Konten dari Pengguna

2 Kultum Ramadhan Hari ke-17 untuk Peringati Nuzulul Qur'an

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kultum Ramadhan hari ke-17. Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kultum Ramadhan hari ke-17. Foto: Masjid Pogung Dalangan/Unsplash

Hari ke-17 Ramadhan dikenal sebagai salah satu momen bersejarah umat Islam, yakni turunnya Al-Qur'an atau yang disebut juga Nuzulul Qur'an. Untuk memperingati peristiwa ini, biasanya digelar kultum yang mengangkat tema Al-Qur'an.

Dalam kultumnya, ustaz akan menjelaskan kandungan Al-Qur'an. Tak hanya itu, ustaz juga sering kali menekankan pentingnya membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan begitu, kultum tak hanya meningkatkan keimanan, tapi juga dapat mendorong jemaah untuk lebih rajin membaca Al-Qur'an. Sebagai referensi, yuk simak contoh materi kultum Ramadhan hari ke-17 berikut ini.

Contoh Kultum Ramadhan Hari ke-17

Ilustrasi kultum Ramadhan hari ke-17. Foto: Bimbingan Islam/Unsplash

Mengutip buku 30 Materi Ceramah Ramadhan oleh M. Indra Kurniawan, berikut contoh teks kultum Ramadhan hari ke-17:

1. Ramadhan Syahrul Qur'an

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." (QS. Al-Baqarah: 185)

Momentum Ramadhan harus menjadi sarana peningkatan interaksi dengan Al-Qur'an. Ibnu 'Abbas radhiallahu'anhuma berkata,

"Jibril menemuinya (Nabi Muhammad SAW) pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya." (HR. Al-Bukhari No. 3220)

Namun, bagaimana dengan Al-Qur'an? Pertama, denagn membacanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan Alif-Lam-Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." (HR. Tirmidzi)

Kedua, memahaminya. Memahami Al-Qur'an adalah sebuah keniscayaan karena ia adalah kitab petunjuk kehidupan bagi orang-orang yang beriman,

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ ۝٩

"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar." (QS Al-Isra: 9)

Ketiga, melaksanakannya. Riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata,

“Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi SAW bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah SAW sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka kami mengerti ilmu dan amal.’” (HR. Ahmad)

Keempat, menghafalnya. Dari Abdullah bin 'Amr, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti: 'Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).'" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

2. Ramadhan Bulan Pengajaran Al-Qur’an

Allah SWT berfirman,

وَمِنْهُمْ اُمِّيُّوْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ الْكِتٰبَ اِلَّآ اَمَانِيَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ ۝٧٨

"Di antara mereka ada yang umi (buta huruf), tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga." (QS Al-Baqarah: 78)

Ayat ini berbicara tentang orang-orang Yahudi. Diceritakan bahwa di antara mereka terdapat orang-orang awam yang mengikuti saja kemauan pendeta-pendeta yang memutar balikkan isi Taurat.

Orang-orang awam ini buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Mereka hanya dapat menghafal kitab Taurat tetapi tidak dapat memahami makna dan kandungan isinya. Sehingga perbuatannya pun tidak mencerminkan apa yang dimaksud oleh isi Taurat itu.

Mereka hanya mendasarkan sesuatu kepada sangkaan saja, tidak sampai kepada tingkat keyakinan yang berdasarkan keterangan-keterangan yang pasti yang tidak ada keraguan lagi.

Di bulan Ramadhan ini kita hendaknya bercermin di hadapan ayat ini. Jangan-jangan apa yang terjadi kepada orang-orang Yahudi dahulu kala, telah terjadi pula kepada kaum muslimin di masa kini. Naudzubillahi min dzalik.

Pentingnya Memahami al-Qur'an

Dengan memahami Al-Qur'an kita akan ter-shibghah (tercelup) menjadi insan bertakwa.

صِبْغَةَ اللّٰهِۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةًۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ ۝١٣٨

"(Peliharalah) sibgah Allah. Siapa yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Hanya kepada-Nya kami menyembah." (QS Al-Baqarah: 138)

Bagaimanakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam men- shibghah para sahabatnya dengan al-Qur'an? Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

"Kami dulu belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, kami tidak mengetahui sepuluh ayat yang sesudahnya sehingga kami mempelajari pengamalan apa yang diturunkan dalam sepuluh ayat ini." (Ath-Thahawi w. 321H/ 933M, Musykilul Atsar, juz 3 halaman 478).

Lemahnya Pemahaman membuat manusia jadi ingkar pada kitab Allah

Rendahnya pemahaman terhadap Al-Qur'an dapat menyebabkan umat ini lambat laun akan terjangkiti 'penyakit Yahudi' lainnya, yaitu sikap ingkar dan durhaka kepada perintah-perintah Allah Ta'ala sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 63 dan 93. Allah Ta'ala berfirman,

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاذْكُرُوْا مَا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۝٦٣

"(Ingatlah) ketika Kami mengambil janjimu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), "Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa."" (QS. Al-Baqarah:93)

Terseret pada kekafiran

Jika gejala penyakit lemahnya pemahaman ini dibiarkan, bukan tidak mungkin umat pada akhirnya akan terjatuh pada kekufuran dan pelecehan terhadap agama Allah. Mereka akan menolak hukum-hukum-Nya. Merendahkan aturan-aturan-Nya. Melanggar perintah dan batas-batas yang telah ditentukan oleh-Nya. Bahkan mendustakan sama sekali firman-Nya sebagaimana orang-orang jahiliyah di masa lalu.

اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ ۝١٣

"Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, "(Itu adalah) dongeng orang-orang dahulu."" (QS Al-Muthafifin: 13)

Jadi, mari kita jadikan momentum bulan suci Ramadhan ini sebagai bulan pengajaran Al-Qur'an. Bulan penyadaran pentingnya memahami Al-Qur'an. Agar kemudian Allah Ta'ala menghindarkan umat ini dari kesesatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang apabila kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, (dua perkara itu adalah) kitab Allah dan sunnah rasul-Nya." (HR. Malik dan Hakim)

Di tengah arus informasi yang semakin cepat dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, Ramadan menjadi momen untuk refleksi diri dan kembali pada nilai empati serta kepedulian. Sepanjang bulan suci ini, kumparan hadir dengan beragam program, liputan langsung, dan informasi relevan seputar Ramadan.

Cek informasi selengkapnya di kum.pr/ramadan2026

Baca Juga: Lupa Membaca Niat, Apakah Puasa Ramadhan Tetap Sah? Ini Penjelasannya

(NSF)