Jadwal Buyback Saham BBCA dan Alasannya yang Perlu Diketahui

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami informasi mengenai jadwal buyback saham BBCA sangat penting dilakukan oleh para investor. Ketepatan waktu dalam memantau aksi korporasi ini dapat memudahkan para investor untuk mengantisipasi potensi pergerakan harga saham di pasar modal.
Oleh karena itu, selalu memperhatikan keterbukaan informasi dari pihak manajemen PT Bank Central Asia Tbk atau BCA merupakan langkah yang sangat bijak. Dengan terus memperbarui data terkini, keputusan investasi yang diambil dapat menjadi lebih matang.
Jadwal Buyback Saham BBCA
Mengacu pada kumparanBISNIS, BCA melaksanakan aksi pembelian kembali saham (buyback) BBCA pada Senin-Rabu, 19-21 Oktober 2026. Manajemen mengungkap, langkah ini adalah tahap lanjutan dari agenda serupa yang direalisasikan pada April dan Juni 2026.
Kegiatan ini pun sudah mengantongi izin melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada Kamis, 12 Maret 2026.
Merujuk pada ketetapan tersebut, masa penyerapan kembali saham dijadwalkan berjalan selama 12 bulan, terhitung sejak Kamis, 12 Maret 2026 sampai Kamis, 11 Maret 2027, kecuali diakhiri lebih cepat oleh pihak perseroan berlandaskan regulasi yang berlaku.
Selama proses pengerjaannya, BCA menegaskan iktikadnya untuk menjalankan asas tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) dan tunduk pada seluruh ketetapan hukum yang berlaku.
Perusahaan turut menyatakan bahwa kebijakan buyback saham BBCA ini tidak memberikan pengaruh terhadap performa finansial maupun operasional bisnis. Pimpinan BCA akan senantiasa mengamati pergerakan kondisi pasar dalam merealisasikan agenda pembelian ini.
Alasan Buyback Saham BBCA
BCA menegaskan, penyelenggaraan pembelian kembali saham mencerminkan optimisme perusahaan atas fondasi bisnis yang dimilikinya. Di samping itu, langkah ini merupakan bentuk dukungan guna menjaga stabilitas pasar modal di Indonesia.
Berdasarkan Laporan Posisi Keuangan BCA, hingga Agustus 2026, BCA berhasil membukukan laba bersih secara bank only senilai Rp40,17 triliun.
Memasuki penutupan Agustus 2026, penyaluran kredit bank BCA menembus angka Rp1.017,71 triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 10,52 persen year-on-year (yoy). Pada kurun waktu yang sama, jumlah aset perusahaan terhitung sebesar Rp1.596,96 triliun, atau terangkat 8,19 persen yoy.
Apabila dibedah lebih mendalam, maka simpanan giro terangkat 14,73 persen yoy menjadi Rp447,5 triliun. Di samping itu, simpanan tabungan terangkat 8,2 persen yoy hingga mencapai Rp626,69 triliun.
Sementara itu, simpanan deposito terdata sebesar Rp182,62 triliun, atau terkoreksi 4,3 persen yoy. Seiring dengan perkembangan penyaluran kredit tersebut, perbandingan kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) BCA berada pada 80,97 persen.
Pencapaian ini mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan LDR pada kurun waktu yang sama di tahun lalu yang sebesar 79,38 persen.
Mengenai aspek penerimaan, BCA mengantongi pendapatan bunga mencapai Rp62,87 triliun sampai Agustus 2026. Pada saat bersamaan, pengeluaran bunga terdata senilai Rp9,04 triliun.
Dengan begitu, perolehan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BCA mencapai Rp53,82 triliun. Perolehan NII ini terangkat 1,33 persen yoy.
Selain perolehan bunga, BCA turut mengamankan penerimaan yang berasal dari komisi, provisi, fee, maupun administrasi sebesar Rp13,59 triliun. BCA pun memperoleh hasil dividen senilai Rp1,95 triliun beserta laba atas pelepasan aset keuangan sebesar Rp1,82 triliun.
Baca Juga: Apa itu Short Selling Saham? Simak Syarat dan Cara Kerjanya
(MDP)
