Reshuffle Kilat Tiga Ronde: Obral Kursi Istana atau Pameran Wahana Pasar Malam

Dosen Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Advokat pada Kantor Hukum BEN LAW Office, Direktur Eksekutif Parliament Watch Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Benediktus Hestu Cipto Handoyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mari kita menundukkan kepala sejenak untuk merenungkan sebuah keajaiban logika yang hanya bisa disaksikan di negeri karhutla ini. Jika ditarik melalui garis alur pikir formal yang biasa dibangga-banggakan para sarjana—mulai dari premis hulu, premis hilir, hingga konklusi yang menohok ulu hati—kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah pertunjukan akrobatik hukum tata negara yang membuat para pemikir besar menangis di pojokan candi, sementara para boss parpol koalisi istana justru tertawa lepas sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Premis dasarnya mengajarkan sebuah dalil universal yang amat luhur bahwa kekuasaan dibentuk untuk menyelenggarakan negara yang efektif, berdasar meritokrasi, dan berorientasi pada kesejahteraan umum. Premis tambahannya, berdasarkan fakta sejarah yang sahih, terang-benderang menunjukkan bahwa Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet, pelantikan Wantimpres, dan bongkar-pasang pejabat secara beruntun sebanyak tiga ronde hanya dalam rentang dua pekan pertama bulan Oktober 2026. Maka, jika ditarik kesimpulan secara jujur: Ketika sebuah struktur kekuasaan dirombak tiga kali dalam sebulan, mutatis mutandis, pola yang berlaku di dalamnya bukanlah efektivitas tata kelola, melainkan putaran kursi musikal di pasar malam.
Orang-orang tua di desa sering mewariskan sebuah adagium luhur untuk menanggapi pola pikir yang jungkir balik semacam ini sebagai "ojo dadi keplok ora mergo swara, nanging mergo kaget deleng tontonan. Jangan tertepuk tangan kagum pada kecepatan gerak tangan sang dalang, sebab yang sedang dipertontonkan sejatinya adalah kepanikan struktural yang dibungkus rapi dalam balutan hak prerogatif.
Di sinilah panggung komedi yang sesungguhnya dimulai, bukan sekadar di dalam istana, melainkan juga di meja-meja kerja para pengamat politik dan hukum tata negara kita tercinta. Para pengamat yang mulia ini langsung berlomba-lomba menulis artikel opini setebal skripsi di berbagai media massa begitu berita reshuffle kilat terjadi. Dengan kacamata kuda dan nada suara atau tulisan yang disengaja agar terdengar atau dibaca sangat prihatin, mereka mengupas tuntas mengapa sang menteri dicopot dan mengapa wajah baru dimunculkan. Namun, jika kita menyelami gelagat mereka dengan batin yang tenang, tersimpan sebuah kelucuan yang teramat sangat: mereka mengkritik habis-habisan keputusan bongkar-pasang kabinet, padahal jika tidak ada keputusan konyol itu, kolom opini mereka bakal kosong dan honor menulis bulanan mereka dipastikan melayang. Mereka tampak begitu sewot menggugat transaksi politik di hulu, tetapi diam-diam bersyukur di dalam hati karena para penguasa rajin menciptakan bahan tulisan setiap dua minggu sekali.
Mari kita bedah pola pikir menggelikan ini dengan pisau kearifan lokal. Dalam ilmu kearifan filosofis ala Immanuel Khan bahwa pembentukan norma dan jabatan publik menuntut adanya landasan etik dan moral yang matang. Norma kekuasaan yang sehat tidak lahir dari kalkulasi transaksional kelompok yang sedang berebut jatah kavling. Ketika para menteri baru dilantik pada tanggal 1 Oktober, lalu dua minggu kemudian pada 15 Oktober digeser atau diganti wajahnya, nalar sehat kita langsung terjungkal. Apakah para pembantu presiden tersebut mendadak amnesia akut di tengah jalan, ataukah naskah rekam jejak di balik pengangkatan mereka sejak awal memang ditulis di atas daun pisang yang gampang layu?
Para pengamat kebijakan publik mencatat bahwa gelombang pelantikan di bulan Oktober 2026 ini merupakan kompromi tingkat tinggi antara mengakomodasi syahwat koalisi dan memasukkan unsur militer serta teknokrat ke pos sipil demi menghindari kapal karam. Orang Jawa merumuskannya dengan sangat ciamik dalam pepatah: Jer basuki mawa béya, nanging yen kakehan gaya, buang-buang ragat tanpa guna. Segala pencapaian memang butuh ongkos politik, tetapi kalau istana diobok-obok lewat hobi reshuffle kilat layaknya ganti saluran televisi, yang habis bukan cuma anggaran negara, melainkan kewarasan nalar publik.
Bayangkan nasib para birokrat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementerian. Di satu sisi, birokrasi butuh kepastian linimasa kerja yang jelas. Di sisi lain, bos mereka berganti tiga kali dalam empat belas hari. Konklusinya: para pegawai negeri kita dipastikan lebih mahir merangkai kata sambutan selamat datang dan menyiapkan tumpeng serah terima jabatan ketimbang mengejar target pembangunan nasional. Alih-alih mewujudkan visi besar, birokrasi kita menjelma menjadi panggung drama musikal di mana para pemainnya lupa naskah karena sutradaranya hobi merombak babak cerita setiap kali bangun tidur pagi. Sementara para pengamat di luar sana sibuk mengetik analisis panjang lebar sampai tombol huruf komputernya luntur kayak jeans belel.
Obral kursi kekuasaan ini pada akhirnya mengubah wujud hukum tata negara kita menjadi sekadar kalkulator sosiologis transaksional: siapa yang paling gaduh di luar pagar istana, dialah yang berhak menduduki kursi empuk di ruang sidang kabinet. Konstitusi kita yang agung diperlakukan tidak lebih dari lembaran papan permainan monopoli, di mana petak-petak kekuasaan bisa digeser kapan saja sesuai lemparan dadu para elite.
Namun, hukum alam tidak bisa dikelabui oleh rekayasa buatan para pemburu rente kekuasaan maupun para penulis opini yang hobi bicara berbusa-busa atau menulis beribu kata (seperti tulisan ini tentunya). Leluhur kita telah mengingatkan dengan tandas melalui adagium bahwa becik ketitik, ala ketara. Seberapa canggih pun pasal akomodasi dirumuskan, seberapa sering pun kursi istana diputar ke kiri dan ke kanan layaknya gasing, pada akhirnya tabir kebenaran akan tersingkap juga oleh waktu.
Kursi-kursi di kabinet itu boleh saja beroda dan digeser tiga kali sebulan. Akan tetapi, jika substansi kekuasaan terus-menerus mengkhianati nalar keadilan rakyat, maka kursi-kursi tersebut lambat laun tidak lagi terasa empuk, melainkan berubah menjadi duri bagi mereka yang mendudukinya. Sebab, sebagaimana dititipkan oleh para sesepuh dalam keheningan malam: "Gusti ora sare" alias Tuhan tidak pernah tidur, dan sejarah tidak pernah salah menagih pertanggungjawaban dari mereka yang mempermainkan amanah rakyat demi ambisi sesaat — termasuk mereka yang sibuk merangkai kata di media massa arus utama.
