Tujuh Pria, Tujuh Jam, dan Satu Korban yang Dipaksa Melanjutkan Hidup

Mahasiswa hubungan internasional universitas Sriwijaya yang tertarik dengan isu keamanan , kesetaraan gender dan diplomasi antara negara
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dwi nurila aksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah esai bisa selesai dalam beberapa halaman. Lalu bagaimana dengan trauma yang harus dibawa seumur hidup? Pelaku diminta menulis dan merefleksikan perbuatan mereka, seolah sebuah tulisan dapat menjadi titik akhir dari sebuah kekerasan. Padahal, di balik tulisan itu ada seorang korban yang tidak pernah mendapatkan pilihan untuk mengakhiri semuanya ketika peristiwa tersebut selesai. Ia harus terus hidup dengan rasa tidak nyaman, kehilangan arah, keraguan terhadap dirinya sendiri, bahkan perasaan bahwa dirinya tidak lagi utuh. Di sinilah letak persoalannya: ketika pelaku diberi ruang untuk belajar dari apa yang mereka lakukan, korban justru harus belajar bagaimana hidup kembali setelah sesuatu dalam dirinya direnggut.
Kasus Jane Doe bukan hanya tentang tujuh orang laki-laki dan sebuah kekerasan yang berlangsung selama tujuh jam. Kasus ini juga tentang apa yang terjadi setelahnya, tentang bagaimana seseorang yang menjadi korban harus kembali menjalani kehidupan sementara pengalaman tersebut tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ketika penyelesaian bagi pelaku salah satunya berupa penulisan esai, wajar jika muncul pertanyaan apakah bentuk pertanggungjawaban tersebut mampu menggambarkan besarnya dampak yang harus ditanggung korban. Sebab bagi pelaku, setidaknya ada sebuah proses untuk menyadari kesalahan, meskipun kita tidak pernah tahu apakah kesadaran itu benar-benar tumbuh dari dalam diri atau sekadar muncul karena diwajibkan. Sementara bagi korban, tidak ada kewajiban yang bisa diselesaikan untuk membuat semuanya kembali seperti semula.
Kekerasan seksual dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Tubuh yang sebelumnya terasa aman dan sepenuhnya miliknya dapat menjadi sumber ketidaknyamanan. Rasa percaya kepada orang lain bisa berubah menjadi keraguan. Hal-hal yang bagi orang lain terlihat sederhana, seperti berada di suatu tempat, bertemu seseorang, atau sekadar menjalani aktivitas sehari-hari, mungkin tidak lagi terasa sama. Yang paling berat adalah ketika korban mulai melihat dirinya sebagai seseorang yang tidak lagi utuh. Bukan karena ada sesuatu yang salah dengan dirinya, tetapi karena adanya core memory yang terus menghantuinya dan membuatnya kehilangan sebagian rasa aman serta kendali atas dirinya sendiri.
Persoalan hukuman berupa esai tidak seharusnya hanya dibicarakan dari sisi apakah hukuman tersebut ringan atau berat. Persoalannya adalah apakah penyelesaian tersebut benar-benar menempatkan korban sebagai bagian penting dari keadilan. Menulis tentang kesalahan tentu bisa menjadi proses refleksi. Tetapi refleksi pelaku tidak boleh menjadi pengganti dari pemulihan korban. Sebuah tulisan dapat menunjukkan bahwa seseorang memahami perbuatannya, tetapi tidak dapat mengembalikan rasa aman yang telah hilang dari orang lain.
Lebih dari itu, kasus ini membawa kita kembali pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan: persetujuan. Kita bahkan tidak membutuhkan pemahaman yang rumit untuk mengetahui bahwa ketika seseorang mengatakan “tidak”, maka kita harus berhenti. Bahkan seekor binatang pun dapat belajar ketika diberi tanda untuk berhenti. Lalu bagaimana tujuh orang laki-laki dewasa bisa tidak memahami ketika seseorang mengatakan tidak? “Tidak” bukan ajakan untuk membujuk, bukan tanda bahwa seseorang sebenarnya menginginkan tetapi sedang berpura-pura menolak, dan bukan pula sesuatu yang dapat diabaikan. Ketika seseorang mengatakan tidak, batasnya sudah jelas.
Jumlah pelaku dalam kasus ini menjadi sesuatu yang semakin sulit diterima. Ketika satu orang mengatakan tidak dan tujuh orang tetap melanjutkan, persoalannya bukan lagi sekadar tentang apakah mereka memahami arti sebuah kata. Persoalannya adalah keputusan untuk mengabaikan batas yang sudah dinyatakan dengan jelas. Ada seseorang yang sudah menolak, tetapi penolakannya tidak dihormati. Dan setelah semuanya berakhir, justru orang yang penolakannya diabaikan tersebut yang harus membawa dampaknya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Berbicara tentang keadilan tidak cukup hanya dengan bertanya apakah pelaku sudah dihukum. Kita juga harus bertanya apakah korban mendapatkan ruang yang cukup untuk pulih. Apakah ia mendapatkan pendampingan yang layak? Apakah rasa aman dan martabatnya benar-benar dipulihkan? Atau kita hanya merasa persoalannya sudah selesai karena pelaku telah menerima hukuman?
Sebab menghukum pelaku dan memulihkan korban adalah dua hal yang berbeda. Esai mungkin dapat menjadi bagian dari pertanggungjawaban, tetapi tidak dapat menghapus tujuh jam yang telah dialami korban. Tidak dapat mengembalikan rasa aman dalam satu malam. Tidak dapat membuat seseorang kembali menjadi dirinya yang dulu hanya dengan beberapa halaman tulisan.
Pada akhirnya, yang seharusnya kita tanyakan bukan hanya bagaimana tujuh orang laki-laki bisa melakukan kekerasan terhadap satu korban, tetapi mengapa setelah semuanya terjadi, korban masih harus menjadi pihak yang paling banyak belajar untuk bertahan. Pelaku dapat menulis tentang kesalahan mereka. Korban harus menjalani sisa hidup dengan dampak dari kesalahan tersebut. Dan keduanya jelas bukan beban yang sama.
