaban korporasi, perlindungan bagi masyarakat terdampak, pemulihan ekosistem, serta kerja sama internasional yang menyentuh akar persoalan ekonomi-politik.
Pelajaran terpenting dari Silent Hill adalah bahwa sesuatu yang paling menakutkan tidak selalu merupakan sesuatu yang paling terlihat. Dalam krisis kabut asap, monster tidak harus memiliki tubuh, cakar, atau wajah yang mengerikan. Ia dapat hadir sebagai sistem yang menormalisasi kerusakan, membagi keuntungan secara timpang, dan membuat penderitaan masyarakat seolah-olah tidak terhindarkan. Sebab, udara bersih bukan kemewahan bagi mereka yang mampu membelinya, melainkan kebutuhan dasar yang seharusnya dijamin bagi semua orang. Selama masyarakat masih harus mempertaruhkan kesehatan demi menghirup udara, kabut sesungguhnya belum sepenuhnya menghilang. Ia hanya berubah bentuk dari asap yang menyelimuti kota menjadi struktur kekuasaan yang terus bekerja di balik kehidupan sehari-hari.
