Krisis Empati Sosial di Kalangan Gen Z

Siswi SMA Santa Ursula Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Emlyn Gerrardia Baskara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi, empati terhadap sesama justru kian menipis. Kolom komentar, obrolan grup, dan percakapan sehari-hari anak muda semakin sering diwarnai sikap acuh: persoalan orang lain dianggap bukan urusan sendiri. Kecenderungan individualistis ini menguat di kalangan Gen Z. Laporan Digital Civility Index (DCI) Microsoft 2020 bahkan menempatkan tingkat kesopanan warganet Indonesia di posisi terbawah se-Asia Tenggara. Temuan itu menjadi cermin yang tidak nyaman. Kita memang terhubung dengan banyak orang setiap saat, tetapi keterhubungan itu tidak otomatis melahirkan kepedulian. Jika dibiarkan, empati akan terus terkikis, dan yang tersisa adalah masyarakat yang ramai bersuara tetapi miskin rasa.
Media sosial ikut mempercepat proses itu. Linimasa menyandingkan tragedi, perdebatan, dan kesedihan orang lain dengan video-video lucu. Semuanya menjadi konten yang dilihat sekilas, dikomentari, lalu ditinggalkan. Algoritma tidak membedakan mana yang pantas dihibur dan mana yang pantas ditangisi. Ia hanya menyajikan apa yang paling mungkin ditonton. Kepekaan kita pun perlahan tumpul oleh kebiasaan berpindah dari satu unggahan ke unggahan lain dalam hitungan detik. Banyak pengguna lebih tertarik melontarkan komentar spontan daripada memahami persoalan secara utuh. Tidak jarang, penderitaan seseorang dijadikan bahan lelucon atau perdebatan demi perhatian. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, masyarakat akan menganggap penderitaan orang lain sebagai hal biasa. Padahal, setiap unggahan berkaitan dengan kehidupan nyata seseorang yang punya perasaan dan layak dihargai.
Kasus siswi SMA yang mengakhiri hidupnya belum lama ini menunjukkan hal tersebut. Peristiwa yang seharusnya mengundang duka dan refleksi justru ramai diperbincangkan, dijadikan bahan spekulasi, dan dikomentari tanpa kepekaan. Di balik layar, ada keluarga, teman, dan lingkungan yang kehilangan. Ketika penderitaan diperlakukan sebagai tontonan, kita lupa bahwa yang kita baca adalah kehidupan nyata. Spekulasi tentang alasan seseorang mengakhiri hidup tidak hanya melukai keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga membuat mereka yang sedang berjuang dalam diam semakin enggan bercerita atau meminta pertolongan.
Persoalan lain tampak pada cara kita memaknai kepedulian itu sendiri. Dalam sebuah video di YouTube, Maudy Ayunda membahas cara menjaga kewarasan di tengah derasnya kabar buruk, salah satunya dengan membatasi konsumsi berita negatif. Menjaga kesehatan mental memang penting, dan saran tersebut patut dihargai. Namun, bagi warga yang sesak napas akibat kebakaran hutan atau keluarga siswa yang menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG), berita bukan sekadar tulisan yang bisa dihindari, melainkan kenyataan yang dihadapi langsung. Ajakan menjauhi berita bisa terkesan mengabaikan penderitaan mereka, sebab hanya orang yang punya privilese yang sanggup memilih untuk tidak melihat. Empati bukan berarti menenggelamkan diri dalam kabar buruk, tetapi juga bukan menutup mata darinya. Kuncinya ada pada keseimbangan: tetap tahu, tetap peduli, dan tetap menjaga diri.
Krisis ini tidak hanya terjadi di layar. Di Surabaya, seorang anak difabel berusia 10 tahun meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan oleh tetangganya, tepat di depan rumahnya sendiri. Tempat yang semestinya paling aman justru menjadi tempat ia terluka. Kematiannya seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua, bukan sekadar berita yang numpang lewat. Perundungan bukan candaan, dan sikap merendahkan serta menyakiti orang lain, jika dibiarkan, dapat berujung pada akibat yang fatal. Perundungan jarang tumbuh tanpa penonton yang memilih diam.
Tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak individu. Sekolah, keluarga, dan platform digital juga punya peran. Sekolah dapat menjadikan literasi digital dan pendidikan karakter bagian dari keseharian, bukan sekadar materi yang dihafal menjelang ujian. Orang tua dapat membiasakan percakapan terbuka agar anak merasa aman bercerita tanpa takut disalahkan. Sementara itu, platform media sosial perlu lebih serius menyaring konten yang merundung dan memanfaatkan duka orang lain, bukan hanya mengejar waktu tonton.
Empati memang tidak bisa dipaksakan, tetapi bisa dilatih. Latihannya dimulai dari hal-hal kecil dan dari diri sendiri. Berpikirlah sejenak sebelum mengetik komentar, lalu tanyakan apakah kata-kata itu membantu atau justru melukai. Dengarkan teman yang bercerita tanpa buru-buru menghakimi. Beranilah menegur perundungan sekecil apa pun, alih-alih menjadi penonton yang diam atau sekadar merekam. Dan jika kita sendiri sedang merasa tidak sanggup, bercerita kepada orang yang dipercaya atau tenaga profesional bukanlah kelemahan, melainkan langkah yang berani. Teknologi secanggih apapun tidak ada gunanya kalau kita kehilangan rasa kemanusiaan. Karena di balik setiap layar HP, selalu ada manusia yang punya perasaan.
