Konten dari Pengguna

Inflasi dan Daya Beli Masyarakat: Mengapa Uang Terasa Makin Sedikit?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aura rizky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inflasi dan Daya Beli Masyarakat bukan sekadar istilah ekonomi yang muncul dalam berita. Dampaknya dapat dirasakan ketika seseorang berbelanja kebutuhan sehari-hari dan menyadari bahwa uang yang dibawa tidak lagi mencukupi untuk membeli barang sebanyak biasanya. Persoalannya bukan selalu karena pendapatan berkurang, tetapi juga karena harga barang dan jasa berubah.

Bayangkan sebuah keluarga yang menyiapkan anggaran belanja mingguan. Uang yang tersedia harus dibagi untuk membeli beras, telur, minyak goreng, sayuran, kebutuhan mandi, serta ongkos transportasi. Ketika beberapa pengeluaran meningkat, keluarga tersebut harus menentukan kembali mana yang perlu dibeli terlebih dahulu dan mana yang bisa ditunda.

Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa perubahan harga bukan hanya persoalan angka statistik. Bagi rumah tangga, perubahan tersebut dapat memengaruhi pilihan makanan, kebiasaan berbelanja, hingga kemampuan menyisihkan uang untuk tabungan. Menurut saya, itulah alasan mengapa inflasi perlu dipahami melalui dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui persentase yang diumumkan pemerintah.

Ilustrasi daya beli masyarakat saat membeli kebutuhan pokok di pasar. (Sumber: www.Pexels.com)

Ketika Belanja Harian Mulai Membutuhkan Perhitungan Ulang

Dalam keadaan normal, seseorang mungkin berbelanja dengan daftar kebutuhan yang sama setiap minggu. Namun, ketika harga beberapa barang berubah, daftar tersebut bisa perlu disesuaikan. Keluarga mungkin memilih merek yang lebih ekonomis, mengurangi pembelian makanan di luar rumah, atau membandingkan harga di beberapa tempat sebelum berbelanja.

Misalnya, sebuah keluarga memiliki anggaran belanja bahan makanan sebesar Rp300.000 untuk satu minggu. Jika harga sejumlah kebutuhan meningkat, anggaran tersebut bisa menjadi lebih sulit dipenuhi tanpa mengurangi jumlah barang yang dibeli atau menambah pengeluaran. Angka ini merupakan ilustrasi sederhana, bukan data pengeluaran rata-rata keluarga Indonesia.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa dampak kenaikan harga tidak selalu berarti seseorang langsung tidak mampu membeli kebutuhan pokok. Dampaknya bisa muncul secara bertahap, seperti berkurangnya variasi makanan, tertundanya pembelian pakaian, atau semakin kecilnya uang yang dapat disimpan pada akhir bulan.

Menurut saya, masalah ini menjadi lebih berat bagi rumah tangga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan pokok. Mereka memiliki ruang yang lebih terbatas untuk menyesuaikan pengeluaran dibandingkan rumah tangga yang masih mempunyai banyak anggaran untuk kebutuhan nonpokok.

Data Inflasi Menunjukkan Mengapa Harga Perlu Diperhatikan

Dampak perubahan harga dapat dilihat melalui data resmi. Badan Pusat Statistik (BPS), dalam rilis pada 1 Oktober 2026, mencatat bahwa Indonesia mengalami inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 3,28 persen pada September 2026. Inflasi bulanan pada periode yang sama tercatat sebesar 0,30 persen.

Angka tersebut menggambarkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), yaitu indikator yang digunakan untuk mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Inflasi tahunan sebesar 3,28 persen tidak berarti setiap barang mengalami kenaikan sebesar 3,28 persen. Harga komoditas tertentu dapat naik lebih tinggi, tetap, atau bahkan turun.

Contoh yang lebih spesifik terlihat di Jawa Tengah. Dalam laporan yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat inflasi bulanan sebesar 0,31 persen pada September 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan, sementara beras termasuk komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi tahunan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi harga perlu dilihat berdasarkan wilayah dan periode pengamatan. Situasi di satu provinsi belum tentu sama dengan situasi di provinsi lain karena pasokan, distribusi, dan kondisi pasar dapat berbeda.

Harga Beras Tidak Selalu Bergerak Sama di Setiap Daerah

Beras merupakan contoh yang dekat dengan kebutuhan rumah tangga Indonesia. Perubahan harganya dapat memengaruhi anggaran belanja, terutama bagi keluarga yang mengonsumsi beras setiap hari. Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa harga beras selalu naik di seluruh wilayah.

Badan Pangan Nasional melaporkan bahwa rata-rata harga beras medium secara nasional pada 31 Agustus 2026 mencapai Rp13.626 per kilogram. Angka tersebut tercatat turun 3,18 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya, ketika rata-ratanya mencapai Rp14.073 per kilogram.

Data ini memberi gambaran yang lebih lengkap: meskipun beras menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada periode tertentu, rata-rata harganya dapat menunjukkan arah perubahan yang berbeda jika dibandingkan berdasarkan periode lain. Perbedaan jenis beras, wilayah pemantauan, dan waktu pencatatan juga perlu diperhatikan ketika membandingkan angka harga.

Karena itu, ketika mendengar kabar bahwa harga beras atau kebutuhan pokok sedang meningkat, masyarakat sebaiknya memeriksa informasi yang menyertakan lokasi, tanggal, dan jenis komoditasnya. Informasi tersebut lebih bermanfaat daripada pernyataan umum bahwa semua harga sedang naik.

Mengapa Inflasi Bisa Mengurangi Daya Beli?

Daya beli berkaitan dengan jumlah barang dan jasa yang dapat diperoleh seseorang menggunakan pendapatannya. Ketika harga meningkat sementara pendapatan tidak berubah, uang yang sama dapat membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya.

Sebagai contoh, jika seseorang memiliki anggaran Rp100.000 untuk membeli kebutuhan tertentu, perubahan harga dapat membuat jumlah barang yang diperoleh menjadi lebih sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan yang sama, ia mungkin perlu mengeluarkan uang tambahan atau mengurangi pembelian lainnya.

Keadaan tersebut tidak selalu dialami semua orang dengan tingkat yang sama. Dampaknya dipengaruhi oleh jenis barang yang mengalami perubahan harga, besarnya pendapatan, pola konsumsi, serta kemampuan rumah tangga menyesuaikan pengeluaran.

Menurut saya, salah satu persoalan penting adalah ketika kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari tidak diikuti peningkatan pendapatan. Dalam kondisi tersebut, rumah tangga perlu mengatur ulang anggaran, sementara ruang untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain bisa semakin terbatas.

Itulah sebabnya inflasi perlu dipahami bersama kondisi pendapatan masyarakat. Angka inflasi memberikan gambaran perubahan harga secara umum, sedangkan daya beli membantu menjelaskan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhannya.

Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?

Masyarakat memang tidak dapat mengendalikan harga pasar secara langsung. Namun, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengelola pengeluaran rumah tangga.

Pertama, menyusun anggaran belanja berdasarkan kebutuhan prioritas. Kebutuhan pokok, biaya transportasi, tagihan, dan kewajiban rutin perlu diperhitungkan sebelum mengalokasikan uang untuk pengeluaran tambahan.

Kedua, membandingkan harga berdasarkan kualitas dan ukuran barang. Harga yang terlihat lebih murah belum tentu lebih hemat jika isi atau kualitasnya berbeda. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan jumlah, mutu, dan kebutuhan sebenarnya sebelum membeli.

Ketiga, mencatat pengeluaran secara berkala. Catatan sederhana dapat membantu keluarga mengetahui pos pengeluaran yang paling besar dan menentukan bagian yang masih bisa dikurangi tanpa mengorbankan kebutuhan penting.

Di sisi lain, upaya rumah tangga saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan inflasi. Pemerintah juga perlu menjaga kelancaran distribusi, memantau ketersediaan bahan pokok, serta memperkuat koordinasi ketika terjadi gangguan pasokan. Informasi harga yang terbuka dan mudah diakses juga membantu masyarakat mengambil keputusan belanja secara lebih tepat.

Memahami Inflasi agar Tidak Hanya Menjadi Angka

Inflasi sering kali terdengar seperti persoalan ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, pengaruhnya dapat terlihat dari cara keluarga menyusun anggaran, menentukan barang yang dibeli, dan mengatur sisa pendapatan setiap bulan.

Data BPS menunjukkan pentingnya memperhatikan perubahan harga secara terukur, sedangkan contoh beras memperlihatkan bahwa pergerakan harga dapat berbeda menurut wilayah dan periode. Karena itu, pembahasan inflasi perlu menggunakan sumber yang jelas agar masyarakat dapat membedakan kondisi yang benar-benar terjadi dari anggapan umum.

Menurut saya, memahami inflasi bukan berarti harus selalu merasa khawatir setiap kali harga berubah. Yang lebih penting adalah memahami penyebab dan dampaknya, memeriksa data yang dapat dipercaya, serta mengambil keputusan keuangan secara lebih terencana. Dengan begitu, masyarakat dapat menghadapi perubahan harga dengan pertimbangan yang lebih rasional.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2026, 1 Oktober). Inflasi year-on-year (y-on-y) pada September 2026 sebesar 3,28 persen. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/10/01/2623/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-september-2026-sebesar-3-28-persen-.html

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah. (2026, 1 Oktober). Cabai dan beras jadi pemicu utama inflasi Jawa Tengah September 2026. https://jateng.bps.go.id/id/news/2026/10/01/1321/cabai-dan-beras-jadi-pemicu-utama-inflasi-jawa-tengah-september-2026.html

Badan Pangan Nasional. (2026, 2 September). Perkembangan harga beras nasional. https://pustaka.badanpangan.go.id/publikasi/20b5e1cf8694af7a3c1ba4a87f073021

Penulis :

Aura Rizky (251010500417)

Safa Melati Nuraini (251010502498)