Konten dari Pengguna

Jakarta ke Bangkok: Mengapa ASEAN Penting untuk Masa Depan Anak Muda Indonesia?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cindy Inesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

a bunch of flags that are lying in the air. Foto: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
a bunch of flags that are lying in the air. Foto: unsplash.com

Pernahkah Anda merasa kata "ASEAN" terdengar sangat jauh dari kehidupan sehari-hari? Kata ini biasanya muncul saat ada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT), ketika pejabat berfoto bersama di atas panggung, atau saat dosen Hubungan Internasional menjelaskan bahwa ASEAN adalah organisasi kawasan ASEAN yang dibentuk tahun 1967. Di luar ruang kelas, jarang sekali anak muda Indonesia berpikir: "Sebenarnya, ASEAN itu berpengaruh apa terhadap hidup saya?" Padahal, tanpa disadari, ASEAN bukan hanya sekadar kumpulan pejabat yang sering mengadakan rapat di Bangkok. ASEAN adalah rumah besar dan menjadi tempat tinggal generasi muda—dari Jakarta, Bangkok, Manila, hingga Hanoi. Masa depan kerja sama ASEAN ini akan sangat ditentukan oleh partisipasi aktif anak muda seperti kita.

Banyak yang lupa bahwa ASEAN tidak hanya tentang pertemuan pejabat yang saling berjabat tangan di depan kamera. Sejak dibentuk pada 1967, organisasi ini memang lahir untuk menciptakan stabilitas di kawasan Asia Tenggara yang saat itu rentan konflik. Namun kini, ASEAN berkembang menjadi wadah kerja sama yang jauh lebih luas dan inklusif.

Peneliti Dewi Fortuna Anwar (2022) menyebut bahwa arah ASEAN saat ini adalah membangun people-centered community, yaitu komunitas yang berfokus pada manusia, bukan semata-mata negara. Artinya, ASEAN tidak bisa lagi hanya berbicara dalam bahasa diplomasi formal. Organisasi ini harus mampu berbicara dalam bahasa generasi muda yang akrab dengan TikTok, startup, dan gerakan sosial melalui digital.

Anak muda adalah populasi terbesar di kawasan ini. Jika ASEAN ingin tetap relevan, maka kuncinya ada pada keterlibatan generasi muda. Masa depan kawasan ini tidak hanya dibangun lewat pertemuan antarmenteri, tetapi juga melalui ide dan kolaborasi lintas budaya yang muncul dari ruang-ruang kreatif anak muda.

Bayangkan seorang mahasiswa Indonesia yang mengikuti program pertukaran pelajar ke Thailand melalui ASEAN International Mobility for Students (AIMS). Ia belajar, berdiskusi, dan bertukar pandangan dengan mahasiswa dari Thailand, Malaysia dan Vietnam. Ketika pulang ke Indonesia, ia tidak hanya membawa nilai akademik, tetapi juga cara pandang baru tentang kerja sama antarbangsa.

Cerita lain datang dari komunitas startup ASEAN muda di Bandung yang mendapat dukungan dari ASEAN Startup Network. Mereka berkolaborasi dengan mitra di Singapura untuk mengembangkan aplikasi pendidikan yang bisa diakses siswa di Laos dan Filipina. Dalam konteks teori hubungan internasional, ini disebut track two diplomacy—yaitu diplomasi publik yang dilakukan antarwarga, bukan antarnegara.

Begitulah ASEAN bekerja di balik layar. Tidak selalu dalam bentuk dokumen atau rapat resmi, tetapi melalui interaksi manusia ke manusia. Anak muda di kawasan ini sedang saling menginspirasi dan membangun jembatan tanpa harus menunggu tanda tangan pejabat tinggi.

ASEAN bukan hanya urusan perjanjian atau konferensi tingkat tinggi. ASEAN hidup dalam hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari—di lagu yang kita dengarkan dari Filipina, di teman kuliah yang datang dari Vietnam, di social project yang kita bangun bersama mahasiswa Thailand, dan di ide startup yang melintasi batas negara.

Kita tidak perlu menjadi diplomat untuk berkontribusi pada ASEAN. Cukup menjadi warga yang peduli, terbuka, dan mau berjejaring lintas budaya. Karena jika ASEAN adalah rumah, maka anak muda adalah penghuninya. Rumah ini tidak akan hidup jika kita hanya diam di kamar masing-masing. Ia baru benar-benar terasa sebagai rumah ketika kita mulai berbicara, berdebat, tertawa, dan bekerja bersama di dalamnya.

Program seperti beasiswa ASEAN, pertukaran pelajar, hingga kolaborasi startup adalah bukti nyata bahwa ASEAN memberikan peluang konkret bagi generasi muda. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran dan keberanian untuk memanfaatkan peluang tersebut. Organisasi regional ini bukan sesuatu yang asing atau jauh—ia adalah bagian dari keseharian kita, selama kita mau melihat dan terlibat.

Jadi, ketika Anda mendengar berita "KTT ASEAN di Bangkok", jangan langsung berpikir itu hanya urusan pejabat. Karena sebenarnya, yang sedang mereka bicarakan di sana adalah masa depan kita juga. Dan jika kita mau, masa depan itu bisa kita bentuk sendiri mulai dari sekarang. ASEAN adalah milik kita semua, dan generasi muda memiliki peran besar dalam menentukan arah ke depannya.