Ego dan Diam: Dua Retakan Rumah Tangga dalam Cerpen 'Zul Hanya Ingin Melaut’

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 3 UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA PUBLIC SPEAKER Penulis Pemula
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Qurota Ayuningtias tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Kita kadang lupa, siapa yang menjadi prioritas kita saat menjalin hubungan, perutnya, nafsunya, atau kebutuhan mentalnya, atau bahkan ego-nya”.
Berulang kali kita dikejutkan dengan berita perceraian yang ada di negara sendiri dari kalangan selebritis sampai rakyat biasa. Perceraian yang pada mulanya suatu hal yang sangat dihindari atau bahkan dianggap suatu hal yang sangat tidak lazim, pada tahun ini entah mengapa menjadi suatu hal yang ‘lumrah’.
Tak disangka-sangka Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan beberapa tahun belakangan termasuk 2026 mengalami fluktuasi. Sekitar hampir 438.168 kasus perceraian terjadi di tahun 2025. Faktor pemicu tertinggi biasanya didominasi oleh masalah ekonomi keluarga (tidak ada nafkah), perselisihan terus-menerus dan ditinggalkan sepihak.
Perceraian memang bukan suatu kepastian dalam memulai sebuah hubungan, tapi apakah setiap pernikahan akan selalu berakhir perceraian? Atau kasus perceraian tahun ini yang menyebabkan Gen Z semakin takut memulai pernikahan? Apakah pernikahan runtuh karena hal-hal kecil yang lama dibiarkan?
Cerpen “Zul Hanya ingin Melaut”, saya rasa bisa menjadi rujukan bacaan bagi teman teman yang hendak menikah atau mungkin butuh nasihat pernikahan. Cerpen ini mengajarkan pembaca betapa pentingnya komunikasi dua arah diprioritaskan saat sedang berdiskusi dengan pasangan. Mengapa demikian? Pada cerpen yang mengusung tema tentang suami yang tak begitu pandai berkomunikasi dengan istri ini, pembaca bisa mengambil banyak sekali pelajaran.
Tema yang secara tidak langsung tersirat saat pertama kali membaca paragraf pertama akan membuat pembaca bertanya-tanya akhir dari cerita ini seperti apa. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2015) yang mengatakan bahwa tema adalah gagasan (makna) dasar umum yang menopang sebuah karya sastra sebagai struktur semantis dan bersifat abstrak yang secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya dilakukan secara implisit.
Cerpen yang bercerita tentang “Zul” yang sedang berdiri di depan dermaga. Perahunya sudah siap diajak melaut. Tapi di rumah istrinya menunggu dengan khawatir, namun salah dalam mengutarakan kekhawatirannya. Itulah momen yang mengubah segalanya.
”Tunggulah sekejap,” pinta istriku, ”beberapa menit lagi pasti reda.”
”Keram pantatku terlalu lama duduk,” kubalas.
”Kau mau pulang dengan peti kosong?”
”Usah kau berdoa seperti itu. Berdoalah yang baik.”
”Bagaimana aku mau berdoa yang baik? Kau membuatku gusar, Zul.”
”Aku akan sedikit ke tengah, tak perlu khawatir.” (Kutipan Cerpen)
Kalian pasti punya teman atau mungkin kamu sendiri yang merasa passion-nya justru menjadi sumber konflik di rumah. Itulah yang dialami Zul. Kalian mungkin tidak mengenal Zul, tapi pasti setelah membacanya kalian akan mengenal dinamika kehidupan yang dialaminya. Cerpen ini bukan hanya cerita tentang nelayan, ini cerita tentang suami-istri yang tidak lagi saling mendengar.
Yang paling menyakitkan dari cerita Zul bukan pertengkaran dinginnya. Tapi jeda, momen ketika dua orang yang harusnya saling bicara memilih diam. Karena lelahnya tak disambut. Mungkin saat Zul berkata peti esnya masih kosong, ia ingin menceritakan semua kejadian yang terjadi di laut tadi akan tetapi istrinya langsung menohok pernyataan Zul. Bukan bertanya keadaan Zul, ia malah bertanya “Mana joranmu?” dan semakin diperkuat oleh penulis yang memberi pernyataan.
“Amuknya baru bisa tenang, untuk sementara, setelah kami sama-sama tergeletak di pembaringan. Mungkin karena kantuk yang menyergap, dan aku yang berhasil mengunci bibirku hingga kami terlelap.” (Potongan Cerpen)
Zul memang hanya satu karakter. Tapi mungkin ada jutaan “Zul” di luar sana. Suami, istri, pasangan yang terjebak dalam rumah tangga yang sama-sama tidak tahu cara bicara satu sama lain.
Mungkin para pembaca bisa membaca ulang cerpen itu sekali lagi, tapi kali ini, lupakan soal siapa yang salah, dan fokus pada satu hal: siapa menanggung beban ekonominya? Dan apakah hal itu pernah dibicarakan dengan adil? Kapal Zul mungkin sudah siap berlayar. Tapi kapal rumah tangganya? Siapa yang menanggung beban bahan bakarnya? Ekonomi rumah tangga bekerja seperti itu; kalau tidak bisa dikelola bersama, kapal itu bisa karam di tengah jalan.
Kalau laut punya ombak yang terus berulang, dan rumah tangga Zul pun begitu. Istrinya berkata tidak. Zul hanya mampu diam. Dan konfliknya mereda. Polanya sama, berulang dan begitu terus. Kita mungkin tergoda untuk menyalahkan istrinya yang “selalu seperti itu.” Tapi mari kita jujur: Zul yang terus diam, terus menerima segala ocehan istrinya, terus “terbiasa” itu bukan sekedar kesabaran. Di baliknya, ada ego yang memilih untuk tidak berkonfrontasi. Ada identitas yang perlahan hilang karena terlalu sering mengalah. Dua orang, dua pola yang saling mengeras, dan dua orang yang tidak saling menasihati.
Dan di akhir cerita penulis, memberikan closing statement dari tulisannya.
“Baik istriku dan Aliun tahu, yang aku butuhkan hanyalah laut, yang aku butuhkan hanyalah hidup darinya.”
Entah mengapa saya rasa, makna dari kalimat diatas sangat dalam sekali. Karena bagi Zul laut bukan hanya tempat untuk menghidupi keluarganya. Akan tetapi laut sudah menjadi teman atau bahkan tempat pulang, tempat melampiaskan kekesalannya terhadap istrinya.
Berbeda dengan nasihat pernikahan yang menggurui, cerpen ini tidak menunjuk. Komunikasi yang putus, Ekonomi yang tidak pernah dibicarakan. Ego yang menyamar sebagai kebiasaan. Tiga hal itu bukan hanya wajah milik Zul dan istrinya. Tiga hal itu adalah wajah yang sering kita hindari dari cermin kehidupan, karena terlalu familiar, terlalu dekat, terlalu menyakitkan untuk diakui.
Ada alasan kenapa cerpen ini tidak terasa seperti teks pelajaran. Ia terasa seperti percakapan yang sedang berlangsung di warung kopi, santai, tapi tiba-tiba menghantam. Karena fiksi punya cara masuk yang tidak dimiliki ceramah atau seminar pernikahan manapun: ia menyentuh dan merangkul pembacanya. Tentang Zul: mengapa ia tidak pernah benar-benar bercerita tentang kejadian sesungguhnya di laut? Lalu tentang istrinya: mengapa ia bersikap seperti itu? Mengapa ia tidak bersyukur ketika Zul pulang selamat saat kondisi laut sedang buruk?
Penulis memang tidak mengakhiri cerita dengan mengakhiri hubungan Zul dengan istrinya. Tapi, kita bisa menemukan gambaran hubungan sebelum bercerai dari untaian kalimat yang disusun penulis.
Zul hanya ingin melaut. Keinginan yang sederhana — tapi cukup untuk mengguncang seluruh fondasi rumah tangganya. Mungkin bukan laut yang jadi masalahnya. Mungkin bukan istrinya. Mungkin masalahnya adalah dua orang yang terlalu lama berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar saling melihat.
Zul dan istrinya mengajarkan kita. Bukan dengan ceramah. Bukan dengan data. Tapi dengan cerita yang terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut fiksi. Kalau ada satu hal yang bisa dibawa pulang dari cerpen ini, mungkin ini: jangan tunggu sampai salah satu dari kalian memilih untuk pergi ke laut masing-masing. Bicara. Sekarang. Selagi masih ada yang mau mendengar.
Kita sering berpikir perceraian terjadi karena tidak cinta lagi. Padahal tidak — perceraian sering terjadi justru karena dua orang yang masih cinta, tapi tidak tahu lagi cara mengatakannya. Zul masih ingin pulang. Istrinya masih menunggu. Tapi di antara mereka, ada jarak yang dibangun bata per bata — dari diam yang terlalu sering, dari uang yang jadi senjata, dari ego yang tidak mau turun satu langkah pun.
Pada akhirnya, Zul hanya ingin melaut. Dan istrinya — mungkin — hanya ingin didengar. Dua keinginan yang sederhana. Tapi karena tidak pernah diucapkan dengan jujur, keduanya berubah jadi dinding. Sastra memang begitu cara kerjanya: ia mengambil hal yang paling rumit dalam hidup kita, membungkusnya jadi cerita, lalu mengembalikannya ke kita — lebih ringan, lebih jelas, lebih mudah untuk dilihat. Tinggal apakah kita mau melihatnya.
Qurota Ayuningtias - Mahasiswi PBSI
Daftar Pustaka
Satrio,F,I. (2026, 17 April). Zul Hanya Ingin Melaut. Kompas.com. kompas.com
Nurgiyantoro, B. (2015). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Badan Pusat Statistik. (2025). Nikah dan Cerai Menurut Provinsi. Di akses pada tanggal 28 Juni 2025, dari bps.go.id
