Anak Kos dan Dua Perasaan yang Berbeda: Rindu Rumah atau Menikmati Jarak

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada anak kos yang baru beberapa hari meninggalkan rumah sudah menghitung kapan bisa pulang. Ada juga yang baru menyadari sudah berbulan-bulan tidak pulang ketika keluarganya bertanya, “Kapan pulang?” Keduanya sama-sama menjalani kehidupan jauh dari keluarga, tetapi perasaan yang muncul bisa sangat berbeda.
Bagi sebagian orang, tinggal di kos berarti belajar menghadapi rasa rindu. Kamar yang awalnya terasa asing perlahan menjadi tempat beristirahat, tetapi tetap tidak bisa menggantikan suasana rumah. Makanan yang biasanya tersedia tanpa perlu dipikirkan sekarang harus dicari sendiri. Ketika sedang sakit, tidak ada keluarga yang bisa langsung menghampiri. Bahkan, setelah melewati hari yang melelahkan, terkadang yang diinginkan hanya pulang dan duduk bersama keluarga tanpa harus membicarakan apa pun.
Namun, ada juga anak kos yang justru menikmati kehidupannya. Mereka merasa lebih bebas mengatur waktu, senang mengenal lingkungan baru, dan tidak terlalu memikirkan kapan harus kembali ke rumah. Bukan karena keluarga tidak penting, melainkan karena mereka merasa nyaman dengan kehidupan yang sedang dijalani.
Perbedaan ini menarik karena kita sering menganggap bahwa orang yang mudah rindu rumah berarti lebih dekat dengan keluarga, sedangkan orang yang jarang merasa rindu dianggap lebih mandiri. Padahal, perasaan seseorang tidak sesederhana itu.
Homesick atau kerinduan terhadap rumah merupakan pengalaman yang dapat muncul ketika seseorang tinggal jauh dari lingkungan, orang-orang, dan rutinitas yang sudah akrab baginya. Dalam penelitian Tammy English dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Emotion pada 2017, pengalaman homesick pada mahasiswa tahun pertama diteliti selama sepuluh minggu pertama kuliah. Hasilnya, 94 persen partisipan melaporkan pernah mengalami homesick setidaknya sekali selama periode tersebut. Rata-rata rasa homesick sedikit menurun sepanjang semester pertama, meskipun setiap orang menunjukkan pola yang berbeda.
Angka itu menunjukkan bahwa kerinduan terhadap rumah bukanlah pengalaman yang aneh bagi mahasiswa yang sedang menjalani perubahan besar dalam hidupnya. Namun, penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat, sehingga hasilnya tidak bisa langsung dianggap mewakili mahasiswa Indonesia. Meski begitu, penelitian ini memberikan gambaran bahwa menyesuaikan diri dengan kehidupan baru memang bisa disertai perasaan rindu yang berubah seiring waktu.
Bagi anak kos yang mudah homesick, rumah mungkin bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Rumah bisa menjadi tempat untuk merasa aman, diterima, dan tidak perlu menjelaskan terlalu banyak ketika sedang lelah. Di sana, ada kebiasaan yang sudah dipahami, orang-orang yang dikenal sejak lama, serta suasana yang membuat seseorang merasa menjadi bagian dari sesuatu.
Ketika semua itu berubah, wajar jika muncul perasaan kehilangan. Seseorang mungkin sudah mampu mengurus keperluannya sendiri, tetapi tetap merindukan hal-hal sederhana yang dahulu tidak pernah dianggap istimewa. Bahkan, rasa rindu bisa muncul ketika kehidupan kos sebenarnya berjalan baik-baik saja. Tidak sedang menghadapi masalah, tidak kesepian, dan tidak mengalami kesulitan berarti, tetapi tetap ingin pulang.
Di sisi lain, ada anak kos yang merasa jarak justru memberinya kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri. Tinggal jauh dari keluarga membuat mereka belajar mengambil keputusan, menyusun rutinitas, dan menghadapi tanggung jawab secara langsung. Mereka bisa mencoba hal baru, membangun pertemanan, serta menikmati waktu sendiri tanpa merasa harus selalu berada di tengah keluarga.
Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut memberikan rasa nyaman yang berbeda. Mereka tidak merasa perlu sering pulang untuk membuktikan bahwa hubungan dengan keluarga tetap dekat. Sesekali menelepon, bertukar kabar, atau bertemu ketika ada kesempatan sudah cukup untuk menjaga hubungan tersebut.
Ada pula kemungkinan bahwa kehidupan di rumah dan pengalaman setiap orang sebelum merantau ikut memengaruhi cara mereka memandang jarak. Seseorang yang sudah terbiasa bepergian atau tinggal jauh dari keluarga mungkin lebih mengenal cara menghadapi perubahan. Sementara itu, orang yang baru pertama kali tinggal sendiri harus menyesuaikan diri dengan banyak hal sekaligus.
Meski demikian, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua anak kos yang betah pasti memiliki pengalaman yang sama. Ada yang memang menikmati kebebasan, ada yang cepat menemukan lingkungan baru, dan ada pula yang masih beradaptasi tetapi tidak terbiasa mengungkapkan rasa rindunya. Begitu juga dengan mereka yang sering homesick. Kerinduan tidak otomatis berarti seseorang gagal beradaptasi.
Penelitian dalam KONSELI: Jurnal Bimbingan dan Konseling pada 2025 yang berjudul Students' Adaptation Strategies in Coping with Homesickness meninjau sepuluh artikel penelitian tentang cara mahasiswa menghadapi homesickness. Hasil tinjauan tersebut menyoroti beberapa cara penyesuaian, seperti menjaga komunikasi dengan keluarga, mencari dukungan sosial, mengikuti kegiatan kampus, serta membangun strategi untuk menghadapi perubahan. Temuan ini memperlihatkan bahwa proses menyesuaikan diri bukan hanya tentang menunggu rasa rindu menghilang, tetapi juga tentang membangun kehidupan baru yang terasa nyaman.
Pada akhirnya, ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kehidupan anak kos: mandiri tidak berarti harus berhenti merindukan rumah. Seseorang bisa terbiasa hidup sendiri, mampu mengatur keuangan, menyelesaikan tugas kuliah, dan menghadapi masalah tanpa bantuan langsung keluarga, tetapi tetap ingin pulang setiap kali ada kesempatan.
Sebaliknya, seseorang yang jarang merasa homesick juga tidak perlu merasa bersalah. Tidak ada kewajiban untuk terus-menerus merindukan rumah agar rasa sayang kepada keluarga dianggap nyata. Kedekatan tidak selalu terlihat dari seberapa sering seseorang ingin pulang, melainkan juga dari bagaimana ia menjaga hubungan dan menunjukkan kepedulian.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan perasaan anak kos, melainkan kebiasaan membandingkan pengalaman mereka. Tidak perlu menganggap orang yang mudah rindu sebagai pribadi yang lemah, atau menganggap orang yang betah jauh dari rumah sebagai seseorang yang kurang peduli. Keduanya sedang menjalani proses yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda.
Sebab, bagi sebagian orang, tumbuh dewasa berarti belajar menahan rindu agar tetap bisa melangkah. Bagi yang lain, tumbuh dewasa justru berarti menemukan kenyamanan di tempat yang baru tanpa harus terus-menerus merasa ingin kembali.
Dan pada akhirnya, rumah tidak kehilangan artinya hanya karena seseorang jarang merindukannya. Begitu pula seseorang tidak menjadi kurang mandiri hanya karena masih ingin pulang. Ada yang membutuhkan waktu untuk terbiasa dengan jarak, ada yang justru berkembang karenanya. Tidak ada yang harus disamakan, karena setiap orang memiliki cara sendiri untuk memahami rumah, keluarga, dan dirinya sendiri.
