Konten dari Pengguna

Kurikulum Itu "Menu" yang Disusun, dan Kamu Tidak Pernah Ditanya Mau Pesan Apa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Adhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kurikulum bukan sekadar daftar mata pelajaran. Ia hasil dari pilihan dan kepentingan, dan sosiologi pendidikan punya penjelasannya

Ilustrasi Belajar Pajak. Sumber Foto : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Belajar Pajak. Sumber Foto : Pixabay

“Pendidikan 12 tahun, tapi nggak diajarin cara mengurus pajak, mengatur gaji, atau menghadapi stres.” Pernah lihat unggahan viral yang bunyinya begini? Kolom komentarnya biasanya ramai. Ada yang setuju sambil curhat, ada yang membalas, “Ya itu tugas orang tua dong.”

Tapi pertanyaan yang lebih menarik bukan siapa yang benar. Pertanyaannya: siapa sebenarnya yang memutuskan apa yang boleh dan harus kita pelajari di sekolah? Jawabannya ada di satu kata yang sering kita abaikan: kurikulum.

Kurikulum Itu Bukan Sekadar Daftar Mapel

Dalam sosiologi pendidikan, kurikulum adalah rencana tentang apa yang diajarkan, bagaimana diajarkan, dan untuk tujuan apa. Ia ibarat menu restoran. Kita, sebagai pelanggan, hanya bisa memilih dari menu yang sudah dibuat orang lain.

Yang menarik, menu itu tidak jatuh dari langit. Ada yang menyusunnya, ada pertimbangan di baliknya, dan ada banyak hal yang tidak dimasukkan. Pengetahuan yang tidak masuk menu ini otomatis dianggap kurang penting, padahal belum tentu begitu.

Versi Fungsionalis: Kurikulum Itu Menyiapkan Kita untuk Masyarakat

Menurut pandangan struktural fungsional, kurikulum dirancang agar generasi muda bisa menjalankan peran yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu ada matematika untuk berpikir logis, bahasa untuk berkomunikasi, dan PPKn untuk menanamkan nilai bersama, sejalan dengan gagasan Durkheim bahwa pendidikan menjaga ikatan sosial.

Masuk akal juga kalau kurikulum sering berubah. Dalam kacamata ini, zaman bergerak, kebutuhan masyarakat bergeser, jadi isi pelajaran perlu menyesuaikan. Dulu kita belajar mengetik di mesin tik. Sekarang anak-anak belajar coding.

Versi Teori Konflik: Siapa yang Punya Kuasa, Dia yang Menentukan Isinya

Sekarang kita pakai kacamata yang lebih tajam. Teori konflik, yang berakar dari Marx, bertanya: pengetahuan siapa yang dianggap penting? Kalau kurikulum disusun oleh kelompok yang berkuasa, wajar jika isinya cenderung mencerminkan kepentingan dan cara pandang mereka.

Contohnya bisa kita lihat dari hal yang sering dikeluhkan. Kita diajari banyak teori, tapi jarang diajari keterampilan praktis seperti literasi keuangan, hak-hak sebagai pekerja, atau kesehatan mental. Apakah itu kebetulan, atau karena sistem lebih membutuhkan pekerja yang patuh dan terlatih daripada warga yang kritis dan paham haknya? Ini bukan tuduhan, tapi pertanyaan yang memang diajukan oleh para pemikir konflik.

Versi Interaksionisme Simbolik: Kurikulum di Ruang Kelas Tidak Sama dengan di Kertas

Ada satu hal lagi yang jarang dibahas. Kurikulum di atas kertas belum tentu sama dengan kurikulum yang benar-benar terjadi di kelas. Perspektif interaksionisme simbolik menekankan bahwa makna lahir dari interaksi. Jadi, satu materi yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung bagaimana guru menyampaikannya dan bagaimana murid menafsirkannya.

Pelajaran sejarah di tangan guru yang pandai bercerita bisa terasa seperti serial drama. Di tangan guru yang hanya membaca slide, ia berubah menjadi hafalan tahun yang membosankan. Isi kurikulumnya sama, pengalaman belajarnya jauh berbeda.

Lalu, Apa yang Seharusnya Ada di Menu?

Tidak ada kurikulum yang sempurna. Setiap pilihan pasti menyisihkan pilihan lain. Tapi sebagai orang yang pernah (atau sedang) menjalani pendidikan, kita berhak ikut bertanya: apakah isi pelajaran ini sudah sesuai dengan kebutuhan hidup kita?

Dan mungkin itulah pelajaran sosiologinya. Apa yang kita pelajari tidak pernah netral. Ia hasil dari pilihan, kepentingan, dan negosiasi. Dengan menyadarinya, kita tidak lagi sekadar penerima menu, tetapi bisa menjadi pelanggan yang cerdas.

Kalau kamu yang menyusun kurikulum, satu pelajaran apa yang akan kamu wajibkan untuk semua murid?