Sampah Masyarakat Buatan Siapa?

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampah masyarakat resmi menjadi frasa kiasan yang termaktub dalam KBBI sejak kemunculannya 1988. Frasa ini untuk menggambarkan persoalan sosial yang sistematik. Didefinisikan sebagai gelandangan dan orang-orang yang dianggap tidak berguna bagi masyarakat.
Sampah masyarakat dapat dikategorikan pada 4 indikator yaitu kriminalitas, ekonomi, fungsi sosial, dan perilaku sosial. Kriminalitas bisa dipersempit dengan definisi orang-orang yang merugikan orang lain secara struktur hukum masyarakat seperti residivis kriminal, premanisme, dan koruptor. Faktor dari model ini sangat kompleks, mulai dari keterpaksaan sampai adanya kesempatan.
Indikator berikutnya adalah ekonomi yang dapat didefinisikan sebagao orang-orang yang tidak memiliki kemampuan ekonomi dan hidup menggelandang. Model indikator ini dapat ditemui di jalanan, lampu merah, dan tempat publik, mereka adalah gelandangan, pengemis, dan pengamen jalanan. Model ini tercipta dipengaruhi faktor terbesarnya yaitu ekonomi yang rendah dan minimnya produktivitas ekonomi yang membuat masyarakat urban melabeli dengan sampah masyarakat.
Indikator berikutnya adalah fungsi sosial, yaitu orang-orang yang tidak memiliki fungsi sosial dalam masyarakat. Era modern, kehidupan mulai bergeser dari dunia nyata ke dunia maya. Pada transformasi ini ada celah yang membiaskan fungsi sosial manusia dalam bermasyarakat. Tanpa fungsi sosial yang jelas, label sampah masyarakat dilimpahkan.
Indikator terakhir adalah perilaku sosial, yaitu orang-orang yang mengganggu masyarakat dengan melanggar norma yang berlaku. Model ini ditemukan pada perusak fasilitas umum dan pembuat gaduh lingkungan. Masyarkat urban memandang bahwa perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan dan hanya akan dilakukan oleh orang yang tidak berguna.
Dari 4 indikator, ini adalah bentuk labeling masyarakat urban dan stigma sosial yang muncul. Sekalipun labeling ini dapat dibantah dengan beberapa opsi, tapi konstruksi ini telah mengakar. Sampah masyarakat diciptakan oleh labeling liar atau bahkan pengakuan diri. Eksistensinya begitu kompleks dan melibatkan banyak pihak.
