Konten dari Pengguna

Strategi Adaptasi yang Relevan Jika Berada di Wilayah Penurunan Muka Air Tanah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Daerah Wallacea. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Daerah Wallacea. Foto: Shutter Stock

Penurunan muka air tanah menjadi salah satu masalah lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Seiring dengan meningkatnya penggunaan air tanah, fenomena ini semakin banyak terjadi di berbagai wilayah, terutama di kawasan perkotaan dan pesisir.

Dikutip dari laman Kementerian ESDM, penurunan muka air tanah dapat menimbulkan berbagai dampak serius, salah satunya adalah berkurangnya ketersediaan air bersih. Akibatnya, air tanah tidak lagi layak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Untuk mengurangi risiko tersebut, warga di wilayah rawan penurunan muka air tanah perlu menerapkan langkah-langkah adaptasi sejak dini. Lantas, strategi adaptasi apa saja yang paling relevan dilakukan? Simak informasinya berikut ini.

Strategi Adaptasi yang Paling Relevan di Wilayah Penurunan Muka Air Tanah

Ilustrasi wilayah pesisir Kota Kupang, NTT. Foto: Yoseph Boli Bataona/Antara

Mengutip jurnal Rencana Adaptasi pada Wilayah Rawan Penurunan Tanah, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat karya Siti Wahyuningtyas Maulidiny dkk., berikut beberapa strategi adaptasi yang bisa dilakukan oleh masyarakat di wilayah rawan penurunan muka air tanah:

1. Menaikkan Ketinggian Dasar Bangunan

Ketika air tanah diambil secara berlebihan, lapisan tanah di bawahnya memadat dan membuat permukaan daratan turun lebih rendah. Kondisi ini menyebabkan air hujan maupun air pasang lebih mudah menggenang.

Salah satu upaya adaptasi yang dapat dilakukan adalah menaikkan ketinggian dasar bangunan. Langkah ini membantu mengurangi risiko banjir, serta melindungi bangunan dari kerusakan akibat masuknya air.

2. Beralih ke Sumber Air Alternatif

Masyarakat disarankan menggunakan air perpipaan (PDAM) sebagai sumber air utama dibandingkan air tanah. Langkah ini dapat membantu mengurangi eksploitasi air tanah, sehingga menghambat laju penurunan muka air tanah.

3. Melakukan Pemeliharaan Lingkungan Secara Berkala

Pemeliharaan lingkungan secara rutin, seperti membersihkan saluran drainase dan merawat kondisi bangunan, juga perlu dilakukan. Upaya ini dapat menjaga fungsi infrastruktur, memperlancar aliran air, serta mengurangi risiko kerusakan yang dapat muncul akibat dampak penurunan muka air tanah.

Strategi Adaptasi Pemerintah

Warga Mengambil Air dari Sumur di Pemukiman Penduduk. Foto: ANTARA FOTO/Risky Andrianto

Selain masyarakat, pemerintah juga perlu mengambil peran penting dalam mengurangi dampak penurunan muka air tanah melalui berbagai kebijakan dan program pengelolaan sumber daya air.

Dikutip dari jurnal Rencana Adaptasi pada Wilayah Rawan Penurunan Tanah, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat karya Siti Wahyuningtyas Maulidiny dkk., beberapa strategi yang dapat dilakukan meliputi:

  • Membatasi pengambilan air tanah melalui pengawasan dan perizinan, terutama di wilayah yang mengalami penurunan muka air tanah.

  • Meningkatkan penyediaan air bersih perpipaan (PAM) agar masyarakat tidak bergantung pada penggunaan air tanah.

  • Membangun dan memperluas daerah resapan air, seperti sumur resapan, biopori, ruang terbuka hijau, dan kawasan konservasi.

  • Melakukan pemantauan muka air tanah secara berkala sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan mitigasi.

  • Menyusun tata ruang yang memperhatikan daya dukung lingkungan, terutama di kawasan yang rentan mengalami penurunan muka air tanah.

  • Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penggunaan air secara bijak dan upaya konservasi air tanah.

  • Memperbaiki sistem drainase dan infrastruktur pendukung untuk mengurangi risiko genangan maupun kerusakan di wilayah terdampak.

Baca Juga: Permukaan Air Tanah di Bandung Turun 60 Persen Tiap Tahun

(ANB)