Konten dari Pengguna

Mengapa Pengurangan Sampah Makanan Penting dalam Konteks Perubahan Iklim?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengapa pengurangan sampah makanan penting dalam konteks perubahan iklim. Foto: Jas Min/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengapa pengurangan sampah makanan penting dalam konteks perubahan iklim. Foto: Jas Min/Unsplash

Membuang makanan yang masih layak konsumsi sering dianggap sebagai hal sepele. Mengutip laman Sourced The FreshDirect Blog, sekitar sepertiga dari seluruh makanan yang diproduksi di dunia justru berakhir menjadi sampah.

Jumlah limbah makanan tersebut bahkan mencapai sekitar 1,3 miliar ton setiap tahun. Masalahnya, kondisi ini tidak hanya menjadi pemborosan sumber daya seperti air, lahan, dan energi, tapi juga memperparah perubahan iklim.

Karena itu, pengurangan sampah makanan semakin gencar digaungkan sebagai salah satu langkah sederhana untuk membantu menekan dampak perubahan iklim. Pertanyaannya, mengapa pengurangan sampah makanan penting dalam konteks perubahan iklim?

Mengapa Pengurangan Sampah Makanan Penting dalam Konteks Perubahan Iklim?

Ilustrasi mengapa pengurangan sampah makanan penting dalam konteks perubahan iklim. Foto: Joshua Hoehne/Unsplash

Mengutip situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup, isu sampah makanan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk di Indonesia. Setiap makanan yang terbuang tidak hanya menjadi bentuk pemborosan, tetapi juga menghasilkan gas metana saat membusuk di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Gas metana dapat memerangkap panas jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek. Akibatnya, emisi dari sampah makanan pun turut mempercepat perubahan iklim.

Akibatnya, dampak perubahan iklim semakin nyata, mulai dari meningkatnya suhu udara, cuaca yang semakin ekstrem, banjir, kekeringan, hingga terganggunya produksi pangan yang berpotensi mengancam ketahanan pangan.

Karena alasan itu, mengurangi sampah makanan menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang untuk membantu menekan emisi gas rumah kaca. Selain berdampak positif bagi lingkungan, kebiasaan ini juga dapat menghemat pengeluaran rumah tangga karena makanan yang dibeli bisa dimanfaatkan secara lebih optimal.

Baca Juga: Penjelasan Perubahan Iklim Merupakan Hasil Penelitian dan Belum Perlu Direspon

Cara Mengurangi Sampah Makanan

Ilustrasi sampah makanan. Foto: Ignat Kushnarev/Unsplash

Mengurangi sampah makanan sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menyadur laman Solwearth Ecotech Private Limited, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi limbah makanan.

1. Merencanakan Menu Makanan

Merencanakan menu makanan menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah terciptanya sampah makanan. Masyarakat dapat membuat menu mingguan agar lebih mudah menyusun daftar belanja sesuai kebutuhan.

Dengan membeli bahan makanan secukupnya, risiko pembelian impulsif dapat dikurangi. Cara ini juga membantu mencegah bahan makanan terbuang karena tidak sempat diolah atau dikonsumsi.

2. Menyimpan Makanan dengan Benar

Penyimpanan yang tepat dapat memperpanjang masa simpan makanan sekaligus mengurangi risiko pembusukan. Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan:

  • Simpan buah dan sayuran secara terpisah agar tidak cepat matang atau membusuk.

  • Letakkan produk susu, daging, dan bahan makanan yang mudah rusak pada suhu penyimpanan yang sesuai.

  • Gunakan wadah kedap udara untuk menyimpan sisa makanan.

  • Simpan produk susu di bagian kulkas yang paling dingin.

  • Bungkus sayuran hijau menggunakan tisu lembap agar tetap segar lebih lama.

  • Bekukan sisa makanan jika tidak akan segera dikonsumsi.

3. Mengolah Sisa Makanan Menjadi Hidangan Baru

Sisa makanan tidak harus langsung dibuang. Dengan sedikit kreativitas, makanan tersebut dapat diolah kembali menjadi menu baru yang tetap lezat. Misalnya, pisang yang terlalu matang dapat diolah menjadi banana bread.

4. Membuat Kompos

Jika sisa makanan sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi, membuatnya menjadi kompos adalah pilihan yang lebih baik jika dibandingkan membuangnya ke TPA. Melalui proses pengomposan, limbah organik diubah menjadi pupuk alami yang kaya nutrisi bagi tanaman.

Selain mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, pengomposan juga membantu menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik.

(NSF)