Konten dari Pengguna

Panduan Budi Daya Talas Belitung: Strategi Hasilkan Umbi Maksimal

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tanaman talas belitung. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanaman talas belitung. Foto: Pixabay

Talas belitung merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang banyak dibudidayakan di Indonesia, khususnya di wilayah tropis seperti Bogor. Tanaman ini masuk kategori tanaman pangan karena berperan sebagai sumber karbohidrat alternatif yang dapat tumbuh sepanjang tahun dari dataran rendah hingga tinggi. Selain mudah dibudidayakan, talas belitung memiliki daya adaptasi lingkungan yang sangat baik tanpa memerlukan syarat tumbuh yang khusus.

Mengenal Talas Belitung

Menurut Reynatha Syafira Rizkiya dan Fitrianingrum Kurniawati dalam Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 2 No. 5 berjudul Teknik Budi Daya Dan Karakteristik Talas Belitung (Xanthosoma sagittifolium) di RW 01 Kelurahan Situ Gede, tanaman ini menjadi komoditas utama di wilayah Situ Gede karena dinilai lebih menguntungkan dibandingkan talas bogor.

Sekilas Tentang Talas Belitung

Memiliki nama latin Xanthosoma sagittifolium, talas ini dikenal memiliki ukuran umbi yang relatif lebih besar dan tekstur yang lebih berlendir dibandingkan talas bogor (Colocasia esculenta L.). Keunggulan utamanya terletak pada ketahanannya terhadap serangan patogen selama proses budi daya. Hasil umbinya pun sangat besar, bahkan perbesarannya dapat mencapai ukuran betis manusia dewasa.

Morfologi Talas Belitung

Berdasarkan pengamatan di lapangan, karakteristik morfologi talas belitung sangat spesifik dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan serta teknik perawatan.

  • Ciri-Ciri Daun dan Batang: Daun talas belitung memiliki posisi tegak (erect-apex up), tepi daun yang rata (entire), dan berwarna hijau.

  • Ciri Umbi dan Sistem Akar: Berdasarkan data karakteristik hasil panen, umbi atau kormusnya berbentuk silindris dengan warna daging putih. Produk utama dari tanaman ini adalah kormusnya yang memiliki cabang 1 cabang.

  • Karakteristik Pertumbuhan: Pertumbuhan optimal tercapai pada suhu 21 - 27 derajat celcius dengan penyinaran matahari terbuka selama 11 jam per hari.

Teknik Budi Daya Talas Belitung

Budi daya yang tepat sangat menentukan kualitas hasil akhir. Di Situ Gede, teknik yang diterapkan sudah mengacu pada standar literatur dan praktik petani yang terintegrasi.

Syarat Tumbuh dan Persiapan Lahan

Tanaman ini tumbuh maksimal pada ketinggian 250–1300 mdpl dengan curah hujan sekitar 1000 mm/tahun. Persiapan lahan dilakukan dengan membuat bedengan setinggi 50 cm, lebar 1 meter, dan pembersihan gulma menggunakan penyemprotan rumput.

Tahapan Penanaman

Penanaman menggunakan bahan tanam berupa anakan umbi (perbanyakan vegetatif). Jarak tanam yang umum digunakan adalah 1 m x 30 cm atau 1 m x 50 cm per tanaman. Jarak tanam yang lebih jarang akan menghasilkan bobot umbi yang lebih besar.

Pemeliharaan dan Panen

Pemeliharaan meliputi pembumbunan untuk memaksimalkan pertumbuhan umbi, pemangkasan daun dapat menyisakan 4 daun utama, serta pembuangan anakan agar nutrisi terfokus pada kormus utama. Panen dilakukan saat tanaman berumur 7 hingga 9 bulan.

Potensi dan Manfaat Talas Belitung

Manfaat Ekonomi dan Gizi

Talas belitung kini mulai menggantikan talas bogor sebagai bahan dasar utama berbagai makanan olahan khas Bogor. Secara ekonomi, produktivitasnya tinggi; sebagai contoh, lahan seluas 939m^2 mampu menghasilkan hingga 2000 batang talas.

Peluang Pengembangan

Peluang pengembangan sangat terbuka melalui sistem pertanian terintegrasi. Di Situ Gede, pelepah talas digunakan untuk pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah kembali menjadi pupuk kandang untuk tanaman talas.

Kesimpulan

Talas belitung merupakan tanaman pangan strategis dengan teknik budi daya yang telah terstandarisasi. Melalui penerapan SOP yang tepat, mulai dari pengaturan jarak tanam, pemupukan organik, hingga pembuangan anakan, petani dapat menghasilkan umbi berkualitas tinggi dengan nilai ekonomi yang menjanjikan.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi