Konten dari Pengguna

Kerja Keras Setiap Hari, Mengapa Hidup Belum Sejahtera?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulya Rhamadani Matondang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pekerja yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah tingginya biaya sehari-hari. (Ilustrasi by chatgpt)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah tingginya biaya sehari-hari. (Ilustrasi by chatgpt)

Banyak orang bekerja sejak pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika hari mulai gelap, bahkan mengambil pekerjaan tambahan agar penghasilan cukup untuk keluarga. Namun, di tengah usaha tersebut, muncul pertanyaan: mengapa kerja keras setiap hari belum tentu membuat seseorang hidup sejahtera?

Bagi sebagian masyarakat, penghasilan bulanan harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, hingga tagihan listrik dan air. Ketika pengeluaran terus berjalan, kenaikan penghasilan belum tentu membuat kondisi keuangan terasa lebih baik. Akibatnya, sebagian pekerja harus berhati-hati mengatur uang agar kebutuhan sampai akhir bulan tetap terpenuhi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata upah bersih buruh, karyawan, dan pegawai pada Agustus 2025 mencapai sekitar Rp3,33 juta per bulan. Angka ini merupakan rata-rata nasional, sehingga tidak menggambarkan kondisi setiap pekerja secara sama. Penghasilan nyata masyarakat berbeda menurut daerah, jenis pekerjaan, dan sektor usaha.

Persoalannya bukan semata-mata seberapa keras seseorang bekerja, tetapi juga apakah penghasilannya sebanding dengan kebutuhan hidup dan apakah pekerjaannya memberikan kepastian. Pekerja dengan pendapatan terbatas akan lebih rentan ketika menghadapi kenaikan biaya kebutuhan, pengeluaran kesehatan, atau kebutuhan keluarga yang mendadak. Tanpa tabungan dan perlindungan yang memadai, satu persoalan keuangan dapat memengaruhi kestabilan rumah tangga.

Karena itu, kesejahteraan tidak cukup diukur dari tersedianya pekerjaan. Kualitas pekerjaan juga penting, termasuk upah yang layak, kepastian hubungan kerja, keselamatan, perlindungan sosial, dan kesempatan untuk berkembang. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan ketenagakerjaan serta mendorong kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat. Dunia usaha juga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan kesejahteraan pekerja, bukan hanya produktivitas dan keuntungan.

Di sisi lain, masyarakat membutuhkan akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan serta membuka peluang kerja yang lebih baik. Namun, tanggung jawab meningkatkan kesejahteraan tidak boleh dibebankan kepada individu semata. Kemampuan seseorang untuk memperbaiki kondisi hidup juga dipengaruhi oleh ketersediaan pekerjaan, kondisi ekonomi, dan kesempatan yang dapat diaksesnya.

Pada akhirnya, kerja keras tetap penting, tetapi kerja keras saja tidak selalu cukup. Masyarakat membutuhkan sistem yang memberi kesempatan untuk memperoleh penghasilan layak dan hidup dengan aman. Keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar dan menikmati hasil pembangunan. Sebab, kesejahteraan bukan sekadar memiliki pekerjaan, tetapi juga mampu menjalani kehidupan yang layak dari hasil pekerjaan tersebut.

Data dapat ditelusuri melalui [publikasi resmi BPS](https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTUyMSMy/average-of-net-wage-).