Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan Meluas, Ini Beberapa Faktornya!

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang terjadi pada Agustus 2026 kembali menjadi sorotan. Jumlah titik panas (hotspot) melonjak signifikan di beberapa provinsi, yang memicu kabut asap di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Selatan.
Data Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan hotspot dari 123 titik pada 17 Agustus menjadi 518 titik pada 19 Agustus, naik lebih dari empat kali lipat dalam dua hari. Sebenarnya, apa penyebab kebakaran hutan di Kalimantan?
Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan
Ada sejumlah faktor yang ikut memengaruhi cakupan kebakaran hutan di Kalimantan pada musim kemarau tahun ini. Berikut ini beberapa penyebabnya berdasarkan data dari laman Kementerian Kehutanan dan BMKG:
1. El Niño Berintensitas Sangat Kuat
BMKG melalui Deputi Klimatologi Ardhasena Sopaheluwakan menyebut karhutla di Kalimantan dipicu kondisi iklim kering akibat El Niño berintensitas sangat kuat. Indeks Nino 3.4 tercatat mencapai +2,77 pada Agustus 2026, naik dari +2,20 pada Juli 2026.
Fenomena ini berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif sehingga curah hujan berkurang signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia.
2. Musim Kemarau yang Meluas
Berdasarkan update BMKG per 21 Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah, sedangkan 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal. Kondisi ini menyebabkan lahan dan vegetasi rentan terbakar.
3. Karakteristik Lahan Gambut
Lahan gambut adalah salah satu penyebab kenapa kebakaran hutan di Kalimantan begitu sulit ditangani. Sebab, api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa api di permukaan lahan gambut bisa saja sudah tidak terlihat, tetapi asap masih muncul dari bawah akibat bara yang tetap menyala di dalam tanah.
4. Praktik Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar
Aktivitas membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar juga memicu meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Misalnya, di Kalimantan Barat tercatat 11 perkara terkait pembakaran lahan sepanjang 2026.
Kementerian Kehutanan pun meminta masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka atau mengolah lahan dengan cara membakar, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan wilayah kering berkepanjangan.
5. Minimnya Potensi Pertumbuhan Awan Hujan
BMKG mencatat kondisi atmosfer yang cenderung kering dan minimnya pertumbuhan awan dalam beberapa hari ke depan juga meningkatkan risiko karhutla. Kondisi ini menyebabkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sulit dilaksanakan di sejumlah wilayah karena pertumbuhan awan potensial sangat terbatas.
Sementara itu, musim hujan diproyeksikan baru akan dimulai pada pertengahan Oktober, membuat risiko karhutla masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
(FHK)
Baca juga: Berapa Kuota Petugas Haji 2027? Ini Penjelasan Kemenhaj
